PONTIANAK POST– Penggunaan air asin dalam aktivitas rumah tangga perlu mendapat perhatian, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir atau menggunakan sumber air dengan kandungan garam tinggi. Jika digunakan secara terus-menerus, air dengan kadar garam tinggi dapat mempercepat korosi dan memengaruhi sejumlah komponen mesin cuci.
Smart Appliance Services menjelaskan, paparan air asin tidak hanya dapat berasal dari sumber air rumah tangga. Residu garam juga dapat masuk ke mesin cuci ketika pakaian renang, handuk, atau perlengkapan lain yang terkena air laut langsung dicuci tanpa dibilas terlebih dahulu.
Masalah tersebut umumnya tidak muncul setelah satu atau dua kali pencucian. Paparan garam secara berulang dapat menyebabkan penumpukan residu dan meningkatkan risiko kerusakan komponen dalam jangka panjang.
Baca Juga: Air Laut Masuk Kapuas, Pontianak Andalkan Waduk Penepat Kurangi Kadar Garam Air Baku PDAM
Mengapa Air Asin Bisa Merusak Mesin Cuci?
Kandungan garam pada air asin dapat mempercepat proses korosi pada komponen berbahan logam. Di dalam mesin cuci, kondisi tersebut dapat memengaruhi bagian seperti drum, katup saluran masuk air, pompa, dan komponen logam lainnya.
Selain korosi, kandungan mineral yang terbawa air juga dapat meninggalkan endapan pada bagian tertentu. Penumpukan tersebut berpotensi mengurangi efisiensi kerja sejumlah komponen mesin.
Karet seal dan gasket juga dapat mengalami penurunan kondisi apabila terus terpapar lingkungan yang kurang mendukung. Dalam jangka panjang, berbagai masalah tersebut dapat berkembang menjadi kebocoran atau gangguan fungsi mesin.
Baca Juga: LPKI Sebut Air PDAM di Pontianak Asin Saat Kemarau Langgar Hak Konsumen
1. Muncul Titik Karat pada Drum
Salah satu tanda yang dapat diperiksa adalah munculnya titik-titik karat pada bagian dalam drum mesin cuci.
Perubahan warna menjadi kecokelatan atau oranye perlu diperhatikan karena dapat menunjukkan mulai terjadinya korosi pada komponen logam.
Jika permukaan drum semakin kasar akibat karat, pakaian juga berpotensi tersangkut atau mengalami kerusakan ketika proses pencucian berlangsung.
2. Mesin Mengeluarkan Suara Tidak Biasa
Suara dengungan yang lebih keras, bunyi berderit, atau suara lain yang sebelumnya tidak pernah terdengar juga perlu diwaspadai.
Perubahan suara dapat menjadi tanda bahwa salah satu komponen mesin mulai mengalami gangguan.
Jika kondisi tersebut muncul bersamaan dengan penggunaan air asin secara terus-menerus, pemeriksaan mesin sebaiknya dilakukan untuk mengetahui sumber masalah.
Baca Juga: Usia Bukan Penghalang, Studi Temukan Cara Sederhana Menjaga dan Meningkatkan Kesehatan Otak
3. Air Mulai Merembes dari Mesin
Kebocoran menjadi tanda lain yang tidak boleh diabaikan.
Air yang merembes dari bagian bawah mesin atau sekitar pintu dapat berkaitan dengan masalah pada selang, pompa, katup, seal, maupun gasket.
Korosi pada komponen tertentu juga dapat memperbesar risiko terjadinya kebocoran.
4. Waktu Pencucian Berubah
Perubahan durasi siklus pencucian juga dapat menjadi tanda adanya gangguan pada mesin.
Penumpukan mineral atau masalah pada komponen tertentu dapat membuat mesin bekerja tidak seefisien sebelumnya.
Jika waktu pencucian menjadi lebih lama atau siklus tidak berjalan seperti biasanya, kondisi mesin sebaiknya diperiksa.
Baca Juga: Rumah Selalu Berdebu Meski Rajin Dibersihkan? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
5. Hasil Cucian Tidak Lagi Maksimal
Masalah pada mesin cuci juga dapat terlihat dari hasil pencucian.
Pakaian yang biasanya bersih tetapi mulai memiliki noda, bau, atau hasil pencucian yang kurang maksimal dapat menjadi tanda bahwa performa mesin mengalami penurunan.
Kondisi tersebut tidak selalu disebabkan oleh air asin, tetapi dapat menjadi salah satu indikator bahwa mesin membutuhkan pemeriksaan dan pembersihan.
6. Muncul Bau Tidak Biasa
Air dengan kandungan garam dan mineral tinggi dapat meninggalkan residu pada bagian dalam mesin.
