PONTIANAK POST – Lima bulan sebelum pecahnya Gerakan 30 September 1965, Lembaga Sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) tengah menyiapkan sebuah buku yang merangkum perjalanan partai tersebut selama 45 tahun.
Buku yang direncanakan itu berjudul Sejarah 45 Tahun PKI. Konsep penulisannya telah selesai sebelum peristiwa G30S 1965 terjadi.
Manuskrip Disiapkan Menjelang Usia 45 Tahun
Baca Juga: Jejak PKI Sebelum G30S 1965, Konfrontasi Malaysia Disebut Berkaitan dengan Rencana Negara Komunis
Menurut catatan historia.id, rencana penerbitan buku tersebut disiapkan sebagai kado ulang tahun ke-45 PKI. Lembaga Sejarah PKI menjadi pihak yang mempersiapkannya dengan merangkum perjalanan partai.
Pada 4 Mei 1965, Busjarie Latif yang saat itu menjabat sekretaris Lembaga Sejarah PKI mengirimkan surat kepada sejumlah rekannya untuk menyampaikan manuskrip tersebut.
Manuskrip itu disusun menggunakan sejumlah bahan, mulai dari dokumen-dokumen partai, hasil riset kepustakaan, hingga materi kuliah Akademi Politik Aliarcham.
Baca Juga: Jejak Rencana Negara Komunis PKI, Dokumen 1957 Ungkap Tiga Tahap Pemberontakan
Diskusi Tak Pernah Terlaksana
Manuskrip tersebut rencananya dibahas bersama sekitar 35 orang. Busjarie Latif dalam suratnya menyampaikan bahwa penentuan diskusi selanjutnya akan diberitahukan kemudian.
Namun, rencana diskusi tersebut tidak pernah terlaksana.
Baca Juga: Menjelang 1965, Sayid Fahrul Baraqbah Pimpin PKI dan Front Nasional di Kalimantan Timur
Lima bulan setelah surat itu dikirim, pecah peristiwa Gerakan 30 September 1965. Peristiwa tersebut kemudian diikuti pembantaian massal terhadap orang-orang komunis, termasuk Busjarie Latif.
Manuskrip Ikut Hancur
Setelah peristiwa tersebut, berbagai hal yang berkaitan dengan komunisme dirampas dan dihancurkan. Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI turut menjadi bagian dari benda yang mengalami nasib tersebut.
Baca Juga: Jejak Sayid Fahrul Baraqbah di Kalimantan Timur, dari Gerilyawan hingga Tokoh PKI
Dengan demikian, buku yang dipersiapkan untuk merangkum perjalanan PKI selama 45 tahun itu tidak pernah menyelesaikan proses pembahasannya.
Rencana tersebut berhenti di tengah jalan pada 1965, bersamaan dengan perubahan besar situasi politik Indonesia setelah pecahnya G30S.
Editor : Silvina