PONTIANAK POST — Sejarah Kota Pontianak bermula dari kedatangan Syarif Abdurrahman Alkadrie bersama rombongannya di tepian Sungai Kapuas pada 23 Oktober 1771. Dari kawasan persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak, permukiman yang menjadi cikal bakal kota ini tumbuh hingga berkembang sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan aktivitas masyarakat.
Dalam catatan sejarah yang disusun Syafaruddin Daeng Usman, rombongan Syarif Abdurrahman Alkadrie berlabuh di tepian Sungai Kapuas dan membangun surau yang kelak dikenal sebagai Masjid Jamik. Mereka kemudian mempersiapkan permukiman di lokasi yang menjorok ke darat sekitar 800 meter dari surau tersebut.
Kawasan permukiman itu selanjutnya menjadi lokasi berdirinya Istana Kesultanan Pontianak. Dari sinilah pusat pemerintahan kesultanan mulai berkembang dan menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah kota.
Baca Juga: Dari Pengembaraan ke Tahta Sejarah, Jejak Syarif Abdurrahman Alkadrie Sebelum Pontianak Berdiri
Berawal dari Surau dan Permukiman
Pendirian surau dan persiapan permukiman menandai tahap awal pembentukan pusat kehidupan masyarakat Pontianak. Letaknya yang berada di dekat pertemuan dua sungai besar menjadi faktor penting dalam perkembangan kawasan tersebut.
Pada 1778, Syarif Abdurrahman Alkadrie secara resmi dinobatkan sebagai Sultan Pontianak dengan gelar Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie.
Baca Juga: Di Balik Sejarah Berdirinya Pontianak, Ada Kisah Perselisihan Habib Husin Alkadrie di Kerajaan Matan
Keberadaan pusat pemerintahan di dekat Sungai Kapuas dan Sungai Landak membuat aktivitas masyarakat pada masa awal banyak terkonsentrasi di sekitar Masjid Jamik dan istana kesultanan.
Berbeda dengan kota yang berkembang melalui jalur darat, Pontianak pada masa awal sangat bergantung pada sungai sebagai sarana transportasi. Sungai menjadi jalur pergerakan penduduk sekaligus penghubung kawasan permukiman dengan wilayah lain.
Sungai Membuka Jalan bagi Perkembangan Kota
Baca Juga: Bukan Sekadar Menara Tua, Ini Peran Penting Menara Air dalam Sejarah Pontianak
Seiring waktu, permukiman mulai memanjang mengikuti tepian Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Kedua sungai tersebut berperan sebagai jalur utama pergerakan orang dan barang.
Kedatangan pedagang dari berbagai daerah turut mendorong pertumbuhan permukiman. Aktivitas perdagangan membuat kawasan di sekitar pusat kesultanan semakin ramai dan membuka ruang bagi terbentuknya komunitas-komunitas baru.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan Pontianak tidak terlepas dari hubungan antara pusat pemerintahan, jalur air, dan aktivitas perdagangan.
Baca Juga: Sejarah Kantor Pos Lama Pontianak, Berdiri Sejak 1858 di Pusat Kota
Sungai bukan hanya membentuk bentang alam kota, tetapi juga menentukan lokasi permukiman dan arah pertumbuhan kawasan sejak masa awal berdirinya kesultanan.
Cikal Bakal Kota yang Terus Berkembang
Dari kawasan yang awalnya berpusat di sekitar surau dan istana, Pontianak berkembang melalui aktivitas masyarakat yang semakin beragam. Jalur sungai menghubungkan pusat pemerintahan dengan permukiman serta kawasan perdagangan.
Baca Juga: Kantor Pos Lama Pontianak Disewa Investor, Wali Kota Tekankan Pelestarian Cagar Budaya
Sejarah awal tersebut menjadi bagian penting dalam memahami perjalanan Pontianak menjelang peringatan hari jadinya yang ke-255.
Kisah berdirinya kota juga memperlihatkan bagaimana pemilihan lokasi di persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak memberikan dasar bagi perkembangan Pontianak sebagai pusat kehidupan masyarakat di wilayah Kalimantan Barat.
Editor : Silvina