Jenderal S. Parman Ternyata Adik Petinggi PKI, tetapi Berseberangan hingga Gugur di Lubang Buaya

Silvina • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 11:07 WIB
Jenderal S. Parman dikenal sebagai perwira intelijen yang memiliki perjalanan hidup unik karena berseberangan dengan kakaknya yang menjadi petinggi PKI. (DOK WIKIPEDIA)
Jenderal S. Parman dikenal sebagai perwira intelijen yang memiliki perjalanan hidup unik karena berseberangan dengan kakaknya yang menjadi petinggi PKI. (DOK WIKIPEDIA)

 

PONTIANAK POST – Jenderal S. Parman memiliki kisah keluarga yang menarik di balik perjalanan hidupnya sebagai salah satu Pahlawan Revolusi. Ia ternyata merupakan adik kandung Sakirman, salah satu petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI). Meski bersaudara, keduanya memiliki pandangan yang berseberangan.

Informasi tersebut tercatat dalam Biografiku.com yang mengulas perjalanan hidup S. Parman, mulai dari masa pendidikan, karier militer, kiprahnya sebagai perwira intelijen, hingga gugurnya dalam peristiwa 1965.

Anak Keenam dari 11 Bersaudara

Baca Juga: Sejarah Lahirnya PKI, Berawal dari Gerakan Buruh dan ISDV pada 1920

S. Parman lahir dengan nama Siswondo Parman di Wonosobo, Jawa Tengah, 4 Agustus 1918. Ia merupakan anak keenam dari 11 bersaudara.

Ayahnya bernama Kromodihardjo dan bekerja sebagai pedagang. Sejak kecil, S. Parman bersama saudara-saudaranya membantu ibunya berjualan di Pasar Wonosobo.

Pendidikan S. Parman dimulai di HIS Wonosobo. Setelah lulus, ia melanjutkan ke MULO di Yogyakarta dan kemudian masuk AMS atau Algemeene Middelbare School.

Baca Juga: PKI dan Gerakan Buruh 1920–1924, Dari Pemogokan hingga Perluasan Organisasi

Pendidikannya di AMS sempat terhenti setelah ayahnya meninggal dunia. Selama hampir dua tahun tidak bersekolah, S. Parman membantu ibunya berdagang di Pasar Wonosobo.

Ia kemudian kembali melanjutkan pendidikan di AMS hingga lulus dan masuk Sekolah Tinggi Kedokteran (STOVIA) di Jakarta. Namun, pendidikannya sebagai calon dokter tidak selesai setelah tentara Jepang menduduki Indonesia.

Dari Kempeitai hingga TKR

Baca Juga: PKI dan Pemberontakan 1926, Dari Persoalan Internal hingga Tekanan Belanda

Setelah tidak dapat meneruskan pendidikan kedokteran, S. Parman sempat bekerja di Jawatan Kenpeitai. Ia pernah dicurigai oleh Jepang dan ditangkap, tetapi kemudian dibebaskan.

Ia selanjutnya dikirim ke Jepang untuk mengikuti pendidikan pada Kenpei Kasya Butai. Setelah kembali ke tanah air, ia kembali bekerja pada Jawatan Kempeitai.

Karier militernya kemudian dimulai setelah bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), tentara Republik Indonesia yang dibentuk setelah proklamasi kemerdekaan.

Baca Juga: Setelah Dilarang Belanda, PKI Bergerak di Bawah Tanah hingga Masa Pendudukan Jepang

Pada akhir Desember 1945, S. Parman diangkat menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara di Yogyakarta. Ia juga turut dalam perang gerilya selama Agresi Militer II Belanda.

Membongkar Gerakan APRA

Pada Desember 1949, S. Parman ditugaskan sebagai Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya. Salah satu tugas pentingnya adalah membongkar rahasia gerakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang akan beroperasi di Jakarta di bawah pimpinan Westerling.

Baca Juga: Kisah Sayid Fahrul Baraqbah, Keturunan Arab dari Kalimantan yang Bergabung dengan PKI

Pada Maret 1950, ia diangkat menjadi Kepala Staf G. Setahun kemudian, S. Parman dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti pendidikan di Military Police School.

Kemampuannya di bidang intelijen kemudian semakin menonjol. Setelah kembali dari Amerika Serikat, ia bertugas di Kementerian Pertahanan sebelum diangkat menjadi Atase Militer RI di London pada 1959.

Berseberangan dengan Sang Kakak

Baca Juga: PKI Setelah Kemerdekaan, Begini Catatan D.N. Aidit tentang Peristiwa Madiun 1948

Pada 1964, S. Parman mendapat tugas sebagai Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat Ahmad Yani dan berpangkat Mayor Jenderal. Sebagai Asisten I, ia lebih banyak menangani bidang intelijen.

Di tengah meningkatnya pengaruh PKI, posisi S. Parman menjadi penting karena ia disebut mengetahui sejumlah kegiatan rahasia PKI.

Di sisi lain, kakaknya, Sakirman, tercatat sebagai salah satu petinggi PKI. Meski berada dalam keluarga yang sama, S. Parman dan Sakirman memiliki pandangan politik yang berseberangan.

Baca Juga: Menjelang Pemilu 1955, PKI Perkuat Organisasi dan Aktivitas Politik

Ketika muncul usulan agar buruh dan tani dipersenjatai dalam bentuk Angkatan Kelima, S. Parman bersama sebagian besar perwira Angkatan Darat lainnya menolak usulan tersebut.

Menjadi Sasaran Penculikan

Pada 1 Oktober 1965 dini hari, S. Parman menjadi salah satu perwira yang diculik dari rumahnya oleh pasukan Cakrabirawa.

Baca Juga: Mengungkap Kekerasan PKI Madiun 1948 : Ulama Diburu, Santri Terancam, Pesantren Dibakar

Ia kemudian dibawa ke wilayah Lubang Buaya di Halim Perdanakusuma. Di tempat tersebut, S. Parman disebut mengalami penyiksaan bersama enam perwira TNI Angkatan Darat lainnya.

Jenazah para perwira tersebut kemudian dimasukkan ke dalam sumur tua di kawasan Lubang Buaya.

S. Parman kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata bersama enam perwira lainnya. Pangkatnya yang sebelumnya Mayor Jenderal dinaikkan satu tingkat menjadi Letnan Jenderal sebagai penghargaan atas jasanya.

Baca Juga: Jejak Sayid Fahrul Baraqbah di Kalimantan Timur, dari Gerilyawan hingga Tokoh PKI

Kisah S. Parman menjadi salah satu bagian sejarah yang memperlihatkan bahwa perbedaan pandangan politik bahkan terjadi di dalam satu keluarga. Ia dan kakaknya, Sakirman, berada di posisi politik yang berseberangan sebelum S. Parman gugur dalam peristiwa 1965.

Editor : Silvina
Pahlawan Revolusi Jenderal S. Parman Sakirman perwira intelijen Lubang Buaya