Mengenal Gusti Nurul, Putri Bangsawan yang Menolak Cinta Bung Karno dan Pinangan Sultan HB IX

Silvina • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:19 WIB
 
 
Gusti Nurul
Gusti Nurul merupakan putri Mangkunegaran yang dikenal berpendidikan, berbakat seni, dan teguh menentukan pilihan hidupnya. (DOK JAWA POS) 
 
 
PONTIANAK POST-Gusti Nurul bukan sekadar putri bangsawan Pura Mangkunegaran. Perempuan bernama lengkap Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani ini dikenal karena kecantikan, pendidikan, kemampuan seni, serta prinsip hidupnya yang membuat sejumlah tokoh besar gagal menjadi pasangan hidupnya.

Berdasarkan situs resmi Pura Mangkunegaran, Gusti Nurul merupakan putri K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VII dan Gusti Kanjeng Ratu Timur, putri Sultan Hamengku Buwono VII. Ia lahir di Surakarta pada 17 September 1921 dan sejak kecil mendapatkan pendidikan formal sekaligus pembinaan dalam seni dan olahraga.

Putri Mangkunegaran yang Mendunia

Baca Juga: Dari Deklarasi Jenewa hingga UNICEF, Begini Sejarah Perlindungan Hak Anak yang Menginspirasi Indonesia

Pura Mangkunegaran mencatat Gusti Nurul pernah bersekolah di Taman Kanak-kanak Pamardi Siwi, Europesche Lagere School (ELS) Pasar Legi, MULO, hingga van Deventer School. Ia juga dikenal menyukai berkuda, memanah, membaca, menulis puisi, dan menari.

Namanya semakin dikenal ketika berusia 15 tahun. Pada 1937, Gusti Nurul tampil membawakan Tari Sari Tunggal di Belanda dalam rangkaian pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernhard. Menurut Pura Mangkunegaran, penampilan tersebut berlangsung di hadapan Ratu Belanda, keluarga kerajaan, dan para pejabat.

Kecantikan, pendidikan, serta kepribadiannya kemudian membuat Gusti Nurul menjadi perhatian kalangan elite. Pura Mangkunegaran menyebut sejumlah tokoh besar yang pernah memiliki ketertarikan kepadanya, antara lain Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Soekarno, Sutan Sjahrir, dan Gusti Pangeran Harya Djatikoesoemo.

Baca Juga: Penemuan Surya Majapahit Raksasa di Mojokerto Ungkap Misteri Bangunan Besar Era Kerajaan Majapahit

Pinangan Sultan HB IX

Salah satu kisah paling terkenal adalah pinangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Menurut Monumen Pers Nasional, lembaga pemerintah yang berada di bawah Kementerian Komunikasi dan Digital, Sultan HB IX pernah mengirim utusan ke Pura Mangkunegaran untuk meminang Gusti Nurul.

Kisah tersebut dirangkum Monumen Pers Nasional dari buku Gusti Noeroel: Streven Naar Geluk karya Ully Hermono. Dalam kisah itu, Gusti Nurul disebut diproyeksikan menjadi permaisuri Sultan HB IX. Namun, tawaran tersebut akhirnya ditolak.

Baca Juga: Inilah Kisah Menarik Gajah Mada dan Sumpah Palapa yang Melegenda

Keputusan Gusti Nurul berkaitan dengan prinsipnya mengenai kehidupan rumah tangga. Monumen Pers Nasional mencatat Gusti Nurul tidak ingin menjalani kehidupan sebagai perempuan yang dimadu. Pengalaman ibunya turut memengaruhi pandangan tersebut.

Penolakan itu ternyata tidak membuat hubungan Gusti Nurul dan Sultan HB IX menjadi buruk. Menurut Monumen Pers Nasional, Sultan menerima keputusan tersebut dengan besar hati dan hubungan keduanya tetap terjaga.

Soekarno Juga Menaruh Hati

Baca Juga: Dewi Soekarno Kembali ke Indonesia Saat HUT ke-81 RI, Ini Kisah Cintanya dengan Bung Karno

Selain Sultan HB IX, Soekarno juga disebut memiliki ketertarikan terhadap Gusti Nurul. Namun, berdasarkan sumber Monumen Pers Nasional, kisah Soekarno lebih tepat disebut sebagai ketertarikan atau perasaan, bukan lamaran resmi.

Soekarno pernah mengundang Gusti Nurul ke Istana Cipanas. Ia juga meminta pelukis Basuki Abdullah membuat lukisan Gusti Nurul yang kemudian dipajang di ruang kerja presiden pertama Indonesia tersebut.

Gusti Nurul tetap tidak menanggapi perasaan Soekarno. Prinsipnya untuk tidak dimadu menjadi salah satu pertimbangan. Monumen Pers Nasional juga mencatat kondisi rumah tangga dan kehidupan politik Soekarno turut menjadi alasan Gusti Nurul tidak memilihnya.

Baca Juga: S.K. Trimurti, Wartawati Pejuang yang Berani Melawan Kolonial Belanda Lewat Tulisan

Memilih Seorang Perwira

Setelah menolak sejumlah tokoh besar, Gusti Nurul akhirnya memilih R.M. Soejarsoejarso Soerjosoerarso, seorang perwira militer. Menurut Monumen Pers Nasional, suaminya merupakan perwira TNI yang kemudian menjalani karier militer di berbagai tempat.

Pura Mangkunegaran mencatat Gusti Nurul kemudian menjalani kehidupan bersama suaminya dan mengikuti perjalanan tugasnya, termasuk ketika sang suami bertugas sebagai Atase Militer di Washington DC.

Baca Juga: Pidato Terakhir Soekarno di HUT RI 1966: Pesan Keras tentang "Jasmerah"

Kisah Gusti Nurul pada akhirnya bukan hanya cerita tentang seorang putri cantik yang pernah menarik perhatian Sultan dan presiden. Ia juga menjadi gambaran tentang perempuan bangsawan yang berani menentukan jalan hidupnya sendiri. Di tengah kesempatan untuk masuk ke lingkaran kekuasaan, Gusti Nurul memilih mempertahankan prinsip dan menikah dengan pria yang menjadi pilihannya.

 

Editor : Silvina
Gusti Nurul Mangkunegaran Sultan HB IX sejarah Jawa soekarno