PONTIANAK POST – Pendudukan Jepang di Kalimantan Barat tidak terjadi dalam waktu singkat. Setelah melancarkan serangan udara ke Pontianak pada akhir 1941, Jepang terus memperluas operasi militernya hingga berhasil menguasai wilayah Kalimantan Barat pada awal 1942.
Dimulai dari pemboman Lapangan Terbang Singkawang II, pendaratan ribuan tentara di Pemangkat, hingga jatuhnya Pontianak tanpa perlawanan berarti, rangkaian peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan Hindia Belanda di wilayah tersebut.
Menurut Syafarudin Daeng Usman, peminat kajian sejarah Kalimantan Barat, keberhasilan Jepang menguasai Kalimantan Barat tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militernya. Tetapi juga karena pertahanan Belanda yang semakin melemah akibat serangan bertubi-tubi.
Lapangan Terbang Singkawang II Dibombardir
Pada 23 Desember 1941, Jepang mengerahkan 24 pesawat tempur untuk membombardir Lapangan Terbang Singkawang II di Sanggau Ledo. Serangan itu menyebabkan landasan pacu mengalami kerusakan sehingga pesawat-pesawat Belanda tidak dapat lepas landas membawa muatan bom untuk menyerang konvoi Jepang.
Situasi tersebut memaksa komando militer Belanda menarik seluruh kekuatan udaranya dari Kalimantan Barat. Sehari kemudian, tepat pada 24 Desember 1941, pesawat-pesawat Belanda diterbangkan menuju Palembang, Sumatera, yang kemudian dijadikan pangkalan udara berikutnya.
Baca Juga: Terungkap, Begini Eksekusi Brutal Jepang di Mandor yang Melenyapkan Generasi Terbaik Kalbar
Penarikan itu menjadi pukulan besar bagi pertahanan Belanda karena praktis mereka kehilangan kekuatan udara di Kalimantan Barat.
Ribuan Tentara Jepang Mendarat di Pemangkat
Sekitar sebulan kemudian, tepatnya pada 22 Januari 1942, Armada Angkatan Laut Dai Nippon (Kaigun) mendarat di perairan utara Kalimantan Barat melalui Tanjung Kodok, Pemangkat. Sedikitnya 3.000 prajurit yang berasal dari Sarawak diterjunkan sebagai bagian dari Pasukan XXIX Jepang.
Baca Juga: Mengungkap Luka Sejarah Terbesar Kalimantan Barat Di Balik Tragedi Mandor 1944
Pendaratan tersebut nyaris tidak mendapat perlawanan karena pasukan Belanda telah tercerai-berai. Meski sempat melakukan pertahanan di kawasan Gunung Pendering, sekitar 45 kilometer di timur Singkawang, upaya itu tidak mampu menghentikan laju pasukan Jepang.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Jepang juga melakukan pendaratan di Ketapang sehingga tekanan terhadap pertahanan Belanda semakin besar.
Belanda Membumihanguskan Sejumlah Wilayah
Baca Juga: Tragedi Mandor Ternyata Berawal dari Serangan “Kapal Terbang Sembilan” di Pontianak 1941
Di tengah kondisi yang semakin terdesak, pemerintah Hindia Belanda menerapkan strategi bumi hangus sebelum meninggalkan sejumlah daerah. Beberapa kota seperti Sambas, Mempawah, dan Ngabang di Kabupaten Landak menjadi sasaran penghancuran agar tidak dapat dimanfaatkan oleh pasukan Jepang.
Namun strategi tersebut tidak mampu membendung laju invasi.Setelah berhasil menguasai Pemangkat dan Singkawang, Jepang membagi pasukannya menjadi dua kelompok besar.
Sebagian bergerak ke arah selatan untuk bergabung dengan pasukan yang lebih dahulu mendarat di muara Sungai Kapuas. Dari jalur inilah Jepang akhirnya berhasil menguasai Kota Pontianak sepenuhnya pada 2 Februari 1942.
Sementara kelompok lainnya bergerak ke arah timur untuk merebut Lapangan Terbang Singkawang II.
