PONTIANAK POST- Ade Irma Suryani Nasution dikenal sebagai putri bungsu Jenderal Besar AH Nasution. Di balik namanya yang lekat dengan peristiwa 1965, terdapat kisah tentang seorang anak yang tumbuh dalam keluarga militer dan dikenal ceria.
Kisah tentang Ade Irma tersebut menjadi bagian dari artikel Rumikas Journey setelah mengunjungi Museum AH Nasution.
Anak yang Dekat dengan Ayahnya
Baca Juga: Menyusuri Kamar Ade Irma Suryani di Museum AH Nasution, Ada Seragam Tentara yang Tak Sempat Dipakai
Ade Irma Suryani lahir di Jakarta pada 19 Februari 1960. Ia merupakan putri bungsu AH Nasution dan Johanna Nasution.
Dalam berbagai kisah keluarga yang ditulis dalam artikel tersebut, Ade dikenal sebagai anak yang ceria, aktif, dan dekat dengan ayahnya. Ia tumbuh di lingkungan keluarga militer, tetapi tetap menjalani masa kecil seperti anak-anak lainnya.
Kehidupan masa kecil itu tergambar melalui berbagai benda yang masih tersimpan di kamarnya di Museum AH Nasution.
Baca Juga: Tak Sekadar Foto, Potret Ade Irma dan Pierre Tendean di Museum AH Nasution Simpan Cerita
Menjadi Korban Peristiwa 1965
Pada saat pasukan Cakrabirawa memasuki kediaman AH Nasution, Ade Irma ikut terbangun. Ia kemudian digendong oleh ibunya dan tantenya.
Dalam peristiwa tersebut, peluru mengenai punggung Ade Irma. Ia sempat dilarikan ke RSPAD Gatot Subroto untuk mendapatkan perawatan.
Baca Juga: Mengungkap Kekerasan PKI Madiun 1948 : Ulama Diburu, Santri Terancam, Pesantren Dibakar
Namun, setelah dirawat beberapa hari, Ade Irma Suryani meninggal dunia pada 6 Oktober 1965.
Namanya Tetap Dikenang
Kisah Ade Irma kemudian menjadi bagian penting dari Museum AH Nasution. Kamar, pakaian, mainan, foto, dan berbagai benda peninggalannya menjadi pengingat tentang sosok anak yang kehidupannya berakhir di tengah peristiwa besar sejarah Indonesia.
Baca Juga: Mengungkap Sejarah G30S PKI, Gerakan 30 September yang Mengguncang Indonesia pada 1965
Museum tersebut pada akhirnya tidak hanya menghadirkan narasi tentang AH Nasution dan peristiwa 1965, tetapi juga memperlihatkan sisi kemanusiaan melalui kisah Ade Irma Suryani.
Editor : Silvina