Parenting Merdeka untuk Gen Alpha, Bebas Memilih tetapi Tetap Perlu Batasan

PONTIANAK POST - Membesarkan anak tidak selalu berarti mengatur setiap langkahnya.
Anak juga membutuhkan kesempatan untuk memilih, menyampaikan pendapat, dan belajar dari keputusan yang dibuatnya.
Namun, kebebasan tetap perlu berjalan bersama arahan dan batasan yang jelas.
Salah satu pendekatan yang banyak diperbincangkan adalah parenting merdeka, yakni pola asuh yang memberi ruang kepada anak untuk berpikir dan menentukan pilihan tanpa tekanan, ketakutan, maupun paksaan berlebihan.
Psikolog Klinis Griya Psikologi, Aironi Zuroida SPsi MPsi Psikolog, menilai pendekatan tersebut relevan selama orang tua tetap hadir dalam proses tumbuh kembang anak.
’’Konsep parenting merdeka cukup baik dan relevan. Anak tetap membutuhkan orang tua yang hadir, memberikan arahan, dan menetapkan batasan,’’ ujarnya, dikutip dari Jawapos.
Tiga Dukungan Penting dalam Parenting
Dalam perspektif psikologi, parenting merdeka berkaitan dengan Self-Determination Theory (SDT).
Menurut Aironi, terdapat tiga dukungan orang tua yang penting, yakni autonomy support, involvement, dan structure.
Autonomy support berarti memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih dan terlibat dalam pengambilan keputusan.
Sementara itu, involvement ditunjukkan melalui perhatian serta keterlibatan emosional orang tua.



