Kayu 430.000 Tahun Ini Justru Bikin Sejarah Manusia Berubah Total

Budi Miank • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 16:34 WIB
Ilustrasi dan dokumentasi artefak kayu berusia sekitar 430.000 tahun dari situs Marathousa 1, Yunani, yang disebut sebagai alat kayu genggam tertua yang diketahui.(Milks et al. 2026/PNAS)
Ilustrasi dan dokumentasi artefak kayu berusia sekitar 430.000 tahun dari situs Marathousa 1, Yunani, yang disebut sebagai alat kayu genggam tertua yang diketahui.(Milks et al. 2026/PNAS)

PONTIANAK POST - Dua alat kayu yang diperkirakan berusia sekitar 430.000 tahun ditemukan di situs Marathousa 1, Yunani, dan kini diidentifikasi sebagai alat kayu genggam tertua yang diketahui. 

Temuan itu memperlihatkan bahwa manusia purba ternyata sudah memilih, membentuk, dan menggunakan kayu sebagai bagian dari teknologi sehari-hari jauh sebelum peradaban modern mengenal perkakas seperti sekarang.

Yang menarik, salah satu benda bukan sekadar batang kayu biasa. Artefak berbahan pohon alder itu berukuran sekitar 81 sentimeter dengan diameter hingga 4,5 sentimeter dan menunjukkan bekas pahatan, pemotongan serta keausan akibat penggunaan. 

Baca Juga: Mengapa Sembahyang Rebut Digelar pada Bulan Ketujuh Imlek? Ini Sejarahnya

Bentuk dan jejak pemakaiannya membuat peneliti menduga benda tersebut digunakan sebagai tongkat untuk menggali atau alat serbaguna di tepi danau purba.

Sementara itu, artefak kedua justru lebih kecil dan misterius. Terbuat dari willow atau poplar, benda tersebut hanya berukuran sekitar 5,7 sentimeter dan memperlihatkan tanda pengupasan, pembentukan serta kemungkinan keausan akibat penggunaan. 

Peneliti belum dapat memastikan fungsinya, tetapi ukurannya mengindikasikan benda itu mungkin dipegang di antara jari dan berpotensi berkaitan dengan pembuatan atau penyelesaian alat batu.

Temuan tersebut berasal dari kawasan bekas tepian danau di Marathousa 1, Cekungan Megalopolis, Peloponnese, Yunani. 

Baca Juga: Tak Sekadar Konvoi, Astra Motor Kalbar Ajak Bikers Kenali Sejarah Pontianak

Situs itu dikenal menyimpan berbagai bukti aktivitas hominin, termasuk lebih dari 2.000 artefak batu, tulang yang telah dikerjakan serta sisa-sisa gajah bertaring lurus yang menunjukkan tanda pemotongan dan aktivitas pengolahan oleh manusia purba.

Bagi tim peneliti, keberhasilan menemukan benda berbahan kayu dalam kondisi dapat dianalisis merupakan sesuatu yang sangat langka. 

Kayu biasanya membusuk dan lenyap jauh sebelum sempat masuk ke catatan arkeologi, sedangkan sedimen yang tergenang air dan minim oksigen di Marathousa 1 membantu mengawetkan material organik tersebut selama ratusan ribu tahun.

Arkeolog Paleolitik dari University of Reading, Annemieke Milks, mengatakan tim harus memeriksa sisa-sisa kayu secara sangat teliti untuk membedakan jejak aktivitas manusia dari kerusakan alami. 

“Kami sangat beruntung, benar-benar sangat beruntung,” kata Milks mengenai penemuan tersebut, seperti dikutip dari Science News.

Milks dan timnya meneliti 144 sisa kayu yang ditemukan selama penggalian di Marathousa 1. 

Baca Juga: Sejarah Bank Mandiri: Gabungan Empat Bank BUMN dan Lahir di Tengah Krisis

Melalui analisis morfologi, mikroskopis, taksonomi dan taphonomi, mereka menyaring benda-benda yang benar-benar menunjukkan modifikasi oleh hominin. Hasilnya, dua spesimen dinilai sebagai artefak kayu yang dikerjakan manusia.

Penelitian tersebut dipimpin oleh Annemieke Milks bersama Katerina Harvati dan melibatkan peneliti dari sejumlah institusi, termasuk University of Reading, University of Tübingen, Aristotle University of Thessaloniki dan lembaga penelitian di Yunani. 

Hasil riset mereka diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 2026 dengan judul Evidence for the earliest hominin use of wooden handheld tools found at Marathousa 1 (Greece).

Temuan ini penting karena selama ini gambaran teknologi manusia purba banyak dibentuk oleh benda-benda dari batu. 

Baca Juga: Bukan Hanya Dinasti Fatimiyah, UAS Bahas Sosok Al-Malik Muzaffar dalam Sejarah Maulid Nabi

Bukan karena batu pasti lebih sering digunakan, melainkan karena batu jauh lebih mampu bertahan terhadap proses pembusukan dibandingkan kayu, serat tumbuhan, kulit atau bahan organik lainnya. 

Dengan kata lain, catatan arkeologi selama ini bisa saja hanya memperlihatkan sebagian kecil dari teknologi yang benar-benar pernah digunakan manusia purba.

Marathousa 1 juga memberikan gambaran mengenai lingkungan yang cukup berbahaya. 

Di lokasi yang sama ditemukan potongan batang alder dengan guratan dalam yang ditafsirkan sebagai bekas cakar hewan karnivora besar. 

Peneliti mempertimbangkan keberadaan beruang, singa atau kemungkinan predator besar lain yang hidup di kawasan tersebut pada masa Pleistosen Tengah.

Temuan kayu dari Yunani itu bukan bukti tertua bahwa hominin pernah mengolah kayu. Di Kalambo Falls, Zambia, ditemukan struktur kayu yang diperkirakan berusia sedikitnya 476.000 tahun. 

Baca Juga: Dinasti Fatimiyah dan Syiah : Siapa Kelompok Ini dalam Sejarah Islam?

Namun, benda dari Zambia tersebut dipahami sebagai material konstruksi, bukan alat kayu genggam. 

Karena itu, artefak Marathousa 1 dinilai sebagai bukti tertua yang saat ini diketahui untuk alat kayu genggam.

Para peneliti belum dapat memastikan siapa tepatnya pembuat alat tersebut karena tidak ditemukan sisa manusia di lokasi. 

Namun, Milks menyebut pembuatnya kemungkinan merupakan anggota genus Homo yang hidup di Eropa Selatan pada periode tersebut, termasuk kemungkinan Homo heidelbergensis atau hominin awal yang berkaitan dengan Neanderthal.

Lebih dari sekadar tongkat tua, dua benda itu membuka kemungkinan bahwa kemampuan teknologi manusia purba jauh lebih beragam daripada yang selama ini terlihat dari artefak batu. 

Sekitar 430.000 tahun lalu, manusia sudah memanfaatkan berbagai bahan, kayu, batu dan tulang, untuk menghadapi kebutuhan hidup, sementara sebagian besar bukti dari kehidupan sehari-hari mereka kemungkinan sudah lama lenyap dimakan waktu. (*)

Editor : Budi Miank
Alat kayu manusia purba arkeologi yunani