PONTIANAK POST – Hari Raya Iduladha selalu mengingatkan umat Islam pada kisah agung Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan putranya, Nabi Ismail ‘Alaihissalam. Peristiwa yang menjadi asal-usul ibadah kurban itu ternyata memiliki jejak lokasi yang hingga kini masih dapat ditemukan di Tanah Suci.
Tidak banyak jamaah yang mengetahui bahwa tempat Nabi Ismail ‘Alaihissalam akan disembelih oleh ayahnya berada di kawasan Mina, Makkah. Kini lokasi itu ditandai dengan sebuah tugu putih yang menjadi simbol peristiwa bersejarah tersebut.
Berada di Bukit Mina, Sekitar 6 Kilometer dari Ka'bah
Baca Juga: Ismail atau Ishaq? Ini Fakta Perdebatan Anak Nabi Ibrahim dalam Kisah Kurban dan Jawaban Gus Dur
Melansir MuslimahDaily yang mengutip penjelasan Ustaz Rafiq Zauhari, Lc., MA, lokasi penyembelihan Nabi Ismail berada di atas bukit kawasan Mina, salah satu tempat penting dalam rangkaian ibadah haji.
Lokasi tersebut berada sekitar 6 kilometer dari Ka'bah dan tepat berada di bawah stasiun kereta api Mina yang saat ini digunakan untuk mendukung mobilitas jamaah haji.
Untuk menandai tempat bersejarah itu, pemerintah setempat membangun sebuah tugu berwarna putih. Tugu tersebut menjadi pengingat peristiwa besar yang menjadi salah satu simbol ketakwaan paling monumental dalam sejarah Islam.
Tugu Putih yang Menyimpan Kisah Pengorbanan
Keberadaan tugu putih di Mina bukan sekadar penanda lokasi geografis. Monumen tersebut dibuat agar jamaah haji dapat mengenang peristiwa ketika Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam menerima perintah Allah Subhanahuwata’ala untuk menyembelih putranya sendiri.
Perintah tersebut datang melalui mimpi yang berulang dan menjadi ujian keimanan yang sangat berat bagi Nabi Ibrahim.
Sebagai seorang nabi yang taat, Ibrahim ‘Alaihissalam tidak menunda ataupun membantah perintah tersebut. Bahkan Nabi Ismail ‘Alaihissalam yang saat itu masih muda juga menerima keputusan tersebut dengan penuh kepasrahan kepada Allah Subhanahuwata’ala.
Kini Menjadi Salah Satu Titik Bersejarah di Tanah Suci
Mina sendiri dikenal sebagai salah satu lokasi paling penting dalam ibadah haji. Selain menjadi tempat mabit (bermalam) jamaah, kawasan ini juga menjadi lokasi pelemparan jumrah yang dilakukan setiap musim haji.
Baca Juga: Cerita Inspiratif Jamaah Haji 2026, Ada yang Daftar Sejak Usia Satu Tahun
Di tengah berbagai pembangunan modern, keberadaan tugu putih yang menandai lokasi penyembelihan Nabi Ismail menjadi penghubung antara sejarah ribuan tahun lalu dengan jutaan umat Islam yang datang setiap tahun.
Banyak jamaah yang melewati kawasan tersebut tanpa menyadari bahwa di tempat itulah salah satu ujian keimanan terbesar dalam sejarah manusia pernah terjadi.
Pelajaran Besar dari Sebuah Lokasi Bersejarah
Baca Juga: Rukun Haji Lengkap dengan Dalil, Jamaah Wajib Memahami Sebelum Beribadah
Lebih dari sekadar tempat bersejarah, lokasi penyembelihan Nabi Ismail mengajarkan makna ketundukan total kepada Allah Subhanahuwata’ala.
Dari peristiwa di bukit Mina itu lahir syariat kurban yang hingga kini dijalankan umat Islam di seluruh dunia setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Hewan kurban yang disembelih bukan hanya simbol ibadah, tetapi juga pengingat tentang keikhlasan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam menaati perintah Allah.
Karena itu, bagi jamaah yang berkesempatan mengunjungi Mina, tugu putih tersebut bukan hanya sebuah monumen. Ia menjadi saksi bisu kisah pengorbanan, ketakwaan, dan keimanan yang terus hidup dalam hati umat Islam hingga hari ini.
Baca Juga: Hukum Daging Kurban Dijadikan Kornet Kalengan, Ternyata Dibolehkan dengan Syarat Ini
Ujian Keimanan yang Mengubah Sejarah
Kisah tentang kurban ini bermula dari janji Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam untuk selalu menaati perintah Allah Subhanahuwata’ala. Setelah sekian lama menantikan kehadiran seorang anak, Allah justru mengujinya dengan perintah yang sangat berat.
Ketika keduanya telah siap menjalankan perintah itu di kawasan Mina, Allah Subhanahuwata’ala menunjukkan bahwa tujuan perintah tersebut bukanlah pengorbanan seorang anak, melainkan pembuktian keimanan dan ketakwaan.
Allah Subhanahuwata’ala kemudian menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba sebagai tebusan.Peristiwa itu diabadikan dalam Al-Qur'an Surah As-Saffat ayat 107:"Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar."
(QS. As-Saffat: 107)
Editor : Silvina