PONTIANAK POST — Hari ini, Kamis 1 Oktober 2026, Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di tengah derasnya tren media sosial dan konten digital, peringatan tersebut dapat menjadi refleksi tentang bagaimana generasi muda menghidupkan nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
Dosen IAIN Pontianak dan Founder & Master Trainer Mind Healing Technique of Indonesia, Ahmad Jais, menilai pertanyaan mengenai relevansi Pancasila di tengah perubahan zaman merupakan hal yang wajar bagi generasi muda.
Menurutnya, generasi yang tumbuh dengan layar ponsel dan linimasa media sosial memiliki cara berbeda dalam menerjemahkan nilai yang diwariskan generasi sebelumnya.
Baca Juga: Refleksi Hari Kesaktian Pancasila: Nilai-nilainya Tanpa Sadar Diuji Setiap Hari di Ruang Digital
Nilai Lama dalam Wadah Baru
Ahmad Jais menjelaskan bahwa nilai tidak harus kehilangan makna hanya karena zaman dan medianya berubah. Ia mengibaratkan nilai kebangsaan seperti api yang dapat dipindahkan dari satu sumbu ke sumbu lainnya tanpa kehilangan nyalanya.
Dalam pandangan tersebut, yang berubah adalah wadah dan cara penyampaiannya, sedangkan nilai yang terkandung tetap dapat dihidupkan oleh setiap generasi.
Baca Juga: Misi Berdarah G30S/PKI: Konspirasi Rebut Kekuasaan hingga Tumbangkan Pancasila
Ia mengaitkan hal itu dengan keteladanan Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam yang menyebut, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” Hadis tersebut diriwayatkan Bukhari.
Akhlak, menurutnya, tidak memiliki batas zaman. Jika dahulu kejujuran dapat diwujudkan dalam aktivitas perdagangan, pada era digital kejujuran juga dapat diterapkan ketika seseorang menerima dan membagikan informasi di media sosial.
Gen Z Bukan Sekadar Pewaris
Baca Juga: Film G30S/PKI dan Data yang Kemudian Dipersoalkan, Apa yang Berubah Setelah 2000?
Kisah Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu juga disebut sebagai gambaran tentang kepercayaan terhadap generasi muda. Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam mengangkat Usamah sebagai panglima pasukan ketika usianya masih sangat muda, sekitar 18 tahun.
Kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa usia muda tidak otomatis menjadi penghalang untuk menerima amanah besar selama nilai yang menjadi pegangan tetap kokoh.
Hal itu relevan dengan generasi muda saat ini, termasuk Gen Z, yang tidak hanya diposisikan sebagai penerima warisan nilai, tetapi juga memiliki peran dalam meneruskannya sesuai konteks zamannya.
Baca Juga: Arifin C. Noer Sempat Ingin Berhenti Garap Film G30S/PKI, Ada Apa?
Lima Sila dalam Aktivitas Digital
Penerapan nilai Pancasila, menurut Ahmad Jais, dapat ditemukan dalam berbagai aktivitas sederhana di ruang digital.
Sila pertama dapat tercermin ketika kreator konten tidak mengolok-olok keyakinan orang lain hanya demi mendapatkan perhatian atau popularitas.
Baca Juga: Bukan Sekadar Film Sejarah, Jajang C. Noer Ungkap Tujuan Film G30S/PKI Dibuat
Sila kedua dapat diterapkan ketika seorang siswa memilih tidak ikut merundung temannya di grup kelas. Sementara sila ketiga dapat diwujudkan dengan tetap menjaga hubungan lintas kelompok meskipun algoritma media sosial kerap mempertemukan pengguna dengan kelompok yang memiliki pandangan serupa.
Sila keempat dapat diterapkan ketika seseorang bersedia mendengarkan pendapat berbeda dalam perdebatan di kolom komentar. Adapun sila kelima dapat diwujudkan melalui donasi digital dan gerakan solidaritas daring yang membantu orang lain tanpa membedakan golongan.
Nilai Kebangsaan di Tangan Generasi Muda
Baca Juga: Link Nonton Film G30S/PKI dan Sosok di Balik Layar, dari Sutradara hingga Penata Musik
Dalam Alquran, Allah Subhanahuwata'ala berfirman dalam QS. Al-Ma'idah ayat 2 agar manusia saling menolong dalam kebajikan dan takwa serta tidak saling membantu dalam dosa dan pelanggaran.
Pesan tersebut dapat menjadi pengingat bagi generasi muda dalam menggunakan ruang digital. Teknologi tidak hanya menjadi tempat memperoleh hiburan dan informasi, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk menunjukkan kepedulian dan membangun solidaritas.
Karena itu, peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak berhenti pada seremoni. Nilai yang terkandung di dalamnya dapat diterjemahkan melalui tindakan sederhana yang dilakukan generasi muda setiap hari.
Baca Juga: Jenderal S. Parman Ternyata Adik Petinggi PKI, tetapi Berseberangan hingga Gugur di Lubang Buaya
Pada akhirnya, setiap generasi memiliki tantangan zamannya sendiri. Bagi generasi yang hidup di era digital, salah satu tantangan tersebut adalah bagaimana menjaga nilai yang diwariskan tetap hidup di tengah perubahan cara berkomunikasi.
Pancasila pun tidak hanya menjadi nilai yang dihafalkan di bangku sekolah, tetapi dapat diwujudkan melalui pilihan sehari-hari, termasuk ketika seseorang membuka aplikasi, membuat unggahan, menulis komentar, membagikan informasi, maupun berinteraksi dengan orang lain di ruang digital.
Editor : Silvina