PONTIANAK POST – Di tengah keberagaman tradisi keagamaan masyarakat Tionghoa, terdapat satu praktik yang masih bertahan hingga kini, yakni Cai Ci. Tradisi ini merupakan bagian dari praktik Buddha Hakka yang memadukan ajaran Buddha Mahayana dengan unsur budaya Hakka, Taoisme, Konfusianisme, serta tradisi lokal yang berkembang selama berabad-abad.
Informasi mengenai tradisi Cai Ci dan praktik Buddha Hakka ini antara lain disampaikan kreator konten budaya Tionghoa @maymay_liaw melalui video yang diunggah di TikTok. Penjelasan tersebut kemudian dipadukan dengan berbagai literatur mengenai sejarah Buddhisme Hakka (Kèjiā Fójiào), perkembangan masyarakat Hakka di Meixian (Moi Yan), serta sejarah komunitas Hakka di Indonesia
Menurut akun @maymay_liaw, salah satu tempat yang masih mempertahankan tradisi tersebut adalah Wihara Sasana Diepa atau lebih dikenal masyarakat Hakka sebagai San Fuk Thong, yang berada di kawasan Jembatan Lima, Jakarta Barat.
Wihara ini dipimpin seorang Cai Ci, yakni perempuan religius dalam tradisi Hakka yang mengabdikan hidupnya untuk melayani kegiatan keagamaan.
Apa Itu Cai Ci?
Dalam budaya Hakka, Cai Ci merupakan perempuan yang memilih hidup membujang dan mengabdikan dirinya untuk pelayanan keagamaan.
Mereka memimpin berbagai ritual keagamaan, mulai dari sembahyang harian hingga upacara kedukaan yang memiliki tata cara khas.
Tidak sedikit Cai Ci yang juga mengadopsi anak asuh sebagai bagian dari kehidupan sosial mereka, sekaligus meneruskan nilai-nilai budaya Hakka kepada generasi berikutnya.
Selain menjalankan kehidupan religius, para Cai Ci dikenal menjunjung tinggi pendidikan, sastra, dan pelestarian budaya leluhur Hakka.
Buddha Hakka Memiliki Kekhasan
Tradisi Cai Ci tidak dapat dipisahkan dari Buddha Hakka (Kèjiā Fójiào atau Hakka Fud Kauw), yakni praktik Buddhisme yang berkembang di tengah masyarakat Hakka.
Dalam perkembangannya, Buddhisme yang dianut masyarakat Hakka tidak hanya dipengaruhi ajaran Buddha Mahayana, tetapi juga menyerap unsur Taoisme, Konfusianisme, serta tradisi lokal Hakka.
Baca Juga: Mengapa Orang Hakka Disebut Keluarga Tamu? Ini Asal Usul dan Kisah Perjalanannya hingga Mendunia
Perpaduan tersebut melahirkan corak ibadah yang memiliki karakter tersendiri dibandingkan praktik Buddhisme Mahayana pada umumnya.
Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa agama Buddha mulai berkembang di wilayah Meixian (Moi Yan) sejak masa Dinasti Utara dan Selatan sekitar abad ke-5 hingga ke-6 Masehi. Seiring perjalanan waktu, masyarakat Hakka kemudian mengembangkan bentuk praktik keagamaan yang selaras dengan budaya mereka.
Liam Keng dalam Dialek Hakka
Baca Juga: Menyusuri Rumah Hakka Terbesar di Kalbar, Bangunan Unik yang Disebut Hanya Ada Dua di Asia Tenggara
Salah satu keunikan Buddha Hakka adalah tradisi Liam Keng, yaitu pembacaan kitab suci yang dilantunkan menggunakan dialek Hakka.
Cara melantunkannya memiliki irama yang khas, menyerupai nyanyian rakyat pegunungan Hakka atau San Ko, sehingga terdengar berbeda dibandingkan pembacaan sutra dalam tradisi Buddhis lainnya.
Penggunaan dialek Hakka menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus mempertahankan bahasa leluhur di tengah perkembangan zaman.
Baca Juga: Rumah Hakka Kubu Raya Terinspirasi Warisan Dunia UNESCO, Arsiteknya Berkali-kali Belajar ke Tiongkok
Berperan dalam Ritual Kedukaan
Selain memimpin sembahyang di wihara, Cai Ci juga berperan dalam berbagai ritual kedukaan. Prosesi tersebut memiliki tata cara, doa, dan nyanyian yang diwariskan secara turun-temurun sehingga dianggap sakral oleh masyarakat Hakka.
Baca Juga: Kalbar Ternyata Pernah Berstatus Daerah Istimewa, Babak Penting yang Jarang Diketahui
Keberadaan Cai Ci membuat tradisi keagamaan Hakka tetap hidup, terutama dalam berbagai momentum penting kehidupan masyarakat.
Wihara Berusia Lebih dari Satu Abad
Menurut penuturan yang beredar di kalangan komunitas Hakka, San Fuk Thong diperkirakan telah berdiri sekitar tahun 1850 dan telah melewati berbagai periode sejarah di Indonesia.
Baca Juga: Menyusuri Sejarah dan Keunikan Klenteng Tengah Laut Kubu Raya, Satu-Satunya di Dunia
Hingga kini, wihara tersebut masih menjadi salah satu pusat pelestarian tradisi Buddha Hakka, sekaligus menjadi bukti akulturasi antara ajaran Buddha dengan budaya masyarakat Hakka yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.