Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Gerhana Bulan Total Terjadi di Bulan Ramadan, Ini Tata Cara Salat Khusuf

Miftahul Khair • Jumat, 14 Maret 2025 | 14:13 WIB
Ilustrasi gerhana bulan. (Jawa Pos)
Ilustrasi gerhana bulan. (Jawa Pos)

PONTIANAK POST - Fenomena langka Gerhana Bulan Total terjadi pada Jumat, 14 Maret 2025, bertepatan dengan malam ke-14 bulan Ramadhan.

Kejadian ini menjadi semakin istimewa karena berlangsung di bulan penuh berkah yang dinanti-nantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia.

Selain menarik perhatian umat Islam, peristiwa ini juga menjadi sorotan para astronom dan peneliti.

Menurut informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), gerhana bulan total ini terjadi karena posisi Bumi berada di antara Matahari dan Bulan dalam satu garis lurus, sehingga cahaya Matahari terhalang dan tidak bisa langsung mencapai Bulan.

Akibatnya, permukaan Bulan akan tampak berwarna merah darah yang dikenal sebagai Blood Moon.

Bagi umat Islam, gerhana bulan bukan sekadar fenomena alam biasa, tetapi juga menjadi momen untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk melaksanakan shalat khusuf atau shalat gerhana sebagai bentuk penghambaan dan pengingat akan kebesaran Allah SWT.

Tata Cara Shalat Khusuf

Mengutip dari NU Online, shalat gerhana bulan termasuk ibadah sunnah yang sangat dianjurkan.

Dalam kitab Nihayatuz Zain, disebutkan bahwa shalat ini lebih utama jika dikerjakan secara berjamaah.

Namun, shalat khusuf juga dapat dilakukan secara sendiri (munfarid).

Shalat khusuf terdiri dari dua rakaat yang memiliki perbedaan dengan shalat pada umumnya, terutama dalam jumlah bacaan Al-Fatihah dan ruku’ di setiap rakaatnya.

Setelah membaca Al-Fatihah dan surah lainnya, dilakukan ruku’ pertama, lalu berdiri kembali untuk mengulang bacaan Al-Fatihah dan surah lainnya sebelum kembali ruku’ dan melanjutkan ke i’tidal.

Sebelum melaksanakan shalat, baik imam maupun makmum dianjurkan untuk membaca niat terlebih dahulu.

Niat Shalat Khusuf Berjamaah:

أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامً/مَأمُومًا لله تَعَالَى

Ushallî sunnatal khusûf rak'ataini imâman/makmûman lillâhi ta'âlâ

(Saya shalat sunnah gerhana bulan dua rakaat sebagai imam/makmum karena Allah SWT)

Niat Shalat Khusuf Sendiri:

أُصَلَّى السُنَّةَ لِحُسُوْفِ الْقَمَرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ لِلَّهِ تَعَالَى

Ushalla sunnatal khusufil qamari rak'ataini mustaqbilal qiblati lillahita'ala

(Saya niat shalat sunnah gerhana bulan dua rakaat menghadap kiblat karena Allah SWT)

Shalat khusuf dimulai dengan takbiratul ihram, lalu membaca doa iftitah, taawudz, kemudian membaca Surah Al-Fatihah diikuti dengan surah panjang seperti Al-Baqarah dengan suara yang dikeraskan.

Setelah itu, dilanjutkan dengan ruku' pertama dan i'tidal.

Setelah i’tidal, jamaah kembali membaca Surah Al-Fatihah dan surah panjang lainnya, kemudian melakukan ruku' kedua dan i’tidal kembali.

Setelah itu, dilanjutkan dengan sujud pertama, duduk di antara dua sujud, lalu melakukan sujud kedua.

Pada rakaat kedua, tata cara shalat sama seperti rakaat pertama. Setelah menyelesaikan rakaat kedua, jamaah melakukan tasyahud akhir dan mengakhiri shalat dengan salam.

Makna dan Hikmah Gerhana Bulan dalam Islam

Gerhana bulan dalam Islam dianggap sebagai pengingat kebesaran Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda bahwa gerhana terjadi bukan karena kematian atau kelahiran seseorang, melainkan tanda kekuasaan Allah SWT.

Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak zikir, doa, dan istighfar saat gerhana terjadi.

Dalam konteks ilmu pengetahuan, fenomena gerhana bulan total juga menjadi perhatian para peneliti dan astronom karena memungkinkan untuk melakukan pengamatan terhadap pergerakan benda langit dan pengaruhnya terhadap gravitasi dan kondisi bumi.

Selain menjadi pengingat spiritual, gerhana bulan total ini juga berpotensi menimbulkan dampak terhadap kondisi alam di Bumi.

BMKG menyatakan bahwa gerhana ini dapat meningkatkan ketinggian air laut dan berpotensi menyebabkan rob atau banjir pesisir di beberapa wilayah Indonesia bagian timur.

"Tetap ada dampak yang menyertainya, tetapi tidak mencapai ketinggian maksimal,” ujar Syrojudin, Ketua Tim Bidang Geofisika Potensial BMKG.

Meski tidak bisa disaksikan langsung dari Indonesia, masyarakat tetap dapat menyaksikan fenomena ini melalui siaran langsung yang disediakan oleh kanal YouTube Timeanddate atau situs resmi NASA.

Beberapa lembaga astronomi internasional juga akan menyiarkan peristiwa ini melalui platform media sosial mereka.

Selain itu, aplikasi astronomi seperti Stellarium dan SkySafari dapat membantu memvisualisasikan posisi gerhana secara real-time, sehingga masyarakat tetap bisa mengikuti perjalanan fenomena ini meskipun tidak dapat menyaksikan secara langsung. (mif)

Editor : Miftahul Khair
#total #ramadan #gerhana bulan #Salat khusuf #tata cara