Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Karunia Allah untuk Umat Nabi Muhammad

Miftahul Khair • Sabtu, 15 