PONTIANAK POST - Ratna Sari Dewi Sukarno, yang dikenal sebagai Dewi Sukarno, merupakan salah satu tokoh perempuan yang memiliki kaitan erat dengan sejarah kehidupan Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno.
Perempuan yang lahir dengan nama Naoko Nemoto itu berasal dari Jepang dan menikah dengan Sukarno pada 1962.
Kehidupan Dewi tidak hanya berkaitan dengan perannya sebagai istri presiden. Perjalanan hidupnya juga mencakup dunia seni, hubungan Indonesia–Jepang, serta aktivitas bisnis dan politik setelah meninggalkan Indonesia.
Masa Muda Naoko Nemoto di Jepang
Naoko Nemoto lahir di Tokyo, Jepang, pada 6 Februari 1940. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana sebagai anak perempuan ketiga dari seorang pekerja konstruksi.
Kondisi ekonomi keluarga membuat Naoko harus bekerja sejak muda. Ia pernah menjadi pramuniaga di perusahaan asuransi jiwa di kawasan Chiyoda, Tokyo, sembari menjalani pendidikan.
Masa kecilnya juga berlangsung di tengah Perang Dunia II. Pengalaman hidup di Tokyo ketika perang berkecamuk menjadi bagian dari kisah masa mudanya yang kemudian dicatat dalam sejumlah tulisan biografi.
Di luar pendidikan formal dan pekerjaan, Naoko memiliki ketertarikan pada seni dan sastra. Ia mempelajari tarian klasik Jepang, bernyanyi, serta bermain drama melalui Sishere Hayakawa Art Production.
Minatnya terhadap dunia seni membawanya tampil di sejumlah pertunjukan di Tokyo. Ia juga mempelajari bahasa Inggris, kemampuan yang kemudian ikut membuka jalan bagi perkenalannya dengan Sukarno.
Pertemuan dengan Presiden Sukarno
Pertemuan Naoko Nemoto dengan Sukarno terjadi ketika presiden Indonesia itu mengunjungi Jepang pada 1959. Namun, sejumlah sumber memberikan versi berbeda mengenai lokasi pertemuan pertama mereka.
Salah satu versi menyebutkan keduanya bertemu di Copacabana Super Club, tempat Naoko bekerja. Versi lain yang banyak dikisahkan menyebut Hotel Imperial di Tokyo sebagai lokasi pertemuan mereka pada 16 Juni 1959.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa detail pertemuan pertama keduanya perlu ditelusuri berdasarkan sumber sejarah yang digunakan. Karena itu, lokasi pertemuan tersebut tidak dapat dipastikan hanya dengan mengandalkan satu versi cerita.
Setelah perkenalan itu, Naoko menerima undangan untuk datang ke Indonesia. Ia tiba di Jakarta pada 14 September 1959.
Pada 3 Maret 1962, Naoko menikah dengan Sukarno dan memperoleh nama Indonesia, Ratna Sari Dewi. Dari pernikahan tersebut, keduanya memiliki seorang putri bernama Kartika Sari Dewi.
Peran dalam Hubungan Kebudayaan Indonesia–Jepang
Dewi memiliki ketertarikan pada seni, sementara Sukarno dikenal memiliki minat besar terhadap seni rupa, termasuk melukis. Kesamaan minat tersebut menjadi salah satu bagian dari kisah hubungan mereka.
Dalam buku Bukit-bukit Perhatian: Dari Seniman Politik, Lukisan Palsu, sampai Kosmologi Seni Bung Karno, Agus Dermawan menulis bahwa Dewi berperan dalam upaya melobi penerbit di Jepang pada 1964 agar koleksi lukisan Sukarno dapat diterbitkan di negara tersebut.
Dewi juga disebut terlibat dalam kegiatan persahabatan Indonesia–Jepang. Pada 1964, ia menjadi Ketua Kehormatan Lembaga Persahabatan Indonesia–Jepang.
Peran tersebut menempatkannya dalam hubungan kebudayaan antara kedua negara. Kedekatannya dengan Jepang menjadi salah satu modal yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan yang menghubungkan tokoh dan masyarakat Indonesia dengan negara asalnya.
Kehidupan di Tengah Perubahan Politik Indonesia
Kehidupan Dewi sebagai istri presiden berlangsung di tengah dinamika politik Indonesia. Situasi berubah drastis setelah peristiwa 1965, ketika posisi politik Sukarno semakin melemah dan kekuasaan beralih kepada Soeharto.
Sejumlah tulisan sejarah menyebut Dewi pernah bertemu Soeharto untuk membicarakan keadaan Sukarno. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari kisah hubungan Dewi dengan lingkaran politik Indonesia pada masa transisi kekuasaan.
Sukarno meninggal dunia pada 21 Juni 1970. Setelah kepergian Sukarno, Dewi menjalani kehidupan di luar Indonesia dan sempat tinggal di sejumlah negara sebelum kembali ke Jepang.
Pada 1973, surat-surat yang ditujukan Dewi kepada Soeharto menjadi bagian dari catatan sejarah yang berkaitan dengan masa-masa terakhir Sukarno. Kumpulan surat tersebut kemudian diterbitkan dalam buku Mencekik dengan Kain Sutera pada 1998.
Kembali ke Jepang dan Memasuki Dunia Politik
Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan di luar Indonesia, Dewi kembali menetap di Jepang pada 2008. Ia dikenal menjalankan kegiatan bisnis, termasuk di bidang perhiasan dan kosmetik, serta beberapa kali muncul di media hiburan Jepang.
Perjalanan hidupnya kembali menjadi perhatian publik pada Februari 2025. Saat itu, Dewi mengumumkan keputusan melepas kewarganegaraan Indonesia setelah memegang status Warga Negara Indonesia selama sekitar 63 tahun.
Pada periode yang sama, ia mengumumkan pembentukan partai politik di Jepang bernama 12 Heiwa To. Partai tersebut mengusung perhatian terhadap perlindungan hewan, termasuk upaya melarang konsumsi daging anjing dan kucing di Jepang.
Langkah itu menandai babak baru dalam perjalanan hidup Dewi. Dari Naoko Nemoto yang tumbuh di Tokyo, ia menjadi Ratna Sari Dewi yang dikenal melalui hubungannya dengan Sukarno, kemudian menjalani kehidupan di luar Indonesia dan memasuki ranah politik di Jepang.*
Editor : Uray RonaldSumber : kemenbud