PONTIANAK POST – Di tengah perkembangan Kota Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, masih berdiri deretan rumah lanting yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di tepian Sungai Melawi. Sebagian rumah terapung tersebut hingga kini masih dihuni warga Tionghoa yang telah lama bermukim di kawasan tersebut.
Gambaran kehidupan masyarakat di bantaran Sungai Melawi itu terlihat dalam video yang diunggah kanal YouTube pieiemejink9082 pada 27 Juli 2026. Video tersebut memperlihatkan suasana permukiman rumah lanting yang berada tidak jauh dari pusat kota dan kawasan pasar.
Rumah Lanting Masih Menjadi Bagian Kehidupan Tepian Sungai
Baca Juga: Polres Melawi Tahan Dua Pelaku Pencurian yang Membobol Rumah Warga di Nanga Pinoh
Rumah lanting merupakan rumah yang dibangun di atas permukaan air dengan sistem pelampung sehingga dapat mengikuti naik turunnya permukaan sungai.
Di kawasan tepian Sungai Melawi, rumah-rumah lanting masih berjajar di sepanjang bantaran sungai. Sebagian menggunakan pelampung kayu yang telah dipakai sejak lama, sementara beberapa lainnya telah beralih menggunakan pelampung berbahan besi sebagai bentuk penyesuaian terhadap perkembangan zaman.
Meski berada berdampingan, rumah-rumah lanting tersebut memiliki karakter yang unik.
Baca Juga: Polisi dan Warga Sigap Padamkan Kebakaran Semak di Nanga Pinoh
Tidak Ada Jembatan Penghubung Antar Rumah
Salah satu hal yang menarik perhatian adalah rumah-rumah lanting di kawasan tersebut tidak saling terhubung dengan jembatan.
Artinya, apabila penghuni ingin mengunjungi rumah tetangga yang berada di sebelahnya, mereka harus terlebih dahulu naik ke daratan sebelum kembali turun menuju rumah tujuan.
Baca Juga: Selesai Tugas Sebagai Kapolres Melawi, AKBP Harris Batara Simbolon Sujud Syukur di Gerbang Mako
Kondisi ini menjadi pemandangan yang berbeda dibandingkan sejumlah permukiman rumah terapung di daerah lain yang umumnya memiliki jalur penghubung antarrumah.
Di sekitar permukiman juga terlihat dermaga kecil tempat warga menambatkan perahu maupun motor air yang digunakan sebagai sarana transportasi.
Mayoritas Dihuni Warga Tionghoa
Baca Juga: Remaja 14 Tahun Dilaporkan Hilang Diduga Tenggelam di Sungai Pinoh Melawi
Dalam video tersebut dikatakan cukup banyak rumah lanting di kawasan itu ditempati warga Tionghoa. Namun, terdapat pula warga dari etnis lain yang tinggal maupun berusaha di sekitar bantaran sungai.
Di dekat permukiman juga tampak sebuah pekong yang menjadi salah satu penanda keberadaan komunitas Tionghoa di kawasan tersebut.
Keberadaan rumah-rumah lanting ini menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Tionghoa di Nanga Pinoh memiliki keterkaitan yang erat dengan Sungai Melawi yang sejak dahulu menjadi pusat aktivitas masyarakat.
Baca Juga: Mengapa Singkawang Memiliki Populasi Tionghoa Terbesar? Jejaknya Berawal dari Tambang Emas Monterado
Menjadi Saksi Perubahan Zaman
Seiring berkembangnya jaringan jalan darat di Kabupaten Melawi, aktivitas transportasi sungai memang tidak lagi seramai beberapa dekade lalu.
Meski demikian, rumah-rumah lanting di tepian Sungai Melawi masih bertahan sebagai bagian dari identitas kawasan. Sekaligus menjadi saksi perubahan kehidupan masyarakat dari masa ketika sungai menjadi jalur utama transportasi hingga sekarang.
Baca Juga: Mengapa Singkawang Memiliki Populasi Tionghoa Terbesar? Jejaknya Berawal dari Tambang Emas Monterado
Keberadaan permukiman tersebut juga menjadi gambaran bagaimana masyarakat di tepian Sungai Melawi mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan jejak sejarah yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Editor : Silvina