Studi Terbaru Ungkap Kepribadian Ternyata Dipengaruhi Genetik, Ini Temuannya

Rafael B. Junior • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 15:01 WIB
Ilustrasi DNA dan kepribadian manusia. Studi terbaru menemukan ribuan varian genetik berkaitan dengan karakter dalam Big Five.
Ilustrasi DNA dan kepribadian manusia. Studi terbaru menemukan ribuan varian genetik berkaitan dengan karakter dalam Big Five.

PONTIANAK POST - Kepribadian seseorang selama ini kerap dikaitkan dengan lingkungan, pengalaman hidup, pola asuh, hingga pergaulan. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa faktor genetik juga memiliki peran dalam membentuk karakter seseorang.

Dikutip dari Real Simple, penelitian yang melibatkan hingga 1,14 juta orang dari 46 kelompok penelitian di berbagai negara menemukan lebih dari 1.200 varian genetik yang berkaitan dengan lima karakter utama kepribadian atau Big Five.

Kelima karakter tersebut mencakup keterbukaan terhadap pengalaman (openness), kehati-hatian dan kedisiplinan (conscientiousness), ekstroversi (extraversion), keramahan (agreeableness), serta neurotisisme (neuroticism).

Baca Juga: Cara Jadi Pribadi Menarik Tanpa Harus Berpura-Pura di Depan Orang Lain

Tidak Ada Satu Gen yang Menentukan Kepribadian

Penelitian ini dilakukan oleh Michigan State University bersama Revived Genomics of Personality Consortium dengan menggunakan data dari 46 kohort penelitian.

Para peneliti menganalisis sampel DNA dan jawaban peserta dalam kuesioner kepribadian. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara ribuan variasi genetik dengan karakter dalam Big Five.

Namun, temuan tersebut tidak berarti ada satu gen tertentu yang menentukan apakah seseorang akan menjadi ekstrover, pendiam, disiplin, atau mudah cemas.

Ted Schwaba, peneliti utama dari Michigan State University, menjelaskan bahwa pengaruh masing-masing varian genetik terhadap kepribadian sangat kecil. Pengaruh tersebut baru terlihat lebih besar ketika berbagai varian genetik diperhitungkan secara bersamaan.

Dengan kata lain, kepribadian merupakan karakter kompleks yang terbentuk dari banyak faktor, bukan hasil kerja satu gen.

Baca Juga: Tak Suka Banyak Teman, 3 Zodiak Ini Sangat Selektif Menjaga Lingkaran Pertemanan

Pengaruh Genetik Terlihat di Berbagai Populasi

Salah satu temuan menarik dari penelitian tersebut adalah pola hubungan antara variasi genetik dan kepribadian terlihat cukup konsisten pada kelompok masyarakat yang berbeda.

Misalnya, variasi genetik yang berkaitan dengan ekstroversi pada orang dewasa muda di Belanda juga dapat memprediksi kecenderungan ekstroversi pada orang yang lebih tua di Amerika Serikat.

Peneliti juga menggunakan analisis terhadap hubungan keluarga untuk membantu memastikan bahwa temuan tersebut bukan sekadar akibat lingkungan tempat seseorang dibesarkan.

Studi yang dipublikasikan di Nature ini merupakan salah satu analisis genetik terbesar mengenai kepribadian yang pernah dilakukan. Namun, para peneliti menekankan bahwa masih terdapat bagian besar dari variasi kepribadian yang belum dapat dijelaskan oleh varian genetik umum yang dianalisis.

Baca Juga: Teman Suka Menyendiri, Bisa Jadi Dia Seorang yang Cerdas

Kepribadian Berkaitan dengan Kebiasaan dan Pilihan Hidup

Penelitian tersebut juga menemukan adanya hubungan antara variasi genetik yang berkaitan dengan kepribadian dan sejumlah aspek kehidupan lainnya.

Varian yang berkaitan dengan conscientiousness, misalnya, dikaitkan dengan kecenderungan seseorang lebih aktif pada siang hari.

Sementara itu, variasi yang berkaitan dengan openness dan extraversion ditemukan berhubungan dengan kecenderungan menjadi lebih aktif pada malam hari atau night owl. Beberapa variasi yang berkaitan dengan openness juga berhubungan dengan perpindahan tempat tinggal ke kawasan yang lebih kosmopolitan.

Peneliti juga menemukan hubungan antara pola genetik kepribadian dan sejumlah indikator kesehatan, pendidikan, pekerjaan, serta gaya hidup.

Varian yang terkait dengan neurotisisme, misalnya, dikaitkan dengan lebih banyak kunjungan ke rumah sakit. Sementara itu, variasi yang berkaitan dengan keterbukaan terhadap pengalaman berhubungan dengan pendapatan dan kecenderungan berpindah pekerjaan.

Bukan Berarti Kepribadian Sudah Ditentukan Sejak Lahir

Meski menemukan hubungan kuat antara DNA dan kepribadian, penelitian ini tidak menunjukkan bahwa seseorang sudah memiliki kepribadian yang sepenuhnya tetap sejak lahir.

Pengaruh genetik bekerja bersama faktor lingkungan dan pengalaman hidup. Penelitian sebelumnya juga telah menunjukkan bahwa karakter manusia merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor biologis dan lingkungan.

Karena itu, hasil studi ini lebih tepat dipahami sebagai bukti bahwa gen ikut berkontribusi terhadap perbedaan kepribadian antarindividu, bukan sebagai penentu tunggal perilaku seseorang.

Temuan tersebut membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai bagaimana faktor genetik dan lingkungan berinteraksi dalam membentuk kepribadian, termasuk kaitannya dengan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan berbagai pilihan hidup. (*)

Editor : Rafael B. Junior
genetik studi terbaru psikologi DNA kepribadian