Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Puasa dan Peredaran Narkoba di Kalbar

A'an • Rabu, 5 Maret 2025 | 10:24 WIB

 

 

Rosadi Jamani.
Rosadi Jamani.

 

Oleh: Rosadi Jamani

(Dosen UNU Kalbar)

 

PENYALAHGUNAAN narkoba di Kalimantan Barat (Kalbar) masih menjadi masalah serius. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) Kalbar, jumlah pengguna aktif mencapai 16.750 orang atau 0,4 persen dari jumlah penduduk. Selain itu, ada 33.500 orang yang pernah menggunakan narkoba tetapi tidak aktif dalam satu tahun terakhir. Kabupaten Ketapang menjadi salah satu daerah dengan angka prevalensi tinggi, di mana 3.480 orang pernah menggunakan narkoba dan 1.740 orang masih aktif menggunakan dalam satu tahun terakhir.

Tak hanya itu, Kalbar memiliki 230 wilayah rawan narkoba. Dari jumlah tersebut, 63 wilayah masuk kategori bahaya, sedangkan sisanya dalam kategori waspada dan siaga. Data ini menunjukkan bahwa ancaman narkoba masih nyata dan memerlukan perhatian serius.

 

Puasa sebagai Benteng Diri

Bulan Ramadan membawa kesempatan besar untuk merenungi dan memperbaiki diri. Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk kemaksiatan, termasuk narkoba. Dalam Islam, puasa memiliki dimensi spiritual yang dapat memperkuat ketahanan seseorang terhadap godaan narkotika.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah meningkatkan ketakwaan. Ketakwaan inilah yang menjadi benteng bagi individu agar tidak terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba. Orang yang bertakwa akan lebih sadar bahwa narkoba merusak tubuh dan akal, sesuatu yang jelas dilarang dalam Islam.

Hadis dan Pandangan Ulama

Rasulullah SAW bersabda:

“Puasa adalah perisai, maka janganlah seseorang berkata kotor dan berbuat bodoh. Jika seseorang mencelanya atau mengajaknya berkelahi, maka hendaklah ia berkata: Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa puasa mengajarkan pengendalian diri. Seseorang yang berpuasa diajarkan untuk bersikap sabar dan menahan diri dari hal-hal yang merusak, termasuk narkoba. Ulama besar seperti Imam Al-Ghazali juga menekankan bahwa puasa tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjauhkan diri dari segala bentuk perbuatan yang merusak akal dan hati.

 Baca Juga: LDK Muhammadiyah Kalbar Hadirkan Pesantren Ramadan di Lapas 2A Pontianak, Mengenal Allah Bukan Sekadar Nama Indah

Puasa Membangun Kesadaran

Puasa dapat menjadi momentum bagi individu untuk keluar dari jeratan narkoba. Beberapa manfaat puasa yang berkaitan dengan pencegahan narkoba antara lain:

  1. Menumbuhkan Kesadaran Diri

Saat berpuasa, seseorang lebih banyak melakukan introspeksi. Kesempatan ini bisa dimanfaatkan untuk merenungi dampak buruk narkoba terhadap kesehatan, keluarga, dan masa depan.

  1. Menguatkan Kendali Diri

Kunci utama dalam melawan ketergantungan narkoba adalah pengendalian diri. Puasa melatih seseorang untuk menahan keinginan, termasuk keinginan untuk mengonsumsi narkoba.

  1. Meningkatkan Spiritualitas

Orang yang menjalankan puasa dengan penuh keimanan akan lebih dekat dengan Allah. Ini bisa menjadi motivasi untuk meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan aktivitas yang lebih bermanfaat.

  1. Mempererat Hubungan Sosial

Ramadan adalah waktu di mana masyarakat lebih banyak berinteraksi dalam kegiatan ibadah dan sosial. Dukungan dari lingkungan yang baik dapat membantu individu menjauhi pergaulan yang membawa pengaruh buruk.

 Baca Juga: Sugioto Menjadi Inspirasi Pelajar di Suka Bumi

Langkah Solutif

Agar puasa benar-benar efektif dalam membantu menekan angka penyalahgunaan narkoba di Kalbar, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak:

  1. Keluarga harus berperan aktif dalam mengawasi dan mendidik anak-anak mereka tentang bahaya narkoba.
  2. Tokoh agama dan ulama bisa lebih gencar menyampaikan ceramah tentang bagaimana Islam melarang narkoba dan bagaimana puasa bisa menjadi terapi diri.
  3. Pemerintah dan BNN harus memanfaatkan momentum Ramadan untuk mengadakan program rehabilitasi berbasis spiritual bagi para pengguna narkoba.
  4. Masyarakat perlu membangun lingkungan yang mendukung individu agar tidak terjerumus dalam narkoba.

 

Kesimpulan

Puasa bukan sekadar ritual, tetapi jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Momentum Ramadan harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya narkoba dan membangun ketahanan diri. Dengan tekad kuat, dukungan keluarga, serta pendekatan spiritual yang konsisten, angka penyalahgunaan narkoba di Kalbar bisa ditekan. Ramadan adalah waktu untuk kembali ke jalan yang benar, menjauhi segala yang merusak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mari manfaatkan bulan suci ini untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan menjauhkan diri dari narkoba.*

Editor : A'an
#kalbar #narkoba #ramadan