PONTIANAK POST – Siapa sangka, seseorang yang pernah mengaku memiliki nilai kimia paling rendah saat duduk di bangku SMA kini justru berhasil mencapai puncak karier akademiknya. Sosok itu adalah Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, yang kini Guru Besar Universitas Indonesia bidang kimia. Sosok ini viral setelah membahas tentang keharaman babi yang beredar di medsos.
Kisah hidupnya menjadi bukti bahwa nilai akademik di masa sekolah bukanlah penentu mutlak masa depan seseorang. Di balik pencapaiannya hari ini, terdapat perjalanan panjang yang diwarnai perjuangan, keterbatasan ekonomi, serta uluran tangan dari banyak pihak.
Informasi tersebut dibagikan melalui akun Instagram Dompet Dhuafa, yang mengisahkan perjalanan inspiratif Prof.Zulys hingga berhasil meraih gelar akademik tertinggi.
Pernah Mengaku Nilai Kimianya Paling Rendah
Dalam kisah yang dibagikan, Prof. Zulys mengaku ketika masih bersekolah di SMA, mata pelajaran kimia justru menjadi pelajaran yang paling sulit baginya.
Nilai kimia yang diperolehnya bahkan disebut sebagai yang paling rendah dibandingkan mata pelajaran lainnya.
Baca Juga: Sinergi Akademisi dan Pemuda: Polnep Latih Karang Taruna Olah Jagung Jadi Mie Sehat
Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah ataupun kehilangan semangat untuk terus belajar.
Sebaliknya, pengalaman itu menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan hingga akhirnya mampu meniti karier sebagai akademisi dan peneliti di bidang kimia.
Keterbatasan Ekonomi Hampir Menghentikan Pendidikan
Baca Juga: Sebanyak 301 Profesor UI Bersatu Tolak Disertasi Bahlil, Desak MA Pulihkan Marwah Akademik
Perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu berjalan mulus.Saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi, Prof. Agustino sempat menghadapi persoalan ekonomi yang membuat kelanjutan kuliahnya berada di ujung ketidakpastian.
Keterbatasan biaya menjadi tantangan besar yang harus dihadapi.Di tengah kondisi tersebut, hadir bantuan berupa beasiswa pendidikan dari Dompet Dhuafa yang membantunya tetap melanjutkan pendidikan hingga menyelesaikan studi.
Beasiswa tersebut menjadi titik penting yang membuka jalan bagi perjalanan akademiknya.
Dari Bantuan Pendidikan Lahir Ilmu yang Bermanfaat
Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan, Prof. Zulys terus mengembangkan kemampuan di dunia akademik hingga akhirnya dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Indonesia di bidang kimia.
Pencapaian tersebut bukan hanya menjadi keberhasilan pribadi, tetapi juga menjadi gambaran bahwa akses terhadap pendidikan mampu mengubah masa depan seseorang.
Baca Juga: Profesor UNTAN Sebut Ekonomi Kalbar Kuat Tapi Kualitas Pertumbuhan Masih Perlu Diperbaiki
Dompet Dhuafa menilai kisah Prof.Zulys menunjukkan bahwa bantuan pendidikan tidak berhenti pada penerima manfaat semata.
Ilmu yang lahir dari kesempatan belajar dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang jauh lebih luas bagi masyarakat.
Kebaikan yang Menumbuhkan Peradaban
Baca Juga: Profil Thom Haye, 'El Profesor' Timnas Indonesia yang Dirumorkan Segera Gabung Persib Bandung
Dalam unggahan tersebut, Dompet Dhuafa menyampaikan kisah Prof.Zulys bukan sekadar cerita tentang keberhasilan meraih gelar Guru Besar.
Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa setiap kebaikan yang diberikan kepada mereka yang membutuhkan dapat menjadi investasi jangka panjang bagi kemajuan bangsa.
Bantuan yang diberikan hari ini dapat tumbuh menjadi ilmu pengetahuan, penelitian, inovasi, hingga melahirkan generasi yang mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Baca Juga: Soal Rel Kereta Api Kalimantan, Akademisi Bantah Hambatan Lahan Gambut
Inspirasi : Masa Depan Tidak Ditentukan oleh Nilai Semata
Perjalanan Prof. Agustino Zulys memberikan pesan bahwa kegagalan atau nilai yang kurang memuaskan pada masa sekolah bukanlah akhir dari segalanya.
Dengan kemauan belajar, kerja keras, kesempatan, dan dukungan dari lingkungan, seseorang tetap memiliki peluang untuk meraih prestasi tertinggi.
Baca Juga: Akademisi Hukum Soroti Putusan Kasus Korupsi HPL Pasir Panjang Singkawang
Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan yang inklusif dan akses terhadap beasiswa dapat membuka jalan lahirnya lebih banyak ilmuwan, akademisi, dan pemimpin masa depan yang memberi manfaat bagi bangsa.
Editor : Silvina