PONTIANAK POST - Matahari ternyata tidak sekadar menjadi sumber cahaya bagi masyarakat Mesir kuno.
Di sejumlah kuil, pergerakan matahari justru menjadi bagian dari rancangan arsitektur, dengan posisi bangunan dan arah lorong diperhitungkan agar sinar matahari masuk ke ruang tertentu pada waktu yang sangat spesifik.
Salah satu bukti paling terkenal berada di Kuil Abu Simbel, Mesir selatan. Dua kali setahun, pada 22 Februari dan 22 Oktober, cahaya matahari menembus bagian dalam kuil dan mencapai ruang suci, menerangi patung Ramses II serta dewa Amun-Re dan Re-Horakhty, sementara patung Ptah tetap berada dalam bayangan. Pada peristiwa 22 Februari 2026, fenomena itu berlangsung sekitar 22 menit.
Baca Juga: Kayu 430.000 Tahun Ini Justru Bikin Sejarah Manusia Berubah Total
Yang membuatnya menarik, fenomena tersebut bukan sekadar pertunjukan cahaya alami.
Pemerintah Mesir menyebutnya sebagai bukti kemampuan masyarakat Mesir kuno memadukan seni, ilmu pengetahuan, astronomi dan teknik dalam pembangunan kuil.
Ahmed Massoud, Kepala Inspektorat Purbakala Abu Simbel, mengatakan fenomena itu mewujudkan keagungan kreativitas Mesir kuno dalam menggabungkan berbagai bidang tersebut.
Fenomena itu menunjukkan bahwa posisi matahari telah menjadi bagian penting dalam perencanaan ruang sakral.
Baca Juga: Mengapa Sembahyang Rebut Digelar pada Bulan Ketujuh Imlek? Ini Sejarahnya
Sinar matahari harus melewati bagian depan dan lorong kuil sebelum mencapai Holy of Holies atau tempat paling suci di bagian dalam bangunan.
Menurut informasi resmi pemerintah Mesir, cahaya tersebut masuk bersama sinar matahari pertama pada pagi hari.
Berkas cahaya kemudian bergerak hingga mencapai patung-patung di ruang suci, menciptakan efek pencahayaan yang hanya terjadi pada waktu tertentu dalam setahun.
“Fenomena ini mencerminkan kemampuan Mesir kuno menghubungkan fenomena alam dengan peristiwa pertanian dan keagamaan,” kata Massoud, seperti dikutip dari keterangan resmi pemerintah Mesir.
Menariknya, Abu Simbel bukan satu-satunya lokasi di Mesir yang memperlihatkan hubungan antara arsitektur dan pergerakan matahari.
Sejumlah situs lain, termasuk kawasan kuil di Fayoum dan New Valley, juga dikaitkan dengan pengamatan terhadap posisi matahari saat terbit dan terbenam.
Baca Juga: Tak Sekadar Konvoi, Astra Motor Kalbar Ajak Bikers Kenali Sejarah Pontianak
Bagi masyarakat Mesir kuno, astronomi bukan pengetahuan yang berdiri sendiri.
Pengamatan terhadap benda langit berkaitan dengan penentuan waktu, musim, pertanian, kalender serta pelaksanaan ritual keagamaan.
Karena itu, arah dan sumbu bangunan dapat memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar kebutuhan konstruksi.
Di Abu Simbel, hubungan tersebut terlihat sangat jelas. Kuil Ramses II dibangun dengan orientasi tertentu sehingga cahaya matahari dapat menempuh jalur panjang dari pintu masuk hingga ruang suci di bagian dalam.
Baca Juga: Bukan Hanya Dinasti Fatimiyah, UAS Bahas Sosok Al-Malik Muzaffar dalam Sejarah Maulid Nabi
Informasi resmi Mesir menyebut cahaya tersebut mencapai ruang yang berada sekitar 60 meter dari pintu masuk.
Fenomena itu juga tetap bertahan setelah Kuil Abu Simbel dipindahkan. Pada 1960-an, kompleks kuil dipindahkan untuk menyelamatkannya dari ancaman tenggelam akibat pembangunan Bendungan Tinggi Aswan.
Para insinyur kemudian harus mempertahankan orientasi astronomisnya agar hubungan antara posisi matahari dan ruang suci tetap bekerja.
National Geographic mencatat bahwa dalam proses pemindahan tersebut, para insinyur harus memastikan orientasi astronomis bangunan tetap tepat sehingga matahari masih dapat menyinari Ramses II dua kali dalam setahun.
Kompleks baru Abu Simbel kemudian diresmikan pada 1968 setelah proses pemindahan dan pembangunan kembali yang berlangsung bertahun-tahun.
Ada pula perubahan kecil pada tanggal terjadinya fenomena setelah pemindahan. Pemerintah Mesir mencatat bahwa sebelum kuil dipindahkan, peristiwa penyinaran terjadi pada 21 Februari dan 21 Oktober.
Baca Juga: Sejarah Maulid Nabi: Dari Fatimiyah yang Disebut Berafiliasi dengan Syiah hingga Tradisi Nusantara
Setelah bangunan dipindahkan, fenomena tersebut berlangsung pada 22 Februari dan 22 Oktober karena perubahan posisi geografis kuil.
Di titik inilah kecerdikan arsitektur Mesir kuno terasa semakin sulit dianggap kebetulan.
Mereka tidak hanya membangun bangunan besar untuk menunjukkan kekuasaan, tetapi juga memanfaatkan pengetahuan mengenai pergerakan matahari untuk mengatur bagaimana cahaya bekerja di dalam ruang sakral.(*)
Editor : Budi Miank