PONTIANAK POST – Pohon Soekarno di Padang Arafah bukan hanya menjadi bagian dari sejarah penghijauan di Tanah Suci, tetapi juga terus memberikan manfaat nyata bagi jutaan jamaah haji dari seluruh dunia. Hingga kini, deretan pepohonan yang menghijau di kawasan Arafah menjadi tempat berteduh bagi para jamaah saat menjalani puncak ibadah haji.
Keberadaan pohon-pohon tersebut menjadi salah satu warisan yang dikaitkan dengan gagasan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, ketika mengusulkan penghijauan Padang Arafah pada pertengahan 1950-an. Berkat keberadaan pepohonan itu, kawasan yang dulunya identik dengan hamparan tandus kini memiliki ruang-ruang teduh yang membantu mengurangi sengatan matahari saat musim haji.
Pohon Soekarno Menjadi Tempat Berteduh Jamaah Haji
Baca Juga: Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres Kapuas Hulu Tanam 30 Pohon dan Bersihkan Lingkungan
Padang Arafah merupakan lokasi pelaksanaan wukuf, salah satu rukun utama dalam ibadah haji. Saat musim panas, suhu di kawasan tersebut dapat mencapai lebih dari 40 derajat Celsius sehingga jamaah rentan mengalami kelelahan hingga dehidrasi.
Deretan Pohon Soekarno yang tumbuh rindang memberikan keteduhan bagi jamaah yang beristirahat sebelum maupun sesudah menjalankan rangkaian ibadah. Kehadirannya dinilai membantu menciptakan suasana yang lebih nyaman di tengah cuaca ekstrem khas gurun Arab.
Tak Hanya di Arafah, Kini Tumbuh di Berbagai Kota Arab Saudi
Dilansir dari laman rimbaraya indonesia, manfaat pohon tersebut tidak hanya dirasakan di Padang Arafah. Seiring berjalannya waktu, jenis pohon yang sama juga banyak ditanam di berbagai kota besar di Arab Saudi, seperti Mekkah, Madinah, Jeddah, Riyadh, hingga Thaif.
Pepohonan itu ditanam di sepanjang jalan dan kawasan publik untuk memberikan keteduhan bagi pejalan kaki maupun pengguna jalan. Kehadirannya turut mendukung upaya penghijauan di wilayah yang didominasi iklim kering dan bersuhu tinggi.
Soekarno Juga Berkontribusi pada Fasilitas Jamaah Haji
Baca Juga: Sejarah Air Zamzam yang Tak Pernah Kering, Berawal dari Perjuangan Hajar di Lembah Tandus
Selain dikenal melalui gagasan penghijauan Padang Arafah, Soekarno juga disebut memiliki kontribusi dalam pengembangan fasilitas ibadah haji, khususnya di kawasan sa'i antara Bukit Safa dan Bukit Marwa.
Salah satu usulan yang dikaitkan dengannya adalah pembagian jalur sa'i menjadi tiga lintasan, yaitu jalur dari Bukit Safa menuju Bukit Marwa, jalur sebaliknya dari Bukit Marwa menuju Bukit Safa, serta jalur khusus bagi jamaah lanjut usia dan penyandang disabilitas.
Pembagian jalur tersebut bertujuan memberikan kenyamanan sekaligus mengurangi kepadatan jamaah ketika menjalankan salah satu rangkaian ibadah haji dan umrah.
Baca Juga: Misteri Jabal Magnet di Madinah, Kendaraan Bisa Bergerak Sendiri Tanpa Mesin
Mendapat Penghargaan Kiswah dari Raja Saud
Atas kontribusinya dalam penghijauan serta peningkatan fasilitas bagi jamaah haji, Soekarno disebut memperoleh penghargaan berupa kiswah, yakni kain penutup Ka'bah, dari Raja Saud bin Abdulaziz Al-Saud sebelum kembali ke Indonesia.
Penghargaan tersebut menjadi simbol persahabatan antara Indonesia dan Arab Saudi, sekaligus bentuk apresiasi terhadap gagasan yang memberikan manfaat bagi umat Islam dari berbagai negara.
Baca Juga: Di Sinilah Nabi Ismail Akan Disembelih, Lokasinya Masih Bisa Dilihat Jamaah Haji
Warisan yang Terus Dirasakan Hingga Kini
Lebih dari sekadar deretan pepohonan, Pohon Soekarno menjadi simbol kepedulian terhadap kenyamanan jamaah haji. Pohon-pohon yang dahulu ditanam di kawasan gersang kini terus memberikan manfaat sebagai peneduh bagi jutaan umat Islam yang datang ke Padang Arafah setiap tahun.
Warisan tersebut juga menjadi pengingat bahwa sebuah gagasan sederhana yang lahir dari rasa empati dapat menghadirkan manfaat jangka panjang, bahkan lintas generasi. Pohon Soekarno tidak hanya memperindah kawasan Arafah, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah hubungan erat Indonesia dengan Arab Saudi dalam bidang kemanusiaan, penghijauan, dan pelayanan bagi jamaah haji.
Editor : Silvina