PONTIANAK POST – Selama ini ulat sagu dikenal sebagai hama yang merusak batang tanaman sagu. Namun, riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan sisi lain dari larva Rhynchophorus spp. tersebut: berpotensi menjadi sumber protein alternatif dengan kadar protein tepung kering hingga sekitar 60 persen.
Potensi itu dibahas dalam Webinar EstCrops_Corner #31 bertema “Rhynchophorus spp. (Ulat Sagu) pada Perkebunan Sagu di Indonesia: Peran Ganda sebagai Hama Perusak Batang dan Sumber Daya Pangan”, yang digelar Pusat Riset Tanaman Perkebunan (PRTP), Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Jumat (28/8).
Temuan ini membuka perspektif baru. Organisme yang selama ini dipandang sebagai pengganggu perkebunan berpeluang masuk ke rantai nilai pangan, pakan hingga industri.
Kepala ORPP BRIN Puji Lestari mengatakan sagu memiliki posisi strategis dalam diversifikasi pangan nasional. Komoditas ini tidak hanya berpotensi menjadi sumber pangan, tetapi juga bahan baku industri dan sumber ekonomi masyarakat.
Dalam konteks tersebut, ulat sagu memiliki peran ganda.
“Di satu sisi memiliki potensi sebagai sumber pangan alternatif yang berkelanjutan, tetapi di sisi lain juga berperan sebagai hama,” kata Puji.
Protein Ulat Sagu Capai 60 Persen
Peneliti Ahli Madya PRTP ORPP BRIN Rein E. Senewe mengungkapkan hasil kajian bioekologi Rhynchophorus spp. pada tanaman inang utama sagu.
Rein mengamati perkembangan larva pada batang sagu yang telah ditebang dan menemukan lima tahap perkembangan atau instar. Informasi tersebut penting untuk mengetahui pertumbuhan larva sekaligus menentukan waktu yang potensial untuk pemanfaatan.
Dari penelitian itu ditemukan periode yang disebut sebagai “jendela panen emas”, yakni sekitar 75–90 hari setelah batang sagu ditebang.
Pada periode tersebut, biomassa larva berada pada kondisi potensial untuk dimanfaatkan. Biomassa maksimum yang diamati mencapai sekitar 4,62 gram.
Yang lebih menarik, tepung kering ulat sagu berpotensi memiliki kadar protein hingga sekitar 60 persen.
Selain protein, tepung ulat sagu juga mengandung lemak serta asam lemak omega-3, omega-6, dan omega-9.
Sebagai gambaran, sejumlah sumber protein hewani yang umum dikonsumsi memiliki kadar protein lebih rendah jika dihitung dalam bentuk segar. Dada ayam tanpa kulit berada sekitar 31–37 persen, tuna 25–30 persen, daging sapi tanpa lemak 26–31 persen, udang sekitar 24 persen, sedangkan salmon atau ikan kembung sekitar 20–22 persen.
Namun, perbandingan tersebut tidak bisa dibaca sebagai adu kandungan protein secara langsung, karena kadar 60 persen pada ulat sagu yang dipaparkan BRIN merujuk pada tepung kering, sementara angka bahan pangan seperti ayam dan ikan umumnya merujuk pada bahan segar yang masih mengandung banyak air.
Perbandingan Kandungan Protein Sumber Hewani
| Sumber protein | Kandungan protein | Bentuk bahan | Catatan |
|---|---|---|---|
| Tepung ulat sagu | hingga ±60% | Kering | Hasil kajian BRIN; juga mengandung lemak dan omega-3, 6, 9 |
| Dada ayam tanpa kulit | 31–37% | Segar | Tinggi protein, relatif rendah lemak |
| Daging sapi tanpa lemak | 26–31% | Segar | Sumber protein dan zat besi |
| Ikan tuna | 25–30% | Segar | Mengandung asam lemak dan mineral |
| Udang | ±24% | Segar | Protein tinggi dan relatif rendah kalori |
| Salmon/kembung | 20–22% | Segar | Kaya lemak sehat, termasuk omega-3 |
| Telur utuh | 12–13% | Segar | Mengandung protein, lemak, vitamin, dan mineral |
Bukan Sekadar Tinggi Protein
Rein menekankan, potensi nutrisi bukan satu-satunya pertimbangan untuk menjadikan ulat sagu sebagai pangan.
Aspek bioekologi, keamanan pangan, hingga risiko penyebaran hama harus diteliti lebih lanjut.
Artinya, pemanfaatan larva tidak boleh dilakukan dengan mengabaikan keberlanjutan perkebunan sagu. Riset diperlukan untuk menentukan bagaimana larva dapat dimanfaatkan tanpa justru meningkatkan populasi organisme yang merusak tanaman.
Aspek lain yang tak kalah penting adalah memastikan jenis ulat yang dimanfaatkan.
Peneliti Ahli Pertama Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi ORHL BRIN Anang Setyo Budi mengatakan identifikasi Rhynchophorus tidak cukup hanya berdasarkan warna atau bentuk tubuh.
Identifikasi perlu menggabungkan karakter morfologi, morfometri, genitalia hingga analisis molekuler melalui pendekatan taksonomi integratif.
Hal ini penting karena terdapat spesies yang memiliki kemiripan morfologi, termasuk R. vulneratus dan R. ferrugineus.
Dari Hama Menjadi Bioinovasi
Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan ORPP BRIN Setiari Marwanto mengatakan perspektif terhadap ulat sagu perlu diperluas.
Sagu memiliki nilai pangan, industri, ekologis dan sosial. Namun, keberlanjutan perkebunan menghadapi tantangan, salah satunya serangan Rhynchophorus spp.
Karena itu, persoalannya bukan hanya bagaimana membasmi ulat sagu, tetapi juga bagaimana mengelolanya agar dapat dimanfaatkan secara aman dan bernilai ekonomi.
Potensi tersebut bahkan mulai dilirik industri.
Dr. (H.C.) Jenny Widjaja dari PT Sagolicious Indonesia Prima memaparkan peluang Rhynchophorus spp. untuk diolah menjadi tepung protein yang dapat dikembangkan bagi kebutuhan pangan, bahan baku industri maupun pakan.
Temuan BRIN tersebut membuka kemungkinan lahirnya rantai nilai baru dari sumber daya hayati lokal.
Jika penelitian mengenai keamanan pangan, budidaya, pengolahan dan keekonomian terus diperkuat, ulat sagu yang selama ini dianggap sebagai musuh perkebunan berpotensi memiliki nilai baru.
Dari hama yang selama ini dibasmi, menjadi bahan yang bisa diteliti, diolah, dan berpotensi menghasilkan nilai ekonomi. Namun, jalan menuju pangan alternatif tersebut masih membutuhkan riset dan pengujian lebih lanjut.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro