PONTIANAK POST – Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 tidak berhenti setelah Soekarno membacakan teks Proklamasi. Rangkaian bersejarah itu berlanjut dengan pengibaran bendera Merah Putih yang berlangsung sederhana, tetapi sarat makna.
Sesaat setelah pernyataan kemerdekaan dibacakan, Soekarno menyampaikan kepada para hadirin bahwa Indonesia telah merdeka. Bangsa Indonesia, menurutnya, tidak lagi terikat oleh kekuasaan yang sebelumnya membelenggu tanah air.
“Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka. Negara Republik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi,” demikian bagian pidato yang tercatat dalam sumber Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Peristiwa tersebut kemudian memasuki tahap berikutnya. Bendera Merah Putih akan dikibarkan.
S.K. Trimurti Menolak, Latief Hendraningrat Maju
Soekarno dan Hatta bergerak beberapa langkah menuruni anak tangga terakhir dari serambi muka. Keduanya berhenti sekitar dua meter di depan tiang bendera.
S. K. Trimurti sempat diminta maju untuk mengibarkan bendera. Namun, ia menolak dan menyatakan bahwa lebih baik seorang prajurit yang melakukannya.
Baca Juga: 6 Agustus dalam Sejarah: Salat Idulfitri di Rumah Proklamasi Sempat Dilarang Belanda, Ini Kisahnya
Tidak lama kemudian, Latief Hendraningrat yang mengenakan seragam PETA berwarna hijau dekil maju mendekati tiang bendera.
Tidak ada yang menyuruhnya. Latief kemudian mengambil bagian dalam proses pengibaran. S. Suhud mengambil bendera dari atas baki yang telah disiapkan. Bendera itu kemudian diikatkan pada tali dengan bantuan Latief Hendraningrat. Merah Putih mulai dinaikkan.
Merah Putih Berkibar, Indonesia Raya Menggema
Baca Juga: Wikana, Pemuda yang Mendesak Bung Karno Segera Proklamasikan Kemerdekaan
Bendera dikerek secara perlahan. Saat itulah para hadirin secara spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Tidak ada yang memimpin mereka. Nyanyian itu mengalir bersama pengibaran Merah Putih. Bendera bahkan dinaikkan dengan sangat lambat untuk menyesuaikan dengan irama lagu Indonesia Raya yang cukup panjang.
Momen tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian peristiwa setelah Proklamasi Kemerdekaan.
Baca Juga: Sejarah Tugu Proklamasi Pegangsaan Timur, Sempat Dihancurkan Lalu Dibangun Kembali
Setelah bendera berkibar, acara dilanjutkan dengan pidato sambutan dari Wali Kota Soewirjo dan dr. Muwardi.
Barisan Pelopor Datang Setelah Upacara
Rangkaian peristiwa 17 Agustus 1945 belum sepenuhnya berakhir. Menurut Lasmidjah Hardi (1984:77), setelah upacara pembacaan Proklamasi, sepasukan barisan pelopor berjumlah kurang lebih 100 orang memasuki halaman rumah Soekarno. Mereka datang terlambat.
Baca Juga: Pemuda Ancam Soekarno Jelang Proklamasi, Ini yang Terjadi di Pegangsaan Timur
Pasukan tersebut berada di bawah pimpinan S. Brata. Karena kecewa tidak menyaksikan langsung pembacaan Proklamasi, Brata dengan suara lantang meminta Bung Karno membacakan Proklamasi sekali lagi.
Mendengar permintaan tersebut, Soekarno kemudian keluar dari kamarnya.
Di depan corong mikrofon, Soekarno menjelaskan bahwa Proklamasi hanya diucapkan satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya. Namun, penjelasan tersebut belum membuat Brata puas.
Baca Juga: 16 Agustus,Situasi Memanas di Rengasdengklok, Pemuda Desak Soekarno Segera Proklamasikan Kemerdekaan
Ia kemudian meminta Soekarno memberikan amanat singkat kepada mereka. Kali ini, permintaan tersebut dipenuhi.
Proklamasi Hanya Sekali, tetapi Maknanya Selamanya
Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan suasana yang terjadi setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya.
Baca Juga: Menjelang Sahur, Meja dan Ruang Makan Rumah Maeda Jadi Saksi Lahirnya Teks Proklamasi
Proklamasi dibacakan. Merah Putih dikibarkan. Indonesia Raya dinyanyikan secara spontan. Kemudian, mereka yang datang terlambat tetap berusaha mendengarkan langsung pesan dari Bung Karno.
Berdasarkan sumber Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, peristiwa tersebut menjadi bagian dari rangkaian penting setelah pembacaan Proklamasi pada 17 Agustus 1945.
Sebuah pernyataan kemerdekaan hanya dibacakan sekali. Namun, sejak saat itu, bangsa Indonesia memasuki babak baru: menyusun negara merdeka, Republik Indonesia.
Editor : Silvina