Bahan Kimia Berbahaya di Rumah, Sofa hingga Wajan Antilengket Perlu Diwaspadai

Rafael B. Junior • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 19:47 WIB
Ilustrasi sofa bludru.
Ilustrasi sofa bludru.

PONTIANAK POST – Sejumlah benda yang umum ditemukan di dalam rumah ternyata dapat menjadi sumber paparan bahan kimia. Mulai dari sofa, kasur, produk pembersih, lantai vinil hingga peralatan masak antilengket, berbagai material tersebut dapat melepaskan zat yang berpotensi mengganggu kesehatan.

Dalam laporan The Guardian pada 17 Juli 2026, sejumlah ilmuwan memberikan sejumlah langkah untuk mengurangi paparan bahan kimia di lingkungan rumah. Salah satu perhatian utama adalah polusi udara dalam ruangan, bahan penghambat api, senyawa organik volatil atau VOC, plastik, serta PFAS yang dikenal sebagai forever chemicals.

Polusi dari Aktivitas Memasak dan Membakar

Menurut laporan tersebut, pembakaran di dalam rumah dapat menghasilkan polusi udara, baik saat memasak menggunakan gas, menggoreng makanan, menyalakan tungku kayu, membakar dupa, maupun rokok.

Baca Juga: Sering Dibuang Sembarangan, 9 Barang Ini Bisa Jadi Limbah Berbahaya

Profesor Francis Pope dari University of Birmingham mengatakan manusia menghabiskan sekitar 80-90 persen waktunya di dalam ruangan. Kondisi tersebut membuat konsentrasi polutan di dalam rumah berpotensi cukup tinggi.

Memasak menggunakan gas juga menghasilkan nitrogen dioksida dan partikel berukuran sangat kecil yang disebut PM2.5. Partikel tersebut dapat masuk jauh ke dalam paru-paru.

Cara sederhana yang disarankan adalah membuka jendela jika kondisi lingkungan memungkinkan, mengurangi aktivitas pembakaran di dalam ruangan, menggunakan penyedot asap saat memasak, serta membersihkan atau mengganti filternya secara berkala.

Sofa dan Kasur Bisa Mengandung Bahan Penghambat Api

Perabot seperti sofa, kasur, karpet, tirai, bantal, dan material bangunan juga menjadi perhatian karena dapat mengandung bahan kimia penghambat api.

Baca Juga: 5 Trik Membersihkan Rumah dari Nenek yang Terbukti Praktis dan Hemat

Laporan tersebut menyebut bahan penghambat api telah digunakan pada berbagai furnitur dan perlengkapan rumah di Inggris sejak 1980-an. Sejumlah penelitian mengaitkan paparan bahan tersebut dengan gangguan endokrin dan dampak kesehatan lainnya, termasuk potensi pengaruh terhadap perkembangan kognitif.

Dalam sebuah pengujian terhadap lingkungan tidur anak, peneliti juga menemukan bahan penghambat api serta plasticiser dan phthalate. Gerakan seperti anak yang memantul di kasur dapat mempercepat pelepasan bahan kimia tersebut.

Untuk mengurangi paparan, konsumen dapat mempertimbangkan material alami seperti wol, katun, kulit, atau kayu solid yang tidak membutuhkan tambahan bahan kimia penghambat api. Penggunaan penyedot debu dengan filter HEPA dan membersihkan permukaan menggunakan kain lembap juga disarankan.

Baca Juga: Feng Shui Kamar Tidur: 7 Aturan Headboard yang Disebut Bisa Bawa Energi Positif

Produk Pembersih Tidak Selalu Berarti Lebih Aman

Penggunaan produk pembersih secara berlebihan juga menjadi perhatian. Bahkan produk yang dipasarkan sebagai berbahan alami dapat mengandung senyawa organik volatil atau VOC.

Menurut profesor Nicola Carslaw dari University of York, VOC dapat bereaksi dengan ozon di lingkungan dalam ruangan dan menghasilkan partikel berukuran sangat kecil atau formaldehida.

Penyemprotan produk pembersih, parfum, deodoran, dan produk aerosol lainnya dapat menambah konsentrasi bahan kimia di udara. Pewangi ruangan yang menggunakan sistem plug-in, minyak esensial, dan fragrance sticks juga disebut dapat terus melepaskan senyawa volatil ke dalam rumah.

