Tak Hanya Andalkan PDAM, Ini Cara Mendapatkan Sumber Air Bersih Sendiri Menurut BRIN

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 17:12 WIB

 

Ilustrasi cara kerja teknologi rainwater harvesting atau pemanenan air hujan sebagai alternatif sumber air bersih bagi masyarakat.
Ilustrasi cara kerja teknologi rainwater harvesting atau pemanenan air hujan sebagai alternatif sumber air bersih bagi masyarakat.

 

PONTIANAK POST - Selain mengandalkan jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), terdapat sejumlah sumber air alternatif yang dapat dikembangkan secara mandiri.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan beberapa teknologi pengolahan air yang dapat disesuaikan dengan karakteristik wilayah. Mulai dari memanen air hujan, mengambil air dari kelembapan udara, hingga mengolah air payau.

Air Hujan Bisa Dipanen

Salah satu teknologi yang diperkenalkan BRIN adalah rainwater harvesting atau pemanenan air hujan.

Teknologinya relatif sederhana dalam konsep. Air hujan ditampung, disaring, kemudian melalui proses pengolahan sebelum digunakan. BRIN juga mengembangkan sistem remineralisasi dengan menambahkan mineral seperti kalsium dan magnesium.

Menurut Dewan Pengarah BRIN sekaligus inovator teknologi pengolahan air bersih I Gede Wenten, air hujan relatif murni sehingga berpotensi menjadi sumber air alternatif bagi wilayah yang memiliki curah hujan tinggi tetapi menghadapi keterbatasan air tanah.

Konsep ini dapat menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat untuk memiliki sumber air alternatif, terutama ketika pasokan air perpipaan terbatas.

Namun, air hujan yang ditampung tetap perlu dikelola dengan benar. Kebersihan bidang penangkap, talang, bak penampungan, serta proses penyaringan menjadi bagian penting sebelum air digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

Udara Pun Bisa Jadi Sumber Air

Sumber air ternyata tidak hanya berasal dari permukaan tanah atau hujan.

BRIN juga memperkenalkan Atmospheric Water Generator (AWG), teknologi yang mengambil uap air dari udara lembap kemudian mengembunkannya menjadi air.

Teknologi ini berpotensi digunakan di wilayah pesisir atau pulau-pulau terpencil yang memiliki kelembapan udara tinggi tetapi sulit memperoleh sumber air.

Kelemahannya adalah kebutuhan energi yang relatif besar. Karena itu, BRIN mengembangkan versi yang dapat menggunakan tenaga surya sehingga lebih memungkinkan diterapkan di daerah yang memiliki keterbatasan listrik maupun bahan bakar.

Air Payau Bisa Diolah

Bagi masyarakat pesisir, persoalan air bersih sering kali berbeda. Air tersedia dalam jumlah besar, tetapi sebagian berupa air laut atau air payau yang tidak dapat langsung diminum.

Untuk kondisi tersebut, BRIN memperkenalkan teknologi solar still.

Sistem ini menggunakan panas matahari untuk menguapkan air. Uap kemudian dikondensasikan sehingga menghasilkan air tawar.

Teknologi tersebut dinilai cocok untuk komunitas pesisir dan nelayan yang menghadapi keterbatasan air bersih.

Dengan memanfaatkan energi matahari, teknologi ini juga membuka peluang pengolahan air di lokasi yang sulit dijangkau jaringan listrik.

Saat Bencana, Air Bisa Diolah Tanpa Listrik

Teknologi penyediaan air bersih juga dikembangkan untuk kondisi darurat.

BRIN memiliki teknologi pompa sepeda membran yang dapat digunakan untuk menyaring air tanpa membutuhkan listrik. Teknologi tersebut dikembangkan dari pengalaman kebutuhan air bersih saat penanganan bencana tsunami Aceh.

Ada pula Emergency Water Bag yang menggunakan membran hollow fiber. Air kotor dimasukkan ke satu sisi, kemudian air yang telah melewati proses penyaringan keluar dari sisi lainnya.

Teknologi semacam ini dapat menjadi alternatif ketika sumber listrik dan infrastruktur air bersih terganggu akibat bencana.

Bukan Berarti Semua Air Bisa Langsung Diminum

Meski berbagai sumber air tersedia di sekitar masyarakat, pemanfaatannya tidak berarti air dapat langsung dikonsumsi.

Kualitas air tetap harus diperiksa dan disesuaikan dengan teknologi pengolahan yang digunakan. Air hujan, air sungai, air payau, maupun air yang dihasilkan dari udara memiliki karakteristik berbeda.

Karena itu, pengolahan menjadi tahap penting sebelum air digunakan sebagai air minum.

BRIN sendiri menekankan konsep eco-efficient dalam pengelolaan air, yakni menghasilkan air dengan penggunaan energi, bahan kimia, lahan, dan biaya operasional yang seefisien mungkin.

Prinsipnya bukan sekadar mendapatkan air, tetapi memastikan pasokan tersebut berkelanjutan dan tidak menimbulkan persoalan lingkungan baru.

 

Pilihan solusi menurut BRIN

Kondisi wilayah Alternatif sumber/teknologi
Curah hujan tinggi Pemanenan air hujan dan remineralisasi
Wilayah lembap/pesisir Atmospheric Water Generator (AWG) untuk mengembunkan uap air
Pesisir dan air payau Solar still memanfaatkan panas matahari
Kondisi bencana/tanpa listrik Pompa sepeda membran dan Emergency Water Bag
Sungai/reservoir Teknologi membran dengan tekanan air alami

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
rain harvesting PDAM BRIN Hujan sumber air