Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Terungkap, Begini Eksekusi Brutal Jepang di Mandor yang Melenyapkan Generasi Terbaik Kalbar

Silvina • Jumat, 26 Juni 2026 | 13:39 WIB
Ilustrasi aksi brutal Jepang pada peristiwa Teagedi Mandor
Ilustrasi aksi brutal Jepang pada peristiwa Teagedi Mandor

 

PONTIANAK POST – Tragedi Mandor menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Kalimantan Barat. Ribuan tokoh masyarakat, pemimpin adat, pejabat, guru, dokter, wartawan, hingga pengusaha menjadi korban pembantaian yang dilakukan tentara pendudukan Jepang pada masa Perang Dunia II.

Menurut Syafarudin Daeng Usman, peminat kajian sejarah Kalimantan Barat, berbagai kesaksian yang muncul setelah perang menggambarkan proses eksekusi terhadap para tahanan dilakukan secara sangat brutal dan terencana.

Salah satu kesaksian anonim yang dimuat dalam surat kabar berbahasa Belanda, Inggris, dan Tionghoa di Pontianak menjelaskan para tahanan diambil dari penjara setelah lewat tengah malam.

Baca Juga: Mengungkap Luka Sejarah Terbesar Kalimantan Barat Di Balik Tragedi Mandor 1944

Dibawa ke Mandor dengan Kepala Ditutup Karung

Dalam kesaksian tersebut disebutkan, kepala para tahanan ditutup menggunakan karung sebelum digiring ke dalam truk tertutup.

Mereka kemudian dibawa menuju kawasan lapangan terbang yang belum selesai dibangun di sekitar Mandor.

Baca Juga: Tragedi Mandor Ternyata Berawal dari Serangan “Kapal Terbang Sembilan” di Pontianak 1941

Setibanya di lokasi, sebagian korban diduga dikubur hidup-hidup. Sementara korban lainnya dipenggal menggunakan pedang atau samurai, kemudian jasad mereka dimasukkan ke dalam lubang-lubang besar yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Syafarudin menyebutkan, sedikitnya terdapat delapan gelombang eksekusi yang diketahui berlangsung di kawasan Mandor.

Tokeitai Diduga Menjadi Pelaksana Eksekusi

Baca Juga: Perlawanan Dayak di Sanggau Kapuas Disebut Jadi Pemberontakan Nyata sebelum Tragedi Mandor

Selama ini masyarakat Indonesia lebih mengenal nama Kempeitai sebagai polisi militer Jepang yang terkenal kejam.

Namun, menurut Syafarudin, organisasi yang menjalankan operasi di Kalimantan Barat sebenarnya adalah Tokeitai, bukan Kempeitai.

Ia menjelaskan, anggota Tokeitai umumnya merupakan para pemuda desa yang hanya memperoleh pendidikan dan pelatihan terbatas. Kondisi tersebut berbeda dengan Kempeitai yang dikenal sebagai satuan polisi militer profesional Jepang.

Baca Juga: Menyusuri Sejarah dan Keunikan Klenteng Tengah Laut Kubu Raya, Satu-Satunya di Dunia

Diduga karena minimnya pelatihan tersebut, anggota Tokeitai menjalankan perintah pembunuhan tanpa banyak pertimbangan. Metode yang paling sering digunakan adalah memenggal kepala para korban menggunakan pedang atau samurai.

Penangkapan Massal Dimulai Sejak 1943

Mengacu pada pemberitaan Borneo Shimbun, gelombang penangkapan besar dimulai pada Oktober 1943.

Baca Juga: Menyusuri Jejak Perantau Hadramaut Yaman yang Membangun Kerajaan Kubu di Kalbar

Penangkapan kembali meluas pada 24 Januari 1944 di Singkawang setelah seorang warga Tionghoa kedapatan memiliki radio penerima siaran yang dilarang oleh pemerintah militer Jepang.

Peristiwa itu kemudian berkembang menjadi tuduhan adanya jaringan konspirasi yang melibatkan sejumlah pengusaha Tionghoa.

Mereka dituduh hendak membentuk daerah otonom Kalimantan Barat di bawah pengaruh Chungking, meracuni orang-orang Jepang, hingga melakukan sabotase ekonomi dengan menimbun bahan baku.

Baca Juga: Ini Asal-Usul Nama Borneo dan Kalimantan yang Jarang Diketahui

Menurut Syafarudin, tuduhan tersebut diduga menjadi alasan bagi pemerintah pendudukan Jepang untuk melakukan penangkapan besar-besaran. Sekaligus mengalihkan kesalahan atas memburuknya kondisi ekonomi yang sebenarnya dipicu oleh kebijakan mereka sendiri.

Korban Dipaksa Menggali Kuburnya Sendiri

Gelombang pembunuhan berikutnya berlangsung antara Desember 1944 hingga Februari 1945 di sekitar lapangan terbang Pontianak dan kawasan Sungai Durian.

Baca Juga: Dari Disambut hingga Dibenci, Begini Sejarah Jepang di Indonesia

Korban disebut dipaksa menggali lubang kubur mereka sendiri sebelum akhirnya dieksekusi dan dimakamkan secara massal.

Dalam penggeledahan resmi, tentara Jepang hanya menemukan dua pucuk revolver. Namun, di sisi lain aparat pendudukan juga merampas berbagai barang berharga milik warga, seperti uang tunai, emas, perhiasan, dan harta benda lainnya.

Situasi tersebut memicu ketakutan di kalangan masyarakat Tionghoa. Banyak warga memilih meninggalkan kota untuk mengungsi ke pedalaman atau menetap di kebun-kebun karet demi menghindari penangkapan.

Baca Juga: Pejuang Kemerdekaan dari Borneo Barat, Dua Pahlawan Nasional Gigih Melawan Penjajah

Tragedi Mandor Menjadi Pengingat Kelam Sejarah Kalimantan Barat

Pembantaian Mandor tidak hanya merenggut ribuan nyawa, tetapi juga melenyapkan satu generasi terbaik Kalimantan Barat yang terdiri atas para pemimpin daerah, intelektual, tenaga profesional, tokoh agama, hingga pelaku usaha dari berbagai latar belakang etnis.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di Kalimantan Barat sekaligus pengingat penting tentang dampak perang, penyalahgunaan kekuasaan, dan pelanggaran hak asasi manusia yang pernah terjadi di wilayah ini.

.

 

Editor : Silvina
#eksekusi brutal jepang #generasi terbaik kalbar #kelompok tokeitai #penangkapan #Tragedi Mandor