Menjelang 1965, Sayid Fahrul Baraqbah Pimpin PKI dan Front Nasional di Kalimantan Timur

Silvina • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 14:19 WIB
Ilustrasi suasana politik Kalimantan Timur menjelang 1965 dengan sosok tokoh politik dan massa buruh.
Ilustrasi suasana politik Kalimantan Timur menjelang 1965 dengan sosok tokoh politik dan massa buruh.

 

PONTIANAK POST – Menjelang 1965, Sayid Fahrul Baraqbah tercatat sebagai salah satu tokoh politik PKI di Kalimantan Timur. Ia pernah menjadi pimpinan Comite Daerah Besar PKI Kalimantan Timur dan memiliki pengaruh di kalangan buruh minyak di Balikpapan.

Riwayat tersebut dibahas Tirto dalam artikel Sayid dan Komunis dari Kalimantan dan ditulis Petrik Matanasi.

Memimpin PKI Kalimantan Timur

Baca Juga: Sejarah Lahirnya PKI, Berawal dari Gerakan Buruh dan ISDV pada 1920

Fahrul kembali ke Kalimantan Timur pada awal 1950 setelah melewati masa perjuangan revolusi. Di daerah asalnya, ia kemudian menjadi salah satu pimpinan Comite Daerah Besar PKI Kalimantan Timur.

Organisasi tersebut disebut setara dengan DPD tingkat provinsi. Fahrul juga memiliki pengaruh di kalangan buruh minyak di Balikpapan yang banyak menjadi anggota organisasi yang berafiliasi dengan PKI.

Masuk MPRS

Baca Juga: Sejarah Lahirnya PKI, Berawal dari Gerakan Buruh dan ISDV pada 1920

Pada masa Demokrasi Terpimpin, posisi politik Fahrul semakin menonjol. Ia menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara sejak 15 September 1960.

Dalam catatan tersebut, Fahrul memiliki nomor anggota 57/B. Ia juga menduduki posisi Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur.

Selain itu, Fahrul tercatat memimpin Front Nasional Kalimantan Timur menjelang 1965.

Baca Juga: PKI dan Gerakan Buruh 1920–1924, Dari Pemogokan hingga Perluasan Organisasi

Pandangan Politik Fahrul

Dalam Kongres Nasional Ke-VI PKI pada September 1959, Fahrul menyampaikan pandangannya mengenai pemerintahan daerah di Kalimantan Timur.

Ia menentang keberadaan kekuasaan feodal atau swapraja yang menurutnya masih memberikan ruang bagi kelompok yang disebutnya sebagai kaum feodal dan anti-demokrasi.

Baca Juga: PKI dan Pemberontakan 1926, Dari Persoalan Internal hingga Tekanan Belanda

Fahrul juga mendukung nasionalisasi perusahaan asing dan menyoroti keberadaan perusahaan pelayaran Belanda KPM.

Ditangkap Setelah G30S

Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Jakarta, Fahrul kemudian ditangkap.

Baca Juga: Setelah Dilarang Belanda, PKI Bergerak di Bawah Tanah hingga Masa Pendudukan Jepang

Penangkapan tersebut menjadi bagian akhir dari perjalanan politik Fahrul Baraqbah yang sebelumnya berlangsung sejak masa perjuangan melawan Belanda, keterlibatannya dalam Pesindo dan Front Demokrasi Rakyat, hingga menjadi salah satu tokoh PKI di Kalimantan Timur.

Kisah Fahrul menunjukkan adanya tokoh keturunan Arab di Kalimantan Timur yang mengambil jalur politik komunis, berbeda dari pilihan politik sebagian besar keluarga dan lingkungan keturunan Arab di daerah tersebut.

Editor : Silvina
Fahrul Baraqbah PKI 1965 Front Nasional Kalimantan Timur G30S