Langkah yang disarankan adalah mengurangi penggunaan produk pembersih dan perawatan tubuh yang tidak diperlukan. Produk pembersih juga dapat dituangkan ke kain daripada disemprotkan langsung ke permukaan, kemudian ruangan diberi ventilasi dengan membuka jendela.

Produk Antibakteri Tak Selalu Diperlukan

Penjualan produk pembersih antibakteri meningkat sekitar 40-60 persen selama pandemi. Namun, laporan tersebut menyebut sejumlah bukti menunjukkan produk antibakteri tidak lebih aman atau lebih efektif dibandingkan sabun dan deterjen biasa.

Penggunaan bahan antibakteri secara berlebihan juga dikhawatirkan memberikan kesempatan bagi mikroorganisme untuk mengembangkan pertahanan terhadap bahan tersebut.

Untuk kebutuhan sehari-hari, sabun dan air disebut dapat menjadi pilihan yang lebih baik atau sama efektifnya dalam menghilangkan kuman.

Lantai Vinil Dapat Melepaskan Plasticiser

Lantai vinil juga termasuk material yang perlu diperhatikan. Plasticiser digunakan untuk membuat plastik lebih fleksibel, tetapi bahan tersebut dapat terlepas seiring waktu.

Sebagian plasticiser merupakan phthalate yang dikenal sebagai pengganggu hormon. Sementara itu, beberapa plasticiser non-phthalate juga masih belum memiliki kepastian mengenai tingkat keamanannya.

Menurut Paul Scheepers, ahli toksikologi dari Radboud University di Belanda, plasticiser yang terlepas dari lantai vinil dapat masuk ke debu dan kemudian terhirup. Bahan tersebut juga dapat masuk melalui kulit. Anak-anak yang sering merangkak di lantai berpotensi lebih banyak terpapar melalui kontak tangan ke mulut.

Jika lantai tidak dapat diganti, menjaga debu tetap terkendali menjadi salah satu langkah penting. Lantai vinil disarankan dibersihkan menggunakan metode pel dengan air daripada penyedotan debu.

Waspadai PFAS pada Wajan Antilengket

Salah satu bahan kimia yang mendapat perhatian khusus adalah PFAS atau per- and polyfluoroalkyl substances. Senyawa ini sering disebut forever chemicals karena sulit terurai.

PFAS digunakan dalam lapisan antilengket karena memiliki ketahanan terhadap minyak, air, sinar ultraviolet, dan panas. Namun, menurut laporan tersebut, bahan ini dapat menjadi masalah ketika lapisan wajan tergores atau mengalami panas berlebihan.

PFAS tidak hanya ditemukan pada peralatan masak antilengket. Senyawa tersebut juga digunakan dalam kemasan makanan, kosmetik, furnitur, pakaian luar ruangan, cat, obat-obatan, busa pemadam kebakaran, hingga bahan penolak noda pada seragam sekolah anak.

Paparan PFAS tingkat tinggi selama kehamilan dikaitkan dengan perkembangan janin yang lebih lambat dan berat lahir lebih rendah. Paparan berlebihan sepanjang kehidupan juga dikaitkan dengan sejumlah kondisi kesehatan, termasuk kanker tertentu, kerusakan hati, penyakit tiroid, peningkatan kolesterol, dan obesitas.

Karena itu, wajan antilengket yang sudah tergores atau berubah bentuk sebaiknya tidak digunakan. Jika memungkinkan, konsumen dapat beralih ke peralatan masak berbahan besi cor atau baja. Penggunaan spatula logam pada permukaan antilengket juga sebaiknya dihindari karena dapat mempercepat kerusakan lapisan.

Ventilasi Menjadi Langkah Sederhana

Berbagai sumber paparan tersebut menunjukkan pentingnya menjaga kualitas udara dan mengurangi penggunaan material yang berpotensi melepaskan bahan kimia.

Membuka jendela ketika memungkinkan, mengurangi penyemprotan produk pembersih dan pewangi, menggunakan ventilasi saat memasak, membersihkan debu secara rutin, serta mengganti peralatan masak antilengket yang sudah rusak menjadi beberapa langkah yang dapat dilakukan di rumah.

Laporan The Guardian menekankan bahwa mengurangi seluruh paparan bahan kimia di rumah tidak selalu mudah. Namun, perubahan sederhana dalam kebiasaan dan pemilihan produk dapat menjadi langkah untuk mengurangi paparan sehari-hari. (*)

Editor : Rafael B. Junior
bahan kimia berbahaya PFAS bahan kimia rumah polusi udara rumah wajan antilengket