PONTIANAK POST – Ayam tukong merupakan unggas lokal khas Kalimantan Barat yang memiliki ciri fisik berbeda dari ayam pada umumnya. Keunikan paling mudah dikenali adalah ayam ini tidak memiliki tulang ekor sehingga tidak mempunyai bulu ekor.
Ayam tukong berasal dari Kalimantan Barat dan banyak ditemukan di Kabupaten Landak, khususnya Kecamatan Mempawah Hulu. Unggas ini juga tersebar di Bengkayang, Mempawah, Sambas, Singkawang, Pontianak, Sanggau, Sintang, hingga Kapuas Hulu.
Keberadaan ayam tukong kini mendapat pengakuan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) Indonesia kategori sumber daya genetik. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) mencatatkannya melalui Surat Pencatatan Kekayaan Intelektual Komunal Nomor SDG612026000684 yang diterbitkan Kementerian Hukum pada 6 Agustus 2026.
Baca Juga: Ayam Tukong Kalbar Resmi Tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal
Ciri Ayam Tukong yang Paling Mudah Dikenali
Ciri utama ayam tukong adalah tidak memiliki tulang ekor. Kondisi tersebut membuat ayam tukong juga tidak mempunyai bulu ekor seperti ayam pada umumnya.
Secara bentuk, tubuh ayam tukong menyerupai perpaduan ayam kampung dan burung puyuh berukuran besar.
Ayam ini memiliki kepala yang relatif kecil dengan jengger berbentuk bunga. Warna bulunya juga beragam, mulai dari kombinasi merah, kuning, hitam, cokelat, hingga putih.
Perbedaan bentuk ekor menjadi salah satu karakter yang membuat ayam tukong mudah dibedakan dari ayam lokal lainnya.
Dari Mana Asal Ayam Tukong?
Ayam tukong diketahui berasal dari Kalimantan Barat. Populasinya tersebar di sejumlah kabupaten dan kota, dengan salah satu wilayah yang banyak ditemukan adalah Kabupaten Landak.
Di Landak, ayam tukong banyak ditemukan di Kecamatan Mempawah Hulu.
Selain Landak, ayam tukong juga terdapat di Kabupaten Bengkayang dan Mempawah. Persebarannya meliputi Sambas, Singkawang, Pontianak, Sanggau, Sintang, serta Kapuas Hulu.
Asal-usul Ayam Tukong dalam Pengetahuan Lokal
Dalam pengetahuan lokal masyarakat adat, ayam tukong diyakini berasal dari persilangan ayam kampung dengan ayam tabulangking.
Ayam tabulangking dikenal sebagai jenis ayam hutan lokal Kalimantan Barat. Pengetahuan tersebut menjadi bagian dari cerita masyarakat mengenai asal-usul ayam tukong dan karakter khas yang dimilikinya.
Berapa Berat Ayam Tukong?
Ayam tukong dewasa memiliki bobot yang berbeda antara jantan dan betina. Ayam tukong jantan memiliki bobot sekitar 1,7–2,5 kilogram, sedangkan betina memiliki bobot sekitar 1,2–1,7 kilogram.
Dari sisi produksi, ayam tukong dapat menghasilkan sekitar 6–12 butir telur per periode bertelur dengan daya tetas yang cukup tinggi.
Baca Juga: Lindungi Ribuan UMKM, Ketapang dan Kemenkum Kalbar Kaji Perda Kekayaan Intelektual
Ayam Tukong Jadi Plasma Nutfah Kalbar
Keunikan fisik dan keberadaannya di sejumlah wilayah membuat ayam tukong menjadi salah satu plasma nutfah yang dinilai penting bagi Kalimantan Barat.
Ayam tukong juga telah menjadi objek sejumlah penelitian dan publikasi pada jurnal nasional maupun internasional.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Disbunnak mencatat ayam tukong sebagai KIK kategori sumber daya genetik. Disbunnak Provinsi Kalbar tercatat sebagai pemohon sekaligus komunitas asal.
Kepala Bidang Peternakan Disbunnak Kalbar Novi Salim mengatakan pencatatan tersebut menjadi langkah penting dalam perlindungan, pelestarian, pengembangan, serta pemanfaatan sumber daya genetik lokal.
Baca Juga: Kanwil Kemenkum Kalbar dan DJKI Percepat Pencatatan Kekayaan Intelektual Komunal di Kalimantan Barat
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Disbunnak Kalbar Rino Anteno Tengo mengatakan ayam tukong tidak hanya menjadi bagian dari kekayaan hayati Kalbar, tetapi juga aset daerah yang dapat dikembangkan untuk konservasi, penelitian, ekonomi masyarakat, dan keberlanjutan sektor peternakan.
“Semoga pencatatan ini semakin mendorong pelestarian plasma nutfah lokal, pengembangan sumber daya genetik hewan, serta memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan pembangunan peternakan berkelanjutan di Kalbar,” katanya.
Dengan pencatatan tersebut, ayam tukong bukan sekadar unggas dengan bentuk fisik yang unik. Ayam lokal Kalimantan Barat ini kini mendapat pengakuan sebagai bagian dari kekayaan genetik daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara