PONTIANAK POST – Di antara ratusan artefak dan lukisan yang menghiasi ruang-ruang Museum Kota Wina atau Wien Stadt Museum, terdapat satu lukisan yang meninggalkan kesan berbeda. Bukan potret raja Austria, bukan pula bangsawan Dinasti Habsburg, melainkan sosok seorang panglima perang Ottoman bernama Kara Mustafa Pasha.
Bagi sebagian pengunjung, lukisan itu mungkin hanya salah satu koleksi sejarah. Namun bagi peneliti dan ahli sejarah Kalimantan Barat, Syafaruddin Daeng Usman, lukisan tersebut menyimpan aura yang sulit dilupakan sekaligus membuka lembaran sejarah besar yang pernah mengguncang Eropa.
Museum yang Remang dan Sarat Nuansa Mistis
Baca Juga: AHY Beri Bantuan Warga Tionghoa dari hasil lelang lukisan 'Kuda Api' karya SBY
Dalam catatannya, Syafaruddin mengisahkan pengalamannya saat mengunjungi Wien Stadt Museum di Austria belum lama ini.
Museum yang terletak di belakang Gereja St. Charles itu memiliki karakter berbeda dibanding museum-museum terkenal lainnya di Wina seperti Hofburg, Schönbrunn, maupun Kunsthistorisches Museum.
Alih-alih menampilkan kemegahan arsitektur klasik bergaya Rococo, Museum Wina justru tampil modern. Namun suasana di dalamnya tetap menghadirkan kesan khas museum Eropa: remang-remang, sunyi, dan sarat nuansa sejarah.
Baca Juga: Pemkot Pontianak Dorong Pembangunan Museum Kota untuk Lestarikan Sejarah dan Nilai Perjuangan
"Lampu-lampu redup membuat wajah-wajah dalam lukisan seakan hidup. Patung-patung manusia berusia ratusan tahun tampak bergerak ketika cahaya berkelebat," tulis Syafaruddin.
Suasana tersebut semakin terasa ketika ia menjelajahi lantai dua museum seorang diri. Di lantai inilah sejarah Wina pada periode 800 hingga 1900 Masehi direkam melalui berbagai benda bersejarah, maket kota, lukisan kerajaan, hingga artefak perang.
Bertemu Sosok Asing di Tengah Tokoh-Tokoh Austria
Di antara banyak lukisan yang didominasi tokoh Kerajaan Austria, perhatian Syafaruddin tertuju pada sosok pria tua berjenggot lebat yang mengenakan serban khas Timur dan kaftan merah mewah.
Berbeda dari lukisan para raja dan panglima perang yang biasanya digambarkan gagah dan penuh wibawa, pria dalam lukisan itu justru terlihat tua, letih, dan penuh kesedihan.
Tatapannya nanar. Wajahnya menyiratkan kegagalan besar dalam hidup.Rasa penasaran pun muncul.Siapa sebenarnya tokoh yang dipajang di antara para penguasa Austria tersebut?
Baca Juga: Lukisan SBY ‘Kuda Api’ Terjual Seharga Rp 6,5 Miliar, Agus Yudhoyono Tegaskan Dana untuk Kemanusiaan
Kara Mustafa Pasha dan Pengepungan Wina 1683
Belakangan Syafaruddin mengetahui sosok dalam lukisan itu adalah Kara Mustafa Pasha, panglima besar Dinasti Ottoman yang memimpin pasukan Turki dalam pengepungan Kota Wina pada tahun 1683.
Bagi masyarakat Eropa, nama Kara Mustafa Pasha memiliki makna historis yang sangat kuat. Ia dikenal sebagai komandan yang membawa pasukan Ottoman hingga ke gerbang Wina dalam salah satu operasi militer terbesar dalam sejarah Eropa.
Baca Juga: Mengungkap Fakta Hari Lahir Pancasila dan Jejak Sejarahnya
Kala itu, Kekaisaran Ottoman berada pada puncak kejayaannya dan berupaya memperluas pengaruh hingga ke jantung Benua Eropa.
Namun sejarah berjalan berbeda.Pasukan Ottoman yang mengepung Wina akhirnya dipukul mundur oleh koalisi pasukan Eropa yang datang dari kawasan Kahlenberg. Kekalahan tersebut menjadi titik balik penting yang menghentikan ekspansi Ottoman ke Eropa Tengah.
Lukisan yang Menyimpan Narasi Kekalahan
Baca Juga: Dari Budi Utomo hingga Indonesia Modern, Ini Sejarah Harkitnas
Di sudut atas lukisan terdapat tulisan berbahasa Jerman kuno yang memuat sejumlah kata seperti Grand Vizier, Belagert, Verlusst, dan Morden.
Menurut Syafaruddin, kata-kata tersebut mengandung makna yang berkaitan dengan pengepungan, kehancuran, dan korban jiwa akibat perang. Melalui lukisan itu, masyarakat Austria tampaknya ingin mengabadikan sosok yang dianggap bertanggung jawab atas salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah kota mereka.
"Lukisan itu seperti tidak sekadar menampilkan seorang tokoh, tetapi juga sebuah pesan sejarah tentang perang, ambisi, dan kekalahan," tulisnya.
Baca Juga: Sejarah Kebebasan Pers Indonesia, Dari Sensor Hingga Era Reformasi
Dari Ambisi Menaklukkan Eropa hingga Menjadi Kenangan
Kara Mustafa Pasha datang ke Wina dengan ambisi besar. Sebagai Grand Vizier atau pejabat tertinggi Ottoman setelah sultan, ia memimpin ribuan pasukan untuk menaklukkan kota yang menjadi simbol kekuatan Eropa.
Namun yang tersisa kini hanyalah sebuah lukisan tua di sudut museum.Tatapan nanar dalam lukisan tersebut seakan menjadi simbol bahwa kejayaan sebesar apa pun dapat runtuh oleh waktu.
Syafaruddin menilai pengalaman melihat langsung lukisan itu memberi pelajaran penting tentang sejarah dan kemanusiaan.
Baca Juga: Dari Kota Pengrajin Kulit Menjadi Ibukota Parfum Dunia, Ini Sejarah Grasse
Di balik kisah para penakluk dan peperangan besar, tersimpan kenyataan perang sering kali meninggalkan kehancuran lebih banyak daripada kemenangan.
Jejak Sejarah yang Masih Hidup
Bagi pengunjung Museum Wina, lukisan Kara Mustafa Pasha mungkin hanya salah satu koleksi bersejarah. Namun bagi mereka yang memahami konteksnya, lukisan tersebut adalah jendela menuju peristiwa besar yang mengubah arah sejarah Eropa.
Baca Juga: Sejarah Ka’bah di Makkah dan Peran Lima Gunung Pilihan
Di ruang yang remang-remang, di antara patung dan lukisan berusia ratusan tahun, sosok Kara Mustafa Pasha tetap "hidup" dalam ingatan sejarah. Ia menjadi pengingat tentang ambisi, kekuasaan, kekalahan, dan bagaimana sebuah peristiwa pada tahun 1683 masih dikenang hingga hari ini.
Editor : Silvina