Runtuhnya Pertahanan Belanda di Kalimantan Barat
Jatuhnya Lapangan Terbang Singkawang II menjadi pukulan telak bagi Belanda.Dengan dikuasainya pangkalan udara tersebut, seluruh kekuatan udara Hindia Belanda di Kalimantan Barat praktis lumpuh. Bersamaan dengan itu, berakhir pula kekuatan militer dan pemerintahan Belanda di wilayah ini.
Baca Juga: Tragedi Mandor 1944, Saat Ribuan Warga Kalbar Dieksekusi Tanpa Pengadilan Jepang
Pada awal Februari 1942, Pontianak sepenuhnya berada di bawah pendudukan Jepang tanpa perlawanan berarti. Sebelumnya, pasukan KNIL di bawah pimpinan Overste Mars telah mundur menuju Nanga Sokan, Afdeling Sintang, untuk bergabung dengan pasukan KNIL di Banjarmasin.
Mereka sempat merencanakan membangun pertahanan terakhir di kawasan Gunung Kerihun, hulu Sungai Kapuas, bersama Gubernur Borneo, Dr. B.J. Haga, yang telah lebih dahulu menyingkir ke pedalaman.
Namun rencana tersebut gagal terlaksana setelah Jepang berhasil merebut Banjarmasin pada 15 Februari 1942. Seluruh pasukan KNIL akhirnya ditangkap dan dikirim sebagai tawanan ke Kuching Kamp di Sarawak.
Baca Juga: Hari Berkabung Jadi Pengingat Sejarah Kalbar, Wabup Sanggau Ajak Generasi Muda Hargai Jasa Pahlawan
Jembatan Landak Diledakkan Saat Belanda Mundur
Sebagian pasukan Belanda yang masih berada di Pontianak melarikan diri ke arah Ngabang. Namun ketika tiba di wilayah tersebut, mereka mendapati pasukan Jepang telah lebih dahulu menguasainya.
Untuk menghindari pertempuran, pasukan KNIL melanjutkan pelarian menuju Sanggau, Melawi, hingga Sintang.Sebelum meninggalkan Ngabang, Belanda menghancurkan Jembatan Landak yang membentang di atas Sungai Landak menggunakan dinamit.
Ironisnya, jembatan megah tersebut baru diresmikan sekitar enam bulan sebelumnya oleh Gezagghebber van Landak, A.B. Fabber, pada Juli 1941.
Pejabat Hindia Belanda Ditangkap dan Dieksekusi
Kecepatan gerak Pasukan XXIX Jepang dari Sarawak menuju Pontianak membuat sejumlah pejabat tinggi Hindia Belanda tidak sempat menyelamatkan diri.
Di Mempawah, lima pejabat pemerintah berhasil ditangkap.Salah seorang di antaranya, Controleur van Mempawah Jan van Appel, langsung dipenggal oleh tentara Jepang.Empat pejabat lainnya dibawa ke Pontianak sebagai tawanan.
Dua orang di antaranya merupakan pegawai Javasche Bank. Mereka kemudian mengalami nasib yang sama seperti Jan van Appel.Eksekusi dilakukan di hadapan masyarakat di kawasan Pelabuhan Then Seng Hie, di tepi Sungai Kapuas, tidak jauh dari Gedung Jacobson van den Berg.
Sementara itu, Controleur van Pontianak, Dr. A.J. Knibbe, ditahan di kamp militer bekas KMK Belanda dan mengalami penyiksaan berat.
Baca Juga: Dari Disambut hingga Dibenci, Begini Sejarah Jepang di Indonesia
Awal Babak Baru Sejarah Kalimantan Barat
Kejatuhan Pontianak pada awal Februari 1942 menandai berakhirnya pemerintahan Hindia Belanda di Kalimantan Barat sekaligus membuka babak baru di bawah pendudukan militer Jepang.
Menurut Syafarudin Daeng Usman, rangkaian peristiwa mulai dari pemboman Lapangan Terbang Singkawang II, pendaratan pasukan Jepang di Pemangkat, hingga jatuhnya Pontianak menjadi bagian penting dalam sejarah Perang Dunia II di Kalimantan Barat. Pada akhirnya membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat dan arah perjalanan sejarah daerah ini.
Editor : Silvina