Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Situs Megalitikum Long Midang di Krayan Hilang Dibelah Jalan, Jejak Peradaban Purba Kini Tinggal Kenangan

Silvina • Rabu, 8 Juli 2026 | 10:15 WIB
Ilustrasi Situs Megalitikum Long Midang di Kaltara yang kini tinggal kenangan
Ilustrasi Situs Megalitikum Long Midang di Kaltara yang kini tinggal kenangan

 

PONTIANAK POST – Sebuah situs purbakala yang diyakini menyimpan jejak peradaban kuno di Dataran Tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, kini dikabarkan telah lenyap. Lokasi yang dahulu dikenal sebagai kawasan sumur garam tradisional, monumen buaya, hingga sejumlah peninggalan megalitikum itu kini telah berubah menjadi ruas jalan, tanpa menyisakan jejak fisik yang berarti.

Kabar tersebut disampaikan dr. Aprianto, melalui laman ytprayeh. Beliau seorang Dayak Lundayeh yang bertugas dan menetap di Long Bawan. Menurutnya, salah satu titik bersejarah di Long Midang kini hanya menyisakan hamparan tanah keras, batu, dan kerikil yang dilalui kendaraan setiap hari.

Warisan Sejarah yang Hilang

Baca Juga: Fakta Mengejutkan Makam Juang Mandor, Dari Kawasan Militer Jepang hingga Menjadi Situs Sejarah Kalimantan Barat

Hilangnya situs tersebut menyisakan keprihatinan bagi banyak pemerhati sejarah dan budaya. Sebab, kawasan Long Midang bukan sekadar lokasi biasa, melainkan bagian penting dari perjalanan panjang peradaban masyarakat di Dataran Tinggi Krayan.

Penulis dan budayawan Masri Sarep Putra mengaku mendengar kabar tersebut dengan rasa kehilangan. Baginya, lenyapnya situs itu bukan semata kehilangan benda bersejarah, melainkan hilangnya sebagian riwayat yang menjadi identitas masyarakat setempat.

"Barangkali begini rasanya kehilangan. Bukan karena benda itu penting bagi saya secara pribadi, tetapi karena ia adalah sepotong riwayat yang perlahan terhapus," tulisnya.

Baca Juga: Cagar Budaya Ratusan Tahun di Mempawah Ini Masih Berdiri, Tapi Kondisinya Memprihatinkan

Menurutnya, pembangunan infrastruktur memang penting, namun pelestarian situs sejarah semestinya berjalan beriringan agar warisan leluhur tidak ikut hilang.

Pernah Diteliti Arkeolog Dunia

Keberadaan situs Long Midang sebelumnya telah menarik perhatian sejumlah peneliti internasional maupun nasional. Nama-nama seperti Robert Blust dan Peter Bellwood pernah mengkaji kawasan tersebut dalam penelitian mengenai prasejarah Pulau Kalimantan.

Baca Juga: Buku Ensiklopedia Bangunan Cagar Budaya Kalbar Diluncurkan, Upaya Rawat Memori Kolektif dan Kisah Sejarah

Penelitian itu kemudian diperkuat oleh kajian Balai Arkeologi Kalimantan Selatan yang menemukan berbagai artefak serta bukti keberadaan budaya megalitikum di kawasan Krayan.

Masri Sarep Putra bersama Dr. Yansen TP juga pernah melakukan penelusuran lapangan dan mendokumentasikan hasilnya dalam buku Jejak Peradaban Manusia Sungai Krayan yang terbit pada 2021.

Mereka berusaha menyusun kembali potongan-potongan sejarah yang tersebar di berbagai lokasi, mulai dari ladang masyarakat hingga kawasan pegunungan yang masih diselimuti kabut.

Baca Juga: Benarkah Candi Borobudur Warisan Nabi Sulaiman? Ini Ulasannya

Mitos dan Sejarah Menjadi Satu

Di Krayan, sejarah tidak hanya tersimpan dalam artefak, tetapi juga hidup melalui cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu tokoh yang dikenal masyarakat adalah Yuvai Semaring, sosok leluhur yang keberadaannya dipercaya memiliki hubungan erat dengan asal-usul masyarakat Lundayeh.

Baca Juga: Fakta Menarik Situs Batujaya di Karawang, Jejak Peradaban Tarumanegara yang Masih Menyimpan Banyak Misteri

Bagi masyarakat setempat, cerita tersebut bukan sekadar legenda, melainkan bagian dari identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.

Karena itu, menurut Masri, kisah-kisah lisan memiliki nilai yang tidak kalah penting dibandingkan dokumen sejarah tertulis.

Banyak Artefak Pernah Ditemukan

Baca Juga: Fakta Menakjubkan Situs Liyangan Temanggung, Kota Kuno yang Disebut Mirip Pompeii dan Masih Terus Digali

Selain Long Midang, sejumlah lokasi lain di Krayan juga menyimpan peninggalan arkeologi.Di Batu Sicien, Long Mutan, dan Long Layu, misalnya, pernah ditemukan kapak batu, beliung, hingga serpihan keramik kuno yang diperkirakan berasal dari masa ribuan tahun silam.

Temuan-temuan tersebut menunjukkan kawasan Krayan telah dihuni manusia sejak masa prasejarah.

Artefak rumah tangga yang kini dianggap bernilai tinggi dulunya kemungkinan merupakan benda sehari-hari yang digunakan masyarakat pada zamannya.

Baca Juga: Menelusuri Batu Cap Sukadana, Warisan Purbakala yang Masih Menyimpan Banyak Misteri

Patung Buaya dan Batu-Batu Sakral

Salah satu ikon paling dikenal dari Long Midang adalah patung buaya megalitik yang dahulu berdiri saling berhadapan.

Konon, satu patung menghadap ke arah tenggara, sementara patung lainnya menghadap ke barat laut. Bagi masyarakat setempat, buaya bukan hanya satwa, melainkan simbol penjaga sekaligus lambang yang memiliki makna spiritual.

Baca Juga: Pemprov Kaltara Percepat Pembangunan Jalan Perbatasan Kaltara-Kaltim, Wagub Tegaskan Infrastruktur Jadi Kunci Konektivitas dan Pertumbuhan Ekonomi

Selain itu terdapat Batu Perupun, susunan batu bertingkat yang diduga berfungsi sebagai altar atau penanda penting pada masa lampau.

Ada pula Batu Narit yang dihiasi pahatan burung enggang serta motif tempayan. Makna pasti dari pahatan tersebut memang belum sepenuhnya diketahui, tetapi keberadaannya menunjukkan tingginya nilai budaya masyarakat pada masa itu.

Ekskavasi Menguatkan Bukti Peradaban

Baca Juga: Mengungkap Fakta Sejarah Padang 12 Ketapang, Benarkah Pernah Ada Kampung yang Hilang?

Pada 2018, tim Balai Arkeologi melakukan penelitian lapangan dan ekskavasi di sejumlah titik, termasuk Batu Sicien dan Long Padi.

Hasil penelitian tersebut memperkuat dugaan bahwa kawasan Krayan telah dihuni manusia sejak ribuan tahun lalu. Berbagai temuan arkeologis menjadi bukti kuat bahwa wilayah tersebut merupakan salah satu kawasan penting dalam sejarah permukiman manusia di Pulau Kalimantan.

Namun, ketika penelitian berhasil mengungkap jejak masa lalu, sebagian situs justru telah lebih dahulu rusak akibat pembangunan yang berlangsung.

Baca Juga: Kisah Orang Limun dan Kota Tak Terlihat di Padang 12 Ketapang, Fakta atau Legenda?

Pelajaran Penting bagi Pelestarian Cagar Budaya

Hilangnya situs Long Midang menjadi pengingat bahwa pembangunan dan pelestarian sejarah seharusnya berjalan berdampingan.Warisan budaya tidak hanya berupa benda yang masih utuh, tetapi juga memori kolektif yang membentuk identitas suatu masyarakat.

Bagi Masri Sarep Putra, sejarah bukan hanya tentang apa yang berhasil ditemukan para peneliti, melainkan juga tentang apa yang telah hilang sebelum sempat dipahami.

Baca Juga: Begini Kondisi Terkini Padang 12 Ketapang yang Terkenal Mistis dan Legendaris

Di balik jalan yang kini membelah Long Midang, tersimpan kisah panjang tentang leluhur, mitos, dan jejak peradaban yang perlahan menghilang. Kisah itu menjadi pengingat bahwa menjaga sejarah berarti menjaga jati diri bangsa agar tidak ikut terkubur bersama waktu.

 

Editor : Silvina
#Kaltara #warisan sejarah #jejak peradaban purba #situs megalitikum #long midang krayan