Dikejar KNIL hingga Pedalaman, Perjuangan Geram Landak Terus Berlanjut

Silvina • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 13:53 WIB
Ilustrasi pejuang gerilya Geram sedang merencanakan pergerakan pasukan dan rute perlawanan di atas peta sederhana
Ilustrasi pejuang gerilya Geram sedang merencanakan pergerakan pasukan dan rute perlawanan di atas peta sederhana

 

PONTIANAK POST – Serangan Gerakan Rakyat Merdeka atau Geram terhadap posisi NICA dan KNIL di Ngabang pada 10 Oktober 1946 tidak membuat perlawanan rakyat Landak berakhir. Setelah kehabisan amunisi, pasukan Geram mundur dan melanjutkan perjuangan dengan strategi gerilya di pedalaman.

Menurut catatan Syafarudin Daeng Usman, peminat kajian sejarah Kalimantan Barat, pasukan Geram dari Sengah Temila, Darit, dan Sangku bergerak menuju Sidas. Sementara pasukan dari Ngabang dan Air Besar mundur menuju Munggu dan Ambarang sesuai rencana yang telah disiapkan sebelumnya.

Di Sidas, pasukan KNIL memburu laskar Geram yang berada di bawah pimpinan bersaudara Ngadimin Nadi dan Sardiman Nadi. Pertempuran di wilayah tersebut kemudian menjadi salah satu bagian paling berat dalam rangkaian perlawanan rakyat Landak.

Baca Juga: Sebelum Perang Meletus, Begini Awal Gerakan Rakyat Landak Kalbar Melawan NICA

Pertempuran Sidas

Dalam peristiwa di Sidas, pasukan KNIL disebut menggunakan cara yang pernah mereka lakukan sebelumnya, yakni memerintahkan rakyat untuk meletakkan senjata. Rakyat menolak perintah tersebut sehingga terjadi proses diplomasi.

Namun, ketika diplomasi berlangsung, pasukan militer Belanda disebut tiba-tiba melakukan tembakan beruntun terhadap para laskar Geram di Sidas. Sedikitnya 27 pejuang Merah Putih disebut gugur dalam peristiwa tersebut.

Baca Juga: Malam Berdarah di Ngabang, Geram Menyerang Pos NICA dan Tangsi KNIL

Beberapa nama yang disebut gugur antara lain Mane Pak Kasih, Sidong, dan Mujalin. Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik berat dalam perjuangan rakyat Landak setelah serangan di Ngabang.

Sementara itu, ruas jalan dari Ngabang menuju Sanggau dapat dikuasai KNIL. Pasukan Belanda kemudian terus melakukan pengejaran terhadap para pemimpin Geram yang memilih bergerak ke hutan-hutan.

Di Sepatah, Sengah Temila, pasukan KNIL membakar rumah Gusti Mohamad Saleh Aliudin beserta perabotannya. Istrinya, Utin Maryam, bersama anggota keluarga lainnya kemudian digiring ke Ngabang sebagai tawanan.

Baca Juga: Rumah Pegangsaan Timur 56 Jadi Saksi Proklamasi, Tapi Mengapa Soekarno Malah Membongkarnya?

Rumah Bardan Nadi Sutrisno juga dibakar. Bardan disebut berusaha meloloskan diri sambil menggendong anaknya, Paini Trisnowati, yang masih bayi. Dalam pengejaran tersebut, pasukan militer Belanda menembaki mereka.

Penangkapan dan Pengejaran

Pengejaran terhadap rakyat Landak terus berlangsung. Penggerebekan dilakukan di berbagai tempat dan sejumlah rakyat ditangkap untuk kemudian dikirim ke penjara Sungai Jawi Pontianak.

Baca Juga: Di Balik Proklamasi Pegangsaan Timur 56, Ada Kisah Faradj Martak yang Jarang Dibahas

Sejumlah pemimpin gerilya juga tertangkap, antara lain Ngadimin, Sardiman, Bardan Nadi, Gusti Abdulhamid Aun, Ya' Nasri Osman, dan Gusti Lagum Amin.

Pertempuran di Sengah Temila disebut berlangsung sengit dan baru berakhir pada 29 Oktober 1946. Sumber tersebut mencatat sejumlah korban dalam pertempuran jarak dekat di Sidas serta lokasi lain seperti Simpang Bebehan, Sepatah, dan Kilometer 20.

Namun, gerakan Geram belum sepenuhnya berhenti. Pasukan yang mundur ke arah Munggu dan Ambarang disambut rakyat di Kedama. Di wilayah tersebut juga berada sejumlah pemimpin gerilya dari Bengkayang dan Singkawang yang kemudian mengatur strategi pertempuran berikutnya.

Baca Juga: Usai Proklamasi, Utusan Jepang Datang Melarang, Jawaban Bung Karno Mengejutkan

Serangan Berlanjut

Setelah peristiwa Ngabang, Darit ditetapkan sebagai salah satu sasaran serangan berikutnya. Serangan tersebut berhasil dan sejumlah pejabat serta petugas ditawan, sementara kas pemerintah beserta barang yang ada disita.

Pasukan Geram kemudian kembali bergerak melalui sejumlah wilayah. Di Ambarang, mereka berupaya melakukan serangan menuju Ngabang, tetapi KNIL lebih dahulu menduduki lokasi tersebut setelah memperoleh informasi dari pihak yang membantu mereka.

Baca Juga: Proklamasi Dibacakan Sekali, Merdeka Selamanya: Inilah Sejarah Besar Indonesia 17 Agustus 1945

Pertempuran kembali terjadi pada tengah malam dan pasukan Geram akhirnya mundur. Setelah itu, mereka bergerak menuju Tenguwe, Sempatong hingga Pangkalan Empat di tapal batas Serawak.

Dari wilayah perbatasan tersebut, perjuangan gerilya terus dipertahankan sebelum sebagian pemimpin akhirnya kembali ke Ngabang. Rangkaian peristiwa itu menunjukkan bahwa setelah serangan di Ngabang, perlawanan Geram tidak serta-merta berakhir, tetapi berlanjut melalui gerakan gerilya di berbagai wilayah pedalaman Landak.

 

Editor : Silvina
Geram Landak pertempuran Sidas gerilya Landak KNIL di Landak perlawanan rakyat Landak