PONTIANAK POST - Bagaimana jika orang yang telah meninggal kembali dikeluarkan dari makam, kemudian dibersihkan, dirapikan, dan dikenakan pakaian baru? Bagi sebagian orang, tradisi tersebut mungkin terdengar menyeramkan. Namun, bagi masyarakat Toraja, Sulawesi Selatan, praktik itu merupakan bagian dari penghormatan kepada leluhur yang dikenal sebagai Ma’nene.
Tradisi Ma’nene kembali diperkenalkan melalui YouTube Shorts UnikVerse-q4i yang diunggah pada 2 Agustus 2026. Tradisi tersebut menggambarkan bagaimana hubungan keluarga dengan anggota keluarga yang telah meninggal tetap dipandang memiliki ikatan yang kuat.
Jasad Leluhur Dibersihkan dan Didandani
Baca Juga: Dari Perjalanan 40 Perahu hingga Tradisi Tahunan, Begini Sejarah Awal Ritual Robo-robo di Mempawah
Dalam tradisi Ma’nene, keluarga membuka kembali makam atau tempat penyimpanan jasad leluhur pada waktu tertentu. Jasad kemudian dikeluarkan untuk dibersihkan dan dirawat sebelum dikenakan pakaian yang telah disiapkan keluarga.
Pakaian yang dikenakan biasanya menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Jasad dirapikan dan didandani seolah keluarga sedang mempersiapkan orang yang mereka cintai untuk kembali hadir dalam kehidupan keluarga.
Bagi masyarakat Toraja yang menjalankan tradisi ini, Ma’nene bukan sekadar tindakan terhadap jasad orang yang telah meninggal. Tradisi tersebut berkaitan dengan penghormatan, kasih sayang, serta penghargaan kepada leluhur yang dianggap tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan keluarga.
Kematian Tidak Memutus Ikatan Keluarga
Tradisi ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Toraja memiliki cara tersendiri dalam memandang hubungan antara orang yang masih hidup dengan mereka yang telah meninggal.
Kematian tidak selalu dipahami sebagai berakhirnya hubungan keluarga. Kenangan, penghormatan, dan ikatan dengan leluhur tetap dipelihara melalui berbagai tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Hampir 300 Tahun Bertahan, Apa Rahasia Tradisi Robo-robo Mempawah Tetap Hidup hingga Kini?
Dalam pelaksanaannya, keluarga dapat berkumpul bersama untuk merawat jasad leluhur. Momen tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antaranggota keluarga yang mungkin tinggal berjauhan.
Ada Tradisi Membawa Jasad Berjalan
Salah satu bagian Ma’nene yang paling menarik perhatian adalah adanya praktik membawa jasad leluhur untuk berjalan atau diarak dalam lingkungan tertentu. Praktik tersebut menjadi bagian dari gambaran kuat mengenai hubungan masyarakat Toraja dengan para leluhurnya.
Baca Juga: Sedekah Bumi di Mempawah, Warga Jawa Lestarikan Tradisi dan Gotong Royong
Bagi orang yang tidak terbiasa melihatnya, pemandangan tersebut tentu dapat menimbulkan kesan berbeda. Namun, penting untuk memahami tradisi tersebut berdasarkan nilai dan konteks budaya masyarakat Toraja, bukan hanya dari tampilannya yang dianggap unik atau menyeramkan.
Ma’nene juga menunjukkan bahwa setiap masyarakat memiliki cara berbeda dalam memperlakukan dan mengenang orang yang telah meninggal. Tradisi tersebut menjadi salah satu bentuk kekayaan budaya Indonesia yang memiliki makna sosial dan kekeluargaan.
Tradisi yang Menjadi Momen Berkumpul
Baca Juga: Menyumpit hingga Gasing, Patih Jaga Pati Cup 2026 Hidupkan Tradisi dan Nasionalisme di Ketapang
Pelaksanaan Ma’nene pada waktu tertentu juga dapat menjadi momen bagi keluarga untuk berkumpul. Selain merawat leluhur, keluarga memiliki kesempatan untuk kembali bertemu, berbagi cerita, dan menjaga hubungan kekerabatan.
Karena itu, Ma’nene tidak hanya berbicara tentang kematian. Di balik ritual tersebut terdapat pesan tentang keluarga, penghormatan kepada leluhur, dan pentingnya menjaga hubungan antargenerasi.
Tradisi Ma’nene sekaligus menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki beragam budaya dengan cara pandang yang berbeda terhadap kehidupan dan kematian. Keunikan tersebut membuat tradisi Toraja terus menarik perhatian masyarakat, termasuk wisatawan dan peneliti budaya.
Baca Juga: Toraja Utara Belajar Toleransi dari Pontianak, Tiru Formula Kerukunan Lewat Budaya Ngopi di Warkop
Ma’nene bukan sekadar tradisi mengeluarkan jasad dari makam. Bagi masyarakat Toraja yang menjalankannya, ritual tersebut merupakan cara untuk menunjukkan penghormatan dan kasih sayang kepada leluhur sekaligus menjaga ikatan keluarga yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Editor : Silvina