Sphinx Bukan Sekadar Patung Singa, Misteri Raja Pemiliknya Masih Bikin Arkeolog Garuk Kepala

Budi Miank • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 17:35 WIB
Sphinx Agung di Giza, Mesir, menjadi salah satu peninggalan paling ikonik sekaligus misterius dari peradaban Mesir kuno.(UNSPLASH/@Hongbin) 
Sphinx Agung di Giza, Mesir, menjadi salah satu peninggalan paling ikonik sekaligus misterius dari peradaban Mesir kuno.(UNSPLASH/@Hongbin) 

PONTIANAK POST - Ribuan tahun berdiri di dataran Giza, Mesir, Sphinx Agung masih menyimpan satu pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab.

Sejumlah bukti arkeologis mengaitkan Sphinx dengan Raja Khafre dari Dinasti Keempat, tetapi atribusi itu belum menutup seluruh perdebatan di kalangan peneliti. 

Sphinx selama ini diyakini dibangun pada masa pemerintahan Khafre, penguasa Mesir kuno yang juga dikenal sebagai pemilik piramida terbesar kedua di kompleks Giza. 

Baca Juga: Kayu 430.000 Tahun Ini Justru Bikin Sejarah Manusia Berubah Total

Hubungan lokasi Sphinx dengan piramida dan kuil Khafre menjadi salah satu dasar utama yang digunakan untuk mengaitkan monumen tersebut dengan sang raja. 

Namun, misterinya belum benar-benar selesai. Sejumlah peneliti masih membuka kemungkinan mengenai identitas tokoh yang direpresentasikan pada wajah Sphinx maupun alasan spesifik pembangunannya. 

Dengan kata lain, wajah batu itu memang sudah lama terlihat jelas, tetapi identitas di baliknya belum sepenuhnya terkunci.

Sphinx Agung merupakan salah satu monumen paling ikonik dalam peradaban Mesir kuno. 

Baca Juga: Mengapa Sembahyang Rebut Digelar pada Bulan Ketujuh Imlek? Ini Sejarahnya

Bentuknya menggabungkan tubuh singa dengan kepala manusia, sebuah perpaduan yang menggambarkan kekuatan fisik sekaligus kewibawaan seorang penguasa. 

Dalam simbolisme Mesir kuno, singa kerap dikaitkan dengan kekuatan dan perlindungan. 

Sementara kepala manusia memberikan unsur kerajaan pada patung tersebut. 

Perpaduan itu membuat Sphinx tidak sekadar menjadi karya pahatan monumental, tetapi juga bagian dari cara masyarakat Mesir kuno menggambarkan kekuasaan.

Posisi Sphinx juga menjadi petunjuk penting dalam perdebatan mengenai asal-usulnya. 

Monumen tersebut berada di kawasan yang sama dengan piramida Khufu, Khafre, dan Menkaure, dengan Sphinx memiliki keterkaitan arsitektural yang kuat dengan kompleks Khafre. 

Baca Juga: Tak Sekadar Konvoi, Astra Motor Kalbar Ajak Bikers Kenali Sejarah Pontianak

Khafre sendiri merupakan penguasa Dinasti Keempat, periode yang menjadi salah satu masa penting dalam perkembangan arsitektur monumental Mesir. 

Piramidanya di Giza menjadi bagian dari kompleks pemakaman kerajaan yang hingga kini menjadi salah satu situs arkeologi paling terkenal di dunia.

Meski begitu, menyebut Khafre sebagai pembuat atau pemilik Sphinx secara mutlak masih terlalu dini. 

Voice of Emirates menekankan bahwa atribusi tersebut didasarkan pada rangkaian bukti arkeologis dan historis, sementara sejumlah hipotesis alternatif mengenai tokoh yang digambarkan masih menjadi bahan perdebatan ilmiah.

Baca Juga: Sejarah Bank Mandiri: Gabungan Empat Bank BUMN dan Lahir di Tengah Krisis

Sumber Voice of Emirates menyebut Sphinx sebagai bagian integral dari lanskap arkeologi Giza sekaligus simbol peradaban Mesir kuno. 

Hingga kini, patung tersebut tetap menjadi salah satu bukti kemampuan masyarakat Mesir kuno dalam menggabungkan seni pahat, arsitektur, simbolisme, dan konsep kekuasaan dalam satu monumen raksasa. 

Pada akhirnya, Raja Khafre memang menjadi kandidat utama yang dikaitkan dengan Sphinx. 

Tetapi selama bukti yang benar-benar menentukan belum ditemukan, patung berkepala manusia itu masih berhak menyimpan sedikit rahasianya sendiri, setelah lebih dari 4.000 tahun berdiri menghadap gurun Giza. (*)

Editor : Budi Miank
Mesir kuno Sphinx Raja Khafre Piramida Giza