PONTIANAK POST – Sejarah Gerakan 30 September 1965 dapat ditelusuri dalam rangkaian dinamika politik Indonesia yang berlangsung sejak beberapa tahun sebelumnya. Salah satu kajian yang dikutip dalam pemberitaan sejarah menyebut adanya kaitan antara PKI, rencana negara komunis, dan Konfrontasi Indonesia-Malaysia.
Pembahasan tersebut tidak berdiri sendiri. Sebelumnya, ditemukan buku kecil ABC Revolusi yang disebut ditulis CC (Comite Central) PKI pada 1957. Buku itu disebut merinci tiga tahapan rencana revolusi atau pemberontakan dengan tujuan mendirikan negara komunis di Indonesia.
Konfrontasi Indonesia-Malaysia
Baca Juga: Jejak Rencana Negara Komunis PKI, Dokumen 1957 Ungkap Tiga Tahap Pemberontakan
Guru besar Universitas dr Soetomo Surabaya Prof Dr Sam Abede Pareno juga merujuk buku Memoir on The Formation of Malaysia karya Ghazali Shafie yang diterbitkan Universiti Kebangsaan Malaysia.
Menurut Pareno, buku tersebut menunjukkan kaitan antara Konfrontasi Indonesia-Malaysia dan PKI. Ia menyebut Bung Karno tidak menghadiri persidangan puncak dengan Tunku Abdul Rahman di Tokyo pada 1963 karena PKI tidak menyukai pertemuan tersebut.
Pareno menilai Konfrontasi Indonesia-Malaysia bukan sekadar persoalan aksi massa atau hubungan Indonesia-Malaysia. Menurut keterangannya, konfrontasi tersebut disebut berkaitan dengan upaya PKI agar rencana besarnya untuk membangun negara komunis tidak terbaca.
Baca Juga: Menjelang 1965, Sayid Fahrul Baraqbah Pimpin PKI dan Front Nasional di Kalimantan Timur
Dari Konflik Politik Menuju 1965
Dalam rangkaian sejarah tersebut, PKI juga disebut memanfaatkan situasi ketika pemerintah Indonesia menghadapi berbagai persoalan besar.
Salah satu yang disebut adalah kondisi ketika Indonesia menghadapi Agresi Militer I Belanda pada 1947. Dalam situasi tersebut terjadi pemberontakan Madiun pada 1948.
Baca Juga: Jejak Sayid Fahrul Baraqbah di Kalimantan Timur, dari Gerilyawan hingga Tokoh PKI
Beberapa tahun kemudian, ketika pemerintah Indonesia tengah menghadapi agenda Ganyang Malaysia, Pareno menyebut PKI kemudian terlibat dalam rangkaian peristiwa yang berujung pada Gerakan 30 September 1965.
Dengan demikian, pembahasan mengenai G30S 1965 dalam sumber tersebut ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian konflik politik yang lebih panjang, bukan sebagai peristiwa yang muncul tanpa latar belakang.
Pemberitaan ANTARA pada 2014 mencatat keterangan Prof Dr Sam Abede Pareno mengenai hubungan antara Konfrontasi Indonesia-Malaysia, PKI, dan peristiwa 1965.)
Baca Juga: Kisah Sayid Fahrul Baraqbah, Keturunan Arab dari Kalimantan yang Bergabung dengan PKI
Jejak tersebut memperlihatkan bahwa untuk memahami sejarah G30S 1965, sejumlah peristiwa politik sebelumnya juga menjadi bagian dari konteks yang perlu ditelusuri melalui dokumen dan sumber sejarah.
Editor : Silvina