Oleh: Dr. H. Muhajirin Yanis, M.Pd.I
(Kakanwil Kementerian Agama Kalbar)
ALHAMDULILLAH. Saat ini, umat muslim di seluruh dunia memasuki bulan suci Ramadan. Kita bersyukur kepada Allah Swt, yang mengabulkan doa-doa yang dipinta sejak bulan Rajab dan Sya’ban, untuk dipertemukan kembali dengan bulan Ramadan yang penuh berkah ini. Allahumma bariklana fii Rajaba wa Sya’ban, wa ballighna Ramadhan, “Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah umur kami kepada bulan Ramadan.
Setiap kali di akhir bulan Sya’ban, Baginda Rasul Muhammad Saw senantiasa menyampaikan khutbahnya yang menggugah, sebagai pesan spiritual kepada kaum muslimin menjelang melaksanakan ibadah puasa. Khutbah ini abadi di hati orang-orang beriman, dan selalu dijadikan panduan dalam upaya menggapai rahmat, berkah, dan maghfirah Allah Swt.
Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dari dari sahabat Salman Al Farisi ra. Dikisahkan Baginda Rasulullah pada akhir Sya’ban berkhutbah: Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu bulan yang agung, bulan yang penuh dengan keberkahan, yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik nilainya dari seribu bulan, bulan yang mana Allah tetapkan puasa di siang harinya sebagai fardhu, dan salat (Tarawih) di malamnya sebagai sunnah.
Barang siapa mendekatkan diri kepada Allah di bulan ini dengan satu kebaikan (amalan sunnah), maka pahalanya seperti dia melakukan amalan fardhu di bulan-bulan yang lain. Barangsiapa melakukan amalan fardhu di bulan ini, maka pahalanya seperti telah melakukan 70 amalan fardhu di bulan lainnya. Inilah bulan kesabaran dan balasan atas kesabaran adalah surga.
Bulan ini merupakan bulan kedermawanan dan simpati terhadap sesama. Dan bulan ketika rezeki orang-orang yang beriman ditambah. Barang siapa memberi makan untuk berbuka orang yang berpuasa, maka baginya pengampunan atas dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan dia mendapatkan pahala yang sama sebagaimana yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa.
Para sahabat berkata: Wahai Rasulullah! tidak semua dari kami mempunyai sesuatu yang bisa diberikan kepada orang yang berpuasa untuk berbuka. Rasulullah menjawab: Allah akan memberikan pahala ini kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau setetes susu.
Inilah bulan yang permulaannya (sepuluh hari pertama) Allah menurunkan rahmat, yang pertengahannya (sepuluh hari pertengahan) Allah memberikan ampunan, dan yang terakhirnya (sepuluh hari terakhir) Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka.
Barangsiapa yang meringankan hamba sahayanya di bulan ini, maka Allah SWT akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka. Perbanyaklah melakukan empat hal di bulan ini, yang dua hal dapat mendatangkan keridaan Tuhanmu, dan yang dua hal kamu pasti memerlukannya. Dua hal yang mendatangkan keridaan Allah yaitu syahadah (Laailaaha illallaah) dan beristighfar kepada Allah, dan dua hal yang pasti kalian memerlukannya yaitu mohonlah kepada Allah SWT untuk masuk surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka.
Dan barang siapa memberi minum kepada orang yang berpuasa (untuk berbuka), maka Allah akan memberinya minum dari telagaku (Haudh) dimana dengan sekali minum ia tidak akan merasakan haus sehingga ia memasuki surga. (HR. Ibnu Khuzaimah).
Kini, Ramadan telah tiba. Selayaknya kita mengucapkan Marhaban Ya Ramadan. Selamat datang wahai bulan suci Ramadan. Kita sambut kehadiran tamu agung ini, dengan penuh suka cita, hati yang lapang, dan berkomitmen untuk memanfaatkannya dengan melaksanakan ibadah secara optimal sebagai bekal di akhirat yang abadi.
Seorang cendekiawan muslim Indonesia, Professor Muhammad Quraish Shihab, mengungkapkan makna mendalam dari kata marhaban. Marhaban biasa diterjemahkan sebagai selamat datang. Menurutnya, ada dua kata yang mewakili kata marhaban, yakni rahba dan marhab. Rahba artinya tempat yang luas, maksudnya adalah hati yang lapang dan senang dalam menyambut bulan Ramadan. Jadi, tatkala manusia mengucapkan Marhaban Ya Ramadan, mereka mengucapkan dengan penuh ketulusan hati dan kegembiraan.
Kemudian, ia menjelaskan makna kedua dari kata marhaban yaitu marhab yang memiliki arti stasiun. Layaknya stasiun, Ramadan merupakan tempat kita mengambil bekal untuk melanjutkan hidup menuju Allah Swt. “Sehingga kalau kita berkata Marhaban ya Ramadhan dalam pengertian kedua ini, itu berarti wahai Ramadan selamat datang. Kami akan mengambil bekal dalam melanjutkan perjalanan menuju Allah dan kami memperbaiki yang rusak dari hati kami,” jelas Prof. Quraish Shihab.
Sebagai wujud syukur, kesempatan panjang umur dan sehat di bulan Ramadan ini, harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan mengisi berbagai aktivitas positif yang berdampak untuk kehidupan individu dan sosial. Mari kita mengisi amaliah-amaliah di bulan Ramadan ini dengan tagline Ramadan yang menyenangkan dan menenangkan sebagaimana yang dipesankan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar. Beliau berpesan kepada seluruh elemen bangsa untuk dapat mewujudkan Ramadan yang menyenangkan dan menenangkan.
“Mari kita sambut Ramadan dengan hati lapang dan bahagia. Ramadan ini, adalah bulan mulia yang selalu dinantikan. Tugas kita bersama untuk menghidupkan hari-hari Ramadan ini. Kita sebarkan dan giatkan hal-hal positif, sehingga Ramadan kali ini menyenangkan dan menenangkan bagi seluruh bangsa,” pesan Menteri Agama Nasaruddin Umar di Jakarta, Kamis (27/2/2025).
Menteri Agama mengungkapkan, Ramadan adalah bulan Istimewa. Banyak peristiwa-peristiwa penting terjadi di bulan Ramadan. “Bahkan, kemerdekaan negara kita pun terjadi saat Ramadan. Energi positif Ramadan ini, sudah kita rasakan sejak hari diproklamasikan kemerdekaan Indonesia,” tuturnya. Sekjen Kamaruddin Amin menuturkan, ada empat subtema yang diusung dalam mewujudkan Ramadan menyenangkan dan menenangkan, yaitu: Ramadan Mengaji, Ramadan Peduli Lingkungan, Ramadan Berbagi, dan Ramadan Inklusi.
Puasa Ramadan diharapkan dapat membangun karakter yang sangat efektif. Karakter yang dilatihkan selama bulan Ramadan dapat mengantarkan seseorang mencapai gelar taqwa, yaitu: karakter keimanan yang kuat, karakter jujur, amanah, ikhlas, sabar, karakter cinta kasih, peduli lingkungan dan peduli dengan sesama. Salah satu buah dari karakter iman yang kuat dalam hidup kita adalah memiliki rasa cinta yang mendalam terutama cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta kepada hamba-Nya. Cinta merupakan perasaan yang lebih menekankan kepekaan emosi dan spiritual, sekaligus menjadi energi kehidupan. Artinya, hidup kita menjadi energik atau tidak, sangat bergantung pada kekuatan cinta.
Fuad Rumi menyatakan cinta merupakan ikatan kasih sayang. Cinta merupakan sifat Allah sedangkan cinta hamba-Nya hanyalah bersifat semu saja. Orang yang berbekal cinta tidak akan pernah hilang, melainkan semakin bertabur, sebab cinta merupakan energi yang memancar dari kekuatan otak spiritual. Ketika ibadah puasa Ramadan dilakukan dengan sepenuh cinta, maka akan menyenangkan dan menenangkan.*
Editor : Miftahul Khair