PKI dan Gerakan Buruh 1920–1924, Dari Pemogokan hingga Perluasan Organisasi

Silvina • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 13:03 WIB
Ilustrasi aktivitas buruh dan organisasi pekerja pada masa awal perkembangan gerakan politik di Hindia Belanda.
Ilustrasi aktivitas buruh dan organisasi pekerja pada masa awal perkembangan gerakan politik di Hindia Belanda.

 

PONTIANAK POST – Perkembangan PKI pada awal 1920-an tidak terlepas dari gerakan buruh dan organisasi pekerja yang telah tumbuh sebelum partai tersebut berdiri.

Artikel ini mengutip tulisan D.N. Aidit, Lahirnya PKI dan Perkembangannya, yang dimuat di  Marxists.org. Tulisan itu disampaikan Aidit pada 23 Mei 1955 dalam peringatan ulang tahun ke-35 PKI.

Pengaruh di Kalangan Buruh

Baca Juga: Sejarah Lahirnya PKI, Berawal dari Gerakan Buruh dan ISDV pada 1920

Menurut Aidit, setelah berdiri pada 1920, PKI berkembang cukup cepat dan memperoleh pengaruh di kalangan organisasi buruh.

Salah satu organisasi yang disebut adalah PPKB. Kongres organisasi tersebut di Semarang pada Agustus 1920 dihadiri 22 serikat buruh dengan total anggota 72.000 orang.

Aidit menyebut pengaruh kaum komunis terutama berkembang melalui VSTP, serikat buruh kereta api yang sebelumnya telah berdiri pada 1908.

Baca Juga: Sejarah Kebebasan Pers Indonesia, Dari Sensor Hingga Era Reformasi

Gelombang Pemogokan

Pada 1920, terjadi pemogokan buruh di Jawa dan Sumatra. Dalam tulisan Aidit, aksi tersebut disebut umumnya berakhir dengan kemenangan buruh.

Ia menilai pengalaman tersebut memberikan semangat bagi kaum buruh sekaligus memperkuat pemahaman tentang pentingnya organisasi dan disiplin.

Baca Juga: Dari Disambut hingga Dibenci, Begini Sejarah Jepang di Indonesia

Perkembangan gerakan buruh tersebut kemudian membuat pemerintah kolonial semakin khawatir terhadap meningkatnya pengaruh komunis. 

Data Organisasi pada 1924

Perkembangan organisasi juga tercatat dalam Kongres PKI di Kotagede, Yogyakarta, pada Desember 1924.

Baca Juga: Proklamasi Dibacakan Sekali, Merdeka Selamanya: Inilah Sejarah Besar Indonesia 17 Agustus 1945

Aidit menulis bahwa ketika itu PKI memiliki 28 seksi dengan 1.140 anggota. Sementara Serikat Rakyat yang disebut sebagai organisasi pendukung PKI memiliki 46 seksi dengan 31.000 anggota.

Namun, Aidit juga memberikan kritik terhadap perkembangan internal partai. Ia menilai pertumbuhan anggota belum sepenuhnya diikuti konsolidasi organisasi, pendidikan politik, dan penguatan kader.

Persoalan Internal dan Tekanan Kolonial

Baca Juga: Kisah Lahirnya Nama Indonesia dan Peran Pemuda dalam Sejarah Kebangsaan

Dalam tulisan tersebut, Aidit menyebut adanya persoalan internal, termasuk apa yang ia sebut sebagai kecenderungan “kiri” dalam kepemimpinan.

Pada saat bersamaan, tekanan pemerintah kolonial juga meningkat. Aidit mencatat pemecatan buruh yang melakukan pemogokan, penangkapan petani, pembubaran sekolah, pelarangan surat kabar buruh, hingga penangkapan pemimpin buruh.

Situasi tersebut kemudian menjadi bagian dari rangkaian persoalan yang mengarah pada pemberontakan 1926.

 

Editor : Silvina
sejarah PKI gerakan buruh PKI 1920 VSTP PPKB