PONTIANAK POST – Makam Juang Mandor di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, bukan sekadar kompleks pemakaman biasa. Tempat ini menjadi saksi bisu salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi di Kalimantan Barat pada masa pendudukan Jepang. Hingga kini, kawasan tersebut masih menyimpan banyak fakta sejarah yang belum diketahui masyarakat luas.
Menurut Syafaruddin Daeng Usman, Peminat Kajian Sejarah Kalbar, makam Juang Mandor memiliki perjalanan sejarah panjan.,Mmulai dari kawasan militer Jepang, penemuan ribuan korban oleh tentara Sekutu, hingga akhirnya menjadi situs sejarah dan lokasi ziarah tahunan.
Dulunya Merupakan Kawasan Militer Jepang
Baca Juga: Forkopimca dan Warga Bersihkan Makam Juang Mandor Jelang Hari Perkabungan Daerah Kalbar
Sebelum dikenal sebagai Makam Juang Mandor, kawasan ini merupakan wilayah militer yang dijaga sangat ketat oleh balatentara Dai Nippon.
Menurut Syafaruddin Daeng Usman, seluruh area dikelilingi pagar kawat berduri dan dijaga pasukan bersenjata. Tidak seorang pun diizinkan memasuki kawasan tersebut tanpa izin militer. Bahkan, masyarakat yang nekat mendekat terancam ditembak di tempat.
Saat itu juga beredar kabar Jepang sedang menyiapkan sebuah lapangan terbang militer di kawasan Mandor. Namun, proyek tersebut tidak pernah selesai karena Jepang lebih dahulu menyerah kepada Sekutu.
Baca Juga: Perlawanan Dayak di Sanggau Kapuas Disebut Jadi Pemberontakan Nyata sebelum Tragedi Mandor
Tentara Australia Menemukan Ribuan Korban
Setelah Jepang menyerah pada 1945, Kalimantan Barat berada di bawah pengawasan tentara Australia sebagai bagian dari Sekutu.
Saat memasuki kawasan Mandor, pasukan Australia mencium bau menyengat dari jarak puluhan meter. Setelah dilakukan penyelidikan, mereka menemukan ribuan jenazah korban yang dibiarkan begitu saja tanpa dimakamkan secara layak.
Baca Juga: Mengungkap Luka Sejarah Terbesar Kalimantan Barat Di Balik Tragedi Mandor 1944
Sebagian jasad bahkan telah rusak akibat dimakan binatang liar. Penemuan inilah yang kemudian membuka fakta mengenai besarnya tragedi kemanusiaan yang terjadi di Mandor.
Sekutu Membangun Kompleks Pemakaman
Melihat kondisi tersebut, tentara Australia memerintahkan penduduk setempat untuk memakamkan seluruh korban secara layak.
Baca Juga: Tragedi Mandor Ternyata Berawal dari Serangan “Kapal Terbang Sembilan” di Pontianak 1941
Lubang pemakaman dibuat dalam ukuran besar, sekitar 15 x 6 meter, dengan jarak antarkompleks sekitar 100 hingga 200 meter.
Pada periode 1946–1949, pihak Sekutu juga membangun bangunan beratap kayu di atas setiap makam massal. Dari kejauhan, bentuknya menyerupai bangsal panjang karena banyaknya korban yang dimakamkan di setiap liang.
Pernah Bernama Ereveld Mandor
Baca Juga: Perlawanan Dayak di Sanggau Kapuas Disebut Jadi Pemberontakan Nyata sebelum Tragedi Mandor
Salah satu fakta menarik yang tidak banyak diketahui masyarakat adalah kompleks pemakaman ini dahulu diberi nama Ereveld Mandor.
Nama tersebut tertulis pada gerbang utama yang dibangun oleh pihak Sekutu sebagai penanda kawasan pemakaman korban perang.
Namun, setelah Sekutu meninggalkan Kalimantan Barat, kawasan tersebut perlahan tidak lagi terawat. Semak belukar tumbuh lebat sehingga menyulitkan masyarakat yang hendak berziarah.
Baca Juga: Terungkap, Begini Eksekusi Brutal Jepang di Mandor yang Melenyapkan Generasi Terbaik Kalbar
Direvitalisasi Pemerintah Daerah
Perhatian terhadap Makam Juang Mandor kembali muncul pada masa Gubernur Kalimantan Barat Kadarusno.
Pada 28 Juni 1973, kawasan makam mulai dibenahi. Tanggal tersebut dipilih bertepatan dengan peringatan tragedi Mandor sehingga sejak saat itu tradisi ziarah tahunan kembali dilaksanakan.
Baca Juga: Fakta Sebelum Peristiwa Mandor (Bag-1): Jepang Tebar Teror di Istana Kadriyah Pontianak
Tiga tahun kemudian, Pemerintah Daerah Kalimantan Barat melakukan pemugaran menyeluruh terhadap kompleks makam sehingga kondisinya menjadi lebih tertata dan layak sebagai situs sejarah.
Menjadi Simbol Pengingat Tragedi Kemanusiaan
Kini, Makam Juang Mandor bukan hanya menjadi tempat peristirahatan para korban, tetapi juga menjadi simbol penting untuk mengenang sejarah kelam yang pernah terjadi di Kalimantan Barat.
Baca Juga: Fakta Sebelum Peristiwa Mandor (Bag-2) : 60 Keluarga Kesultanan Dibawa Pergi, Banyak Tak Kembali
Setiap tahun, masyarakat, keluarga korban, pemerintah daerah, hingga berbagai organisasi menggelar ziarah dan doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada para korban tragedi Mandor.
Belum Pernah Dikunjungi Petinggi Jepang
Menurut catatan Syafaruddin Daeng Usman, sejak Indonesia merdeka hingga kini, Makam Juang Mandor belum pernah menerima kunjungan resmi dari pejabat tinggi Pemerintah Jepang.
Baca Juga: Tragedi Mandor 1944, Saat Ribuan Warga Kalbar Dieksekusi Tanpa Pengadilan Jepang
Meski demikian, mantan Duta Besar Jepang untuk Indonesia Taizo Watanabe pernah datang secara pribadi bersama rombongan untuk berziarah ke Makam Juang Mandor menjelang peringatan 50 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
Keberadaan Makam Juang Mandor kini menjadi salah satu situs sejarah terpenting di Kalimantan Barat. Selain menjadi tempat mengenang ribuan korban tragedi kemanusiaan, kawasan ini juga menjadi pengingat bagi generasi sekarang akan pentingnya menjaga perdamaian dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan.
Editor : Silvina