Sejarah Rumah Tertua Keluarga Tjhia di Singkawang, Dibangun Perantau yang Bangkit dari Kebangkrutan

Silvina • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 10:10 WIB
Rumah bersejarah Keluarga Tjhia di Singkawang tampak dari depan (DOK WIKIPEDIA)
Rumah bersejarah Keluarga Tjhia di Singkawang tampak dari depan (DOK WIKIPEDIA)

 

PONTIANAK POST – Rumah Keluarga Tjhia di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, bukan sekadar bangunan tua berarsitektur khas Tionghoa. Berdiri sejak tahun 1902, rumah ini menyimpan kisah perjuangan seorang perantau asal Tiongkok yang berhasil bangkit dari keterpurukan hingga menjadi tokoh penting dalam perkembangan ekonomi Singkawang.

Bangunan yang berada di kawasan tradisional Kota Singkawang ini hingga kini masih dihuni oleh keturunan keluarga Tjhia. Selain menjadi salah satu rumah tertua di kota tersebut, rumah ini juga menjadi saksi perjalanan panjang masyarakat Tionghoa dalam membangun kehidupan dan perekonomian di Kalimantan Barat.

Berawal dari Perantau yang Mengalami Kebangkrutan

Baca Juga: Mengintip Klenteng Surga Neraka di Singkawang, Destinasi Ikonik dengan Arsitektur Memukau dan Sarat Filosofi

Dilansir dari laman student-activity.binus sejarah rumah ini bermula dari seorang perantau bermarga Tjhia bernama Tjhia Hiap Shin atau Xie Shou Shi yang datang dari Tiongkok ke Singkawang untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Pada awal kedatangannya, Hiap Shin mencoba berdagang. Namun usahanya mengalami kegagalan hingga membuatnya bangkrut. Kondisi tersebut memaksanya bekerja sebagai karyawan di toko bahan makanan milik seorang pedagang bernama Akhiong.

Meski mengalami masa sulit, Hiap Shin dikenal sebagai sosok pekerja keras, jujur, dan tekun. Sifat inilah yang membuat Akhiong memberikan kepercayaan penuh kepadanya dalam mengelola usaha.

Baca Juga: Misteri Kesurupan Massal SLTP Teratai Singkawang, Bangunannya Kini Terbengkalai dan Sarat Cerita

Kepercayaan tersebut justru memicu kecemburuan salah satu rekan kerjanya bernama Chi Liong.

Konflik di Tempat Kerja Mengubah Jalan Hidup

Menurut kisah yang berkembang, Chi Liong bahkan sempat mengancam keselamatan Hiap Shin dengan cara meracuninya hingga berniat menghabisi nyawanya.

Baca Juga: Cukup Bayar Parkir, Enam Pantai Cantik di Singkawang ini Layak Dikunjungi Saat Libur

Mengetahui tindakan tersebut, Akhiong memilih memecat Chi Liong meski harus menanggung kerugian besar.

Namun beberapa waktu kemudian, Akhiong kembali menerima Chi Liong bekerja karena merasa iba melihat kondisinya yang penuh luka.

Keputusan itu ternyata menjadi awal dari persoalan baru. Saat Akhiong pergi ke luar daerah, toko yang ditinggalkannya mengalami kekacauan dan banyak barang hilang. Chi Liong berdalih bahwa barang-barang tersebut diambil oleh rentenir karena dirinya terlilit utang.

Baca Juga: Asal Usul Nama Singkawang, Diyakini Berasal dari Bahasa Tionghoa yang Penuh Makna

Peristiwa itu menjadi titik balik yang semakin memperlihatkan kejujuran dan ketekunan Hiap Shin dalam bekerja.

Membangun Armada Kapal hingga Menjadi Saudagar

Seiring berjalannya waktu, kehidupan Hiap Shin mulai berubah. Setelah memiliki modal yang cukup, ia membangun sebuah armada kapal yang menjadi tempat persinggahan para awak kapal dan pedagang.

Baca Juga: Mengapa Singkawang Memiliki Populasi Tionghoa Terbesar? Jejaknya Berawal dari Tambang Emas Monterado

Armada tersebut juga berfungsi sebagai pangkalan kapal pengangkut penumpang maupun barang untuk wilayah perairan di sekitar Singkawang.

Keberadaan armada kapal itu membuat aktivitas perdagangan berkembang pesat. Nama Hiap Shin pun semakin dikenal sebagai saudagar yang sukses membangun jaringan perdagangan.

Kesuksesan itu mendorongnya membangun rumah keluarga di dekat kawasan armada kapal yang menjadi pusat aktivitas usahanya.

Baca Juga: Ingin Liburan Hemat ? Deratan Wisata Alam di Singkawang Ini Bisa Jadi Pilihan

Menikah dengan Penduduk Lokal dan Mewariskan Sejarah

Setelah usahanya berkembang, Hiap Shin menikah dengan seorang perempuan penduduk lokal dan membangun keluarga di Singkawang.

Dari pernikahan tersebut lahirlah keturunan yang terus menetap di rumah bersejarah itu hingga kini. Tercatat telah mencapai tujuh generasi yang masih menjaga keberadaan rumah keluarga tersebut.

Baca Juga: Polres Singkawang Optimalkan Layanan Call Center 110 untuk Laporan Darurat, Warga Diminta Tidak Melakukan Panggilan Iseng

Selain dikenal sebagai saudagar sukses, Hiap Shin juga aktif membangun hubungan dengan para investor dari luar Indonesia maupun berbagai daerah lainnya.

Setelah wafat karena sakit, seluruh harta warisannya dibagikan secara adil kepada anak-anaknya sehingga keluarga besar Tjhia tetap berkembang dan dikenal sebagai Bintang Kawan Sangpai.

Menjadi Rumah Tertua dan Ikon Bersejarah Singkawang

Baca Juga: Rumah Adat Turun Temurun di Mempawah Kian Lapuk dan Kosong, Cagar Budaya Ini Menanti Perhatian

Hingga sekarang, Rumah Keluarga Tjhia tetap berdiri kokoh dengan mempertahankan arsitektur khas Tiongkok Utara, terutama pada bagian atap atau bumbungannya yang memiliki bentuk unik.

Bangunan ini menjadi salah satu rumah tertua di Kota Singkawang sekaligus menjadi bukti perjalanan panjang masyarakat Tionghoa dalam membangun sektor perdagangan dan perekonomian di Kalimantan Barat.

Kawasan yang dahulu merupakan lokasi armada kapal kini telah berubah menjadi kawasan tradisional yang dikenal luas sebagai Rumah Keluarga Tjhia.

Baca Juga: Kisah Rumah Pertama di Desa Mendalok Mempawah, Warisan Perantau Sambas yang Dihuni Hingga Generasi Ketiga

Keberadaan rumah ini tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga menjadi pengingat bahwa semangat kerja keras, kejujuran, dan kegigihan para perantau telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan Singkawang hingga dikenal sebagai salah satu kota dengan jejak budaya Tionghoa yang kuat di Indonesia.

 

Editor : Silvina
sejarah rumah keluarga tjhia singkawang rumah tertuadi singkawang perantau tiongkok ikon kota singkawang wisata sejarah singkawang