Apabila mesin mulai mengeluarkan bau yang tidak biasa atau pakaian memiliki aroma berbeda setelah dicuci, bagian dalam mesin perlu dibersihkan.
Pembersihan rutin dapat membantu mengurangi penumpukan residu yang berasal dari air maupun pakaian.
7. Korosi Semakin Terlihat
Jika titik karat mulai menyebar atau muncul pada beberapa bagian mesin, jangan menunggu sampai mesin mengalami kerusakan total.
Korosi yang terus berlangsung dapat memengaruhi komponen lain dan pada akhirnya meningkatkan biaya perbaikan.
Karena itu, pemeriksaan sejak munculnya tanda awal menjadi langkah yang lebih baik dibandingkan menunggu kerusakan menjadi parah.
Jangan Langsung Masukkan Pakaian yang Terkena Air Laut
Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir, pakaian renang, handuk, atau perlengkapan yang digunakan di pantai sebaiknya tidak langsung dimasukkan ke mesin cuci.
Bilas terlebih dahulu menggunakan air bersih untuk mengurangi sisa garam yang menempel pada kain.
Langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi jumlah residu garam yang masuk ke dalam mesin selama proses pencucian.
Bersihkan Mesin Secara Berkala
Mesin cuci perlu dibersihkan secara rutin, terlebih jika sering digunakan untuk mencuci pakaian yang terkena air asin.
Setelah mencuci pakaian dengan kandungan garam tinggi, bagian dalam drum dapat dibersihkan dan mesin dapat dijalankan dalam kondisi kosong menggunakan program pembersihan jika tersedia.
Untuk penggunaan air panas atau produk pembersih tertentu, ikuti petunjuk dalam buku manual karena setiap mesin memiliki ketentuan yang berbeda.
Biarkan Bagian Dalam Mesin Mengering
Setelah proses pencucian selesai, pintu mesin cuci sebaiknya tidak langsung ditutup rapat.
Biarkan bagian dalam mesin mendapatkan sirkulasi udara hingga kering. Langkah ini membantu mengurangi kelembapan yang tertinggal di dalam drum.
Kondisi bagian dalam mesin yang lembap, ditambah residu garam, dapat menciptakan lingkungan yang kurang baik bagi komponen tertentu.
Pada mesin cuci bukaan atas, bagian tutup juga dapat dibiarkan terbuka setelah pencucian selesai agar bagian dalam tidak terus berada dalam kondisi lembap.
Perhatikan Sumber Air di Rumah
Masalah air asin tidak hanya berkaitan dengan pakaian yang terkena air laut.
Rumah yang berada di kawasan pesisir atau menggunakan air sumur dengan kandungan garam tinggi dapat membuat mesin cuci terpapar air dengan kadar garam secara terus-menerus.
Jika air rumah terasa asin atau terdapat dugaan kandungan garam yang tinggi, kualitas air dapat diperiksa untuk mengetahui kondisinya.
Apabila kandungan garam atau mineral memang tinggi, penggunaan sistem penyaringan air dapat dipertimbangkan sesuai kondisi sumber air dan kebutuhan rumah tangga.
Jangan Lupakan Mesin Pelembut Air
Penggunaan perangkat pelembut air atau water softener juga perlu diperhatikan.
Beberapa sistem pelembut air menggunakan garam dalam proses pengolahan air. Jika perangkat tidak dirawat dengan baik, sistem tersebut dapat menjadi sumber tambahan kandungan garam dalam air.
Karena itu, perawatan water softener perlu dilakukan sesuai petunjuk dari produsen.
Air Asin Tidak Langsung Merusak Mesin
Penggunaan air asin tidak berarti mesin cuci akan langsung rusak dalam satu kali pencucian.
Persoalan utama adalah paparan garam yang terjadi berulang kali dan dalam jangka panjang. Semakin sering mesin terpapar air dengan kandungan garam tinggi, semakin besar perhatian yang perlu diberikan terhadap kebersihan dan kondisi komponennya.
Bagi masyarakat di wilayah pesisir Indonesia, beberapa kebiasaan sederhana dapat dilakukan, mulai dari membilas pakaian yang terkena air laut menggunakan air bersih, membersihkan mesin secara berkala, memastikan bagian dalam mesin tetap kering, hingga memeriksa kualitas sumber air.
Jika muncul tanda seperti karat, kebocoran, suara tidak biasa, atau penurunan kinerja, pemeriksaan lebih lanjut sebaiknya dilakukan sebelum kerusakan berkembang menjadi lebih serius. (*)
Editor : Rafael B. Junior