Bukan Sekadar Jenderal, MT Haryono Kuasai Tiga Bahasa dan Jadi Andalan Indonesia dalam Perundingan

Silvina • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 11:30 WIB
MT Haryono memiliki kiprah diplomasi penting dengan menjadi delegasi Indonesia dalam sejumlah perundingan dan atase militer di Belanda. (DOK WIKIPEDIA)
MT Haryono memiliki kiprah diplomasi penting dengan menjadi delegasi Indonesia dalam sejumlah perundingan dan atase militer di Belanda. (DOK WIKIPEDIA)

 

PONTIANAK POST – Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono atau lebih dikenal sebagai Mayjen MT Haryono tidak hanya memiliki perjalanan panjang di dunia militer. Ia juga dikenal memiliki kemampuan berunding dan menguasai sejumlah bahasa asing.

Kemampuan tersebut membuat MT Haryono mendapat sejumlah penugasan penting dalam perjalanan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Jadi Delegasi dalam Perundingan

Baca Juga: Jenderal S. Parman Ternyata Adik Petinggi PKI, tetapi Berseberangan hingga Gugur di Lubang Buaya

MT Haryono lahir di Surabaya, Jawa Timur, 20 Januari 1924. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia sempat menempuh pendidikan di Ika Dai Gakko atau Sekolah Tinggi Kedokteran pada masa Jepang.

Pendidikan tersebut tidak sampai selesai karena Jepang menyerah. Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, MT Haryono bergabung dengan TKR dan memperoleh pangkat Mayor.

Pada masa mempertahankan kemerdekaan, ia beberapa kali ditugaskan sebagai anggota delegasi Indonesia dalam perundingan dengan Inggris dan Belanda.

Baca Juga: Jenderal Ahmad Yani Tak Tamat AMS,  Pernah Belajar Strategi Militer di Amerika dan Inggris

Salah satu perundingan yang diikutinya adalah Konferensi Meja Bundar (KMB). Penugasan tersebut memperlihatkan adanya peran MT Haryono di luar tugas militer di lapangan.

Kuasai Inggris, Jerman, dan Belanda

Kemampuan berunding MT Haryono didukung oleh penguasaan beberapa bahasa asing. Ia menguasai bahasa Inggris, Jerman, dan Belanda.

Baca Juga: Mengungkap Kekerasan PKI Madiun 1948 : Ulama Diburu, Santri Terancam, Pesantren Dibakar

Kemampuan tersebut kemudian membuatnya dipercaya menjadi atase militer Indonesia di Belanda. Dalam posisi ini, kemampuan bahasa dan pengalaman berunding menjadi bagian penting dari perjalanan tugasnya.

Menurut Biografiku, MT Haryono kemudian kembali ke Indonesia setelah menjalankan tugasnya di Belanda.

Dipercaya dalam Pembinaan dan Perencanaan

Baca Juga: Menjelang Pemilu 1955, PKI Perkuat Organisasi dan Aktivitas Politik

Setelah kembali ke Indonesia, MT Haryono diangkat menjadi Asisten atau Deputi III Menteri/Panglima Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani.

Dalam posisi tersebut, ia menangani bidang pembinaan serta perencanaan. Penugasan itu menjadi bagian lain dari perjalanan kariernya sebelum peristiwa 1 Oktober 1965.

Rangkaian kiprah tersebut menunjukkan bahwa perjalanan MT Haryono tidak hanya berkaitan dengan karier kemiliteran. Ia juga pernah menjalankan peran dalam perundingan dan penugasan yang membutuhkan kemampuan diplomasi serta penguasaan bahasa asing.

Baca Juga: PKI Setelah Kemerdekaan, Begini Catatan D.N. Aidit tentang Peristiwa Madiun 1948

Pada 1 Oktober 1965 dini hari, MT Haryono dijemput pasukan Cakrabirawa. Ia kemudian tewas dalam peristiwa tersebut dan jasadnya dibawa ke Lubang Buaya.

Jasadnya ditemukan pada 4 Oktober 1965 dan kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Presiden Soekarno memberikan gelar Pahlawan Revolusi kepadanya, sedangkan pangkatnya dinaikkan satu tingkat menjadi Letnan Jenderal (Anumerta).

Editor : Silvina
sejarah TNI Mayjen MT Haryono diplomasi Indonesia atase militer MT Haryono