Dari Gang Nurali ke Jalan Nurali, Jejak Sejarah Pontianak yang Bertahan Melintasi Tiga Zaman

Silvina • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 13:46 WIB
Kawasan  Jalan Nurali yang menjadi saksi sejarah perjalanan warga Pontianak (SIlvina)
Jalan Nurali, jejak sejarah yang masih dipertahankan namanya hingga kini (SIlvina)

 

PONTIANAK POST – Di tengah pesatnya perkembangan Kota Pontianak, banyak nama jalan dan gang telah berganti mengikuti perubahan zaman. Namun, ada satu kawasan yang tetap mempertahankan identitasnya sejak masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga awal pemerintahan Republik Indonesia, yakni Gang Nurali yang kini dikenal sebagai Jalan Norali.

Menurut peneliti kajian sejarah Kalimantan Barat, Syafaruddin Daeng Usman, Gang Nurali merupakan salah satu kawasan yang menyimpan banyak cerita tentang kehidupan masyarakat Pontianak pada masa lampau.

"Hampir semua jalan dan gang di Kota Pontianak mengalami perubahan nama. Namun Gang Nurali, sejak zaman Belanda, masa Jepang, pemerintahan NICA hingga sekarang, namanya tetap Nurali," ujar Syafaruddin Daeng Usman dalam catatan sejarahnya.

Baca Juga: Sejarah Lahirnya TNI di Kalbar (Bag-1) : Tarik Ulur Politik Mengawali Jalan Panjang Kehadiran TNI

Gang Nurali Menjadi Pusat Pendidikan Masa Lampau

Selain dikenal sebagai kawasan permukiman, Gang Nurali juga menjadi salah satu pusat pendidikan masyarakat pada masa itu. Di lokasi tersebut berdiri Sekolah Rakyat (SR) Gang Nurali atau SR I yang menjadi tempat belajar banyak anak Pontianak.

Salah satu guru yang pernah mengajar di sekolah tersebut adalah Engku Mohamad Saleh. Pada masa itu, Pontianak hanya memiliki dua Sekolah Rakyat enam tahun, yakni SR Gang Nurali dan SR Kampung Melayu.

Baca Juga: Sejarah Lahirnya TNI di Kalbar (Bag-2):  Demonstrasi Rakyat Menggema Demi Keamanan Daerah

Sekitar tahun 1947, banyak murid dari SR Gang Nurali dipindahkan ke SR Kampung Melayu atau SR II. Di kelas enam, mereka bergabung dengan murid asal Kampung Melayu hingga berjumlah 28 orang.

"Guru mereka saat itu adalah Engku Zar'in yang baru lulus Sekolah Normal di Banjarmasin dan berasal dari Sambas," tulis Syafaruddin Daeng Usman.

Satu-satunya murid perempuan di angkatan tersebut bernama Fatimah. Sementara murid laki-laki di antaranya Wan Usman, Mat Noh, Mat Awal, Mat Saleh Dinil, Mat Husin Sakman, Mat Tos, Hasri Aspas, hingga Selamat Muslana.

Baca Juga: Sejarah Lahirnya TNI di Kalbar (Bag-3): Keberangkatan Mayor Suharsono Memicu Langkah Baru Perjuangan

Lahir Tokoh Pendidikan dari Gang Nurali

Dari sekolah sederhana itu lahir sejumlah tokoh penting. Salah satunya adalah Wan Usman yang melanjutkan pendidikan ke SMP di kawasan Jam Segitiga, lokasi yang kini menjadi Gedung BNI.

Setelah lulus pada 1951, Wan Usman melanjutkan pendidikan ke Jawa hingga akhirnya dikenal sebagai salah satu tokoh pendidikan Kalimantan Barat dan pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Tanjungpura.

Baca Juga: Sejarah Lahirnya TNI di Kalbar (Bag 4): Kedatangan 200 Prajurit TNI ke Pontianak Menandai Babak Baru

Syafaruddin menyebut perjalanan pendidikan para murid Gang Norali menjadi bukti bahwa sekolah sederhana saat itu mampu melahirkan generasi yang berkontribusi besar bagi daerah.

Kehidupan Warga Berubah Saat Pendudukan Jepang

Catatan sejarah juga menggambarkan kehidupan masyarakat Pontianak pada masa pendudukan Jepang yang penuh keterbatasan.

Baca Juga: Kalbar Ternyata Pernah Berstatus Daerah Istimewa, Babak Penting yang Jarang Diketahui

Saat itu, aktivitas perdagangan menurun drastis karena masyarakat takut berjualan. Namun sebagian warga tetap mencari nafkah dengan mengambil pisang dari kawasan Parit Sri Gadoh, Punggur hingga Kalimas.

"Pada zaman Jepang tak banyak orang berani berjualan. Namun masih ada yang memberanikan diri mencari pisang sampai ke Parit Sri Gadoh, Punggur dan Kalimas," kata Syafaruddin.

Memasuki masa pemerintahan NICA dan situasi mulai aman, aktivitas ekonomi kembali tumbuh. Pedagang mulai menjajakan buah-buahan seperti durian dan cempedak, serta ikan segar dengan berkeliling ke Gang Mariana, Gang Tengah, hingga Gang Wak Serang.

Baca Juga: Fakta Sebelum Peristiwa Mandor (Bag-1):  Jepang Tebar Teror di Istana Kadriyah Pontianak

Surau Menjadi Tempat Belajar Agama

Di balik kehidupan masyarakat, surau memiliki peran penting sebagai pusat pendidikan agama.

Anak-anak belajar membaca Alquran serta huruf Arab Melayu menggunakan kitab terbitan Pelita dan Mercu Suar. Beberapa surau yang dikenal saat itu antara lain Surau Wan Sagap dan sekolah agama di Gang Mariana.

Baca Juga: Fakta Sebelum Peristiwa Mandor (Bag-2) : 60 Keluarga Kesultanan Dibawa Pergi, Banyak Tak Kembali

Di tempat tersebut, para santri dibimbing oleh Ustad Akib dan Ustad Sead, yang dikenal sebagai pengajar agama di kawasan itu.

Sekolah Masa Jepang Penuh Disiplin

Ketika Jepang mulai menguasai Pontianak, sistem pendidikan juga berubah. Murid-murid dipindahkan ke sekolah di Gang Tengah yang memiliki tiga tingkat kelas.

Baca Juga: Menguak Serangan Pertama Jepang ke Pontianak Tahun 1941,  Awal Perebutan Kalimantan Barat dari Belanda

Kepala sekolah saat itu adalah Guru Nong yang tinggal di Palmenlaan. Ia mengajar kelas satu, sedangkan kelas dua diajar Encik Sakmah dan kelas tiga oleh Engku Uray Amin.

Dalam satu kelas terdapat sekitar 24 murid, seluruhnya laki-laki. Di antaranya Oktavianus, Ali Buton, Selamat Muslana, Abdul Rahman, Jimmy Mohamad Ibrahim, Hamin Gembel hingga seorang murid pindahan dari Jawa bernama Sangat.

Meski hanya memiliki tiga tingkat kelas, sekolah tersebut dikenal memiliki tim kasti terbaik di Pontianak.

Baca Juga: Dari Pemangkat hingga Pontianak, Begini Strategi Jepang Menaklukkan Kalimantan Barat pada Tahun 1942

"Kesebelasan kasti sekolah Gang Tengah menjadi yang paling tangguh di Pontianak dengan pemain seperti A. Rasyid Sanak, Motoaki, Sangat, Ibrahim Zuber dan Jumari," ungkap Syafaruddin.

Belajar Tiga Mata Pelajaran Setiap Hari

Setelah naik kelas, sebagian murid melanjutkan pendidikan ke SR Gang Radio yang dipimpin Engku Mahmud.

Baca Juga: Begini Sengitnya Pertempuran Singkawang II, Jalan Jepang Kuasai Pontianak dan Kalimantan Barat

Di sekolah itu mereka diajar oleh Awang Ali yang dikenal sangat disiplin. Selain kegiatan belajar, sekolah juga memiliki perkumpulan kesenian yang dipimpin Kadir Rais dan Nuraini. Menariknya, selama masa pendudukan Jepang, kegiatan belajar berlangsung sangat sederhana.

Menurut Syafaruddin Daeng Usman, setiap hari para murid hanya mempelajari tiga hal utama, yakni senam taiso pada pagi hari, belajar bahasa Jepang menggunakan huruf hiragana, katakana, dan kanji, serta menyanyikan lagu-lagu perjuangan dalam bahasa Jepang maupun bahasa Indonesia.

Catatan tersebut memperlihatkan Jalan Nurali bukan sekadar nama jalan yang bertahan hingga kini. Kawasan ini menjadi saksi perjalanan pendidikan, kehidupan sosial, aktivitas ekonomi, hingga perubahan sistem belajar masyarakat Pontianak sepanjang masa kolonial, pendudukan Jepang, dan awal kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga: Begini Sengitnya Pertempuran Singkawang II, Jalan Jepang Kuasai Pontianak dan Kalimantan Barat

Dengan mempertahankan nama Nurali selama puluhan tahun, kawasan ini menyimpan jejak sejarah yang masih layak dikenang oleh generasi sekarang.

 

Editor : Silvina
jalan nurali pontianak gang nurali pontianak kawasan sejarah saksi sejarah tokoh pendidikan