PONTIANAK POST – Di kaki Gunung Sempalit, Kota Singkawang, Kalimantan Barat, berdiri sebuah tempat ibadah yang memiliki nama unik sekaligus mengundang rasa penasaran, yakni Klenteng Surga Neraka. Nama tersebut sering membuat wisatawan bertanya-tanya mengenai sejarah maupun filosofi yang terkandung di dalamnya.
Bukan sekadar tempat ibadah umat Konghucu dan Buddha, klenteng ini juga menjadi salah satu destinasi wisata religi yang cukup populer di Singkawang. Keunikan bangunan, suasana yang tenang, serta makna kehidupan yang diangkat melalui arsitekturnya menjadikan tempat ini ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah.
Berdiri Sejak Tahun 1960
Baca Juga: Cukup Bayar Parkir, Enam Pantai Cantik di Singkawang ini Layak Dikunjungi Saat Libur
Dilansir dari akun TikTok @jelajahkuy, Klenteng Surga Neraka diketahui telah berdiri sejak tahun 1960. Lokasinya berada di kawasan kaki Gunung Sempalit yang terkenal sebagai salah satu kawasan religi di Singkawang.
Nama "Surga Neraka" bukan dimaksudkan sebagai sesuatu yang menyeramkan, melainkan sebagai simbol perjalanan kehidupan manusia setelah meninggal dunia menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa.
Konsep tersebut diwujudkan melalui bangunan dan berbagai ornamen yang ada di kompleks klenteng sehingga pengunjung dapat memahami pesan moral mengenai pentingnya berbuat baik selama hidup.
Baca Juga: Ingin Liburan Hemat ? Deratan Wisata Alam di Singkawang Ini Bisa Jadi Pilihan
Memiliki Dua Bangunan yang Berbeda
Salah satu ciri khas Klenteng Surga Neraka adalah adanya dua bangunan utama yang berada pada posisi berbeda, yakni di bagian atas dan bawah kawasan.
Susunan bangunan tersebut memberikan pengalaman tersendiri bagi pengunjung yang datang. Selain menikmati panorama alam di kaki Gunung Sempalit, wisatawan juga dapat merasakan suasana religius yang kental.
Baca Juga: Menyusuri Sejarah dan Keunikan Klenteng Tengah Laut Kubu Raya, Satu-Satunya di Dunia
Perpaduan antara alam dan bangunan tradisional Tionghoa membuat tempat ini memiliki daya tarik visual yang sangat kuat.
Anak Tangga Dialiri Air untuk Membersihkan Diri
Sebelum memasuki area utama klenteng, pengunjung akan melewati anak tangga yang dialiri air.
Baca Juga: Klenteng Kong Miao Litang, Jejak Sejarah Konghucu dan Toleransi di Pulau Borneo
Air tersebut memiliki fungsi sebagai simbol penyucian diri, yakni membersihkan kaki sebelum memasuki tempat ibadah. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa setiap orang diharapkan memasuki kawasan suci dengan keadaan bersih, baik secara fisik maupun batin.Keunikan sederhana ini menjadi salah satu hal yang paling sering menarik perhatian wisatawan.
Arsitektur Berwarna Cerah dengan Patung Para Dewa
Klenteng Surga Neraka dikenal memiliki desain arsitektur yang sangat khas. Bangunan didominasi warna merah, emas, dan berbagai warna cerah lainnya yang identik dengan budaya Tionghoa. Di setiap altar juga terdapat patung-patung para dewa yang menjadi bagian dari tempat penghormatan umat.
Baca Juga: Sambut Imlek, Klenteng Sam Bong Dja Sambas Dipercantik
Detail ukiran, ornamen naga, hingga lampion yang menghiasi kompleks semakin memperkuat kesan megah sekaligus artistik.
Tak heran apabila banyak pengunjung memanfaatkan setiap sudut klenteng sebagai latar untuk mengabadikan momen.
Menjadi Wisata Religi Favorit di Singkawang
Baca Juga: Kunjungan Wisman ke Kalbar Tembus 14.754 pada Mei 2026, Wisatawan Malaysia Masih Mendominasi
Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, Klenteng Surga Neraka kini menjadi salah satu destinasi wisata religi yang cukup terkenal di Kota Singkawang.
Wisatawan datang tidak hanya untuk berfoto, tetapi juga ingin mengenal budaya Tionghoa yang telah lama menjadi bagian dari keberagaman masyarakat Kalimantan Barat.
Keberadaan klenteng ini turut memperkaya potensi wisata budaya dan religi di Singkawang yang selama ini dikenal sebagai Kota Seribu Kelenteng.
Baca Juga: Singkawang Matangkan Pengembangan Kawasan Wisata Terpadu Nyarumkop dan Batu Belimbing
Bagi wisatawan yang ingin berkunjung, menjaga kesopanan, menghormati aktivitas ibadah, serta mematuhi aturan yang berlaku menjadi bagian penting dalam menikmati keindahan dan nilai budaya yang dimiliki tempat ini.
Editor : Silvina