Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Bahagia Bersama Ramadan

A'an • Selasa, 11 Maret 2025 | 10:08 WIB

 

Dr. Amalia Irfani, M.Si.
Dr. Amalia Irfani, M.Si.

 

OIeh: : Dr. Amalia Irfani, M.Si

(Sekretaris LPP PWM Kalbar)

 

BERSYUKURLAH, sebab kita masih diberi Allah SWT kesempatan berupa umur dan kesehatan sehingga bisa menikmati ibadah bulan suci Ramadan nan agung. Ramadan adalah bulan istimewa, bulan mulia di mana apapun perbuatan baik dilipatgandakan pahalanya. Semoga hingga menjelang Syawal nanti dan di bulan-bulan lainnya, kita dapat memaksimalkan ibadah, memperbaiki diri, memperbanyak ilmu pengetahuan, menebar semangat positif, agar Ramadan tidak sekadar momentum yang terlewati tanpa makna.

Untuk menjadikan bulan suci Ramadan penuh berkah, sarat dengan kebaikan sehingga memunculkan kebahagiaan, maka penting untuk memahami alasan mengapa kita harus terus bisa bahagia. Afirmasi tersebut wajib tertanam dalam diri. Jika dilakukan setiap hari sehingga menjadi budaya hidup, maka akan membantu individu mengatasi rasa takut, meningkatkan kepercayaan serta kemampuan diri, yang akhirnya membangkitkan ghirah untuk melakukan perbuatan baik, walaupun mungkin dalam kondisi hidup didera banyak masalah.

 Baca Juga: Banjir di Trans Kalimantan Capai Satu Meter, Ketinggian Air Masih Berpotensi Naik

Berpuasa dan Rasa Bahagia

Menyebut diksi bahagia sangat mudah dibandingkan dengan merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih dalam kaitannya dengan hubungan manusia sebagai hamba Allah. Manusia akan berhadapan dengan hawa nafsu, keinginan duniawi yang tidak akan pernah cukup, namun sering kali terasa kurang. Keinginan berlebihan tersebut harus dapat dikelola agar tidak menjadi dominasi dalam diri, karena memiliki potensi merugikan. Bahagia sejatinya adalah manifestasi dari keikhlasan  penuh kesyukuran, ditunjukkan lewat perbuatan dan amal shaleh dalam kehidupan sosial.

Manifestasi dari kebahagiaan adalah akumulasi perbuatan baik (amal saleh) yang terus-menerus dilakukan oleh seorang hamba. Jika diukur dari nilai kesuksesan dunia, akan dinilai dari kekayaan, jabatan, wajah rupawan, atau sederet gelar akademik. Item-item tersebut tidaklah salah. Islam sendiri menuntun pemeluknya untuk sukses di kehidupan dunia, tanpa melupakan kehidupan akhirat.

Islam mengajarkan bahwa ibadah tidak akan mengurangi prestasi kerja seorang hamba. Sebaliknya, ibadah membawa nilai lebih dalam konteks sosial, karena  dilandasi dengan motivasi luhur yang terkait dan terikat dengan Allah SWT, Sang Pencipta. Imam Syafi'i menekankan betapa pentingnya melaksanakan ibadah dengan penuh kesungguhan dan ketulusan.

Menurutnya, ibadah yang tidak disertai akhlak yang baik adalah ibadah yang tidak sempurna. Sebab ibadah adalah wujud tanda cinta makhluk kepada penciptaNya. Ketika ibadah dilakukan sesuai dengan tuntunan dan kewajiban sebagai hamba Allah, di situlah letak munculnya kebahagiaan. Demikian pula dengan ibadah puasa Ramadan yang datang satu tahun sekali. Jika dilakukan dengan penuh kesyukuran, dilingkupi kebahagiaan, maka apapun kebaikan yang dilakukan merupakan manifestasi dari keyakinan sebagai hamba Allah.

Rasulullah SAW dengan tegas menerangkan, "Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu", (HR Bukhari dan Muslim).

Berikut beberapa poin penting mengapa kita harus bahagia saat berpuasa. Pertama, alasan spiritual. Berpuasa akan membuat seorang hamba lebih dekat pada TuhanNya,  membersihkan jiwa, dan meningkatkan keimanan. Kedua, alasan psikologis. Saat berpuasa, cobaan adalah tantangan yang membedakan nilai puasa di hadapan Allah. Selama sebulan penuh hamba Allah harus melawan hawa nafsunya agar tidak merusak esensi puasa dan menjadi sia-sia. Di sini kita akan dilatih kesabaran dan ketabahan, belajar mengurangi stres karena ketiadaan atau masalah, dan berusaha menonjolkan rasa syukur.

Ketiga, alasan sosial. Berpuasa Ramadan juga akan memacu semangat untuk memperbaiki hubungan sosial, mempererat harmonisasi dengan komunitas/kelompok terdekat,  menambah rasa kepedulian juga empati terhadap orang lain. Saat menjalani ibadah puasa Ramadan, akan muncul kasih sayang dalam bentuk solidaritas kepada saudara yang kurang beruntung.

 Baca Juga: 300 Peserta Ikuti Sosialisasi Program MBG di Mempawah

Mendidik Diri Saat Berpuasa

Seperti halnya tahapan tumbuh kembang, mendidik jiwa agar terus mengingati Allah juga melalui proses yang kurang lebih sama. Jika jamak kita mendengar ukuran kedewasaan tidak mengenal usia, pendidikan, pangkat, kedudukan, dan jenis kelamin, demikian halnya dengan takwa di hadapan Allah. Ukurannya tidak karena kedudukan dunia, tetapi karena terus berusaha dekat dan lekat dengan tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah.

Jika individu lain sibuk dengan urusan dunia, individu yang mencintai TuhanNya berusaha untuk senantiasa menyebut asma pencipta di tiap aktivitas hidup. Ia akan memaksakan diri di tengah padatnya aktivitas untuk mengerjakan salat tepat waktu, membaca Alquran dan berbuat kebaikan yang ia mampu (dengan uang, ilmu dan tenaga yang ia punya).

Rasulullah bersabda, “Kebaikan ialah budi pekerti yang luhur, sedangkan dosa ialah sesuatu yang menimbulkan keraguan dalam hatimu, dan engkau tidak suka kalau hal itu diketahui orang lain (HR. Muslim).

Sedikit penjabaran di atas adalah fakta sosial untuk mendidik diri agar tidak lengah saat melewati waktu yang kapan saja bisa berakhir. Mendidik hati bisa dengan kembali bertafakur atas nikmat dan karunia Allah yang tidak bisa dihitung. Kemudian bahagia nikmat sehat, diberikan kemudahan menuntut ilmu, dicukupi sandang pangan misalnya,  akan membuat hati  tenang walaupun tidak bergelimang harta maupun kemewahan.

Bulan suci Ramadan  merupakan momentum terbaik jika sebelumnya kita lalai untuk memulai, mendidik hati agar sehat untuk mendapat nikmat, terus bersyukur untuk memperoleh kebahagiaan. *

Editor : A'an
#ramadan #bulan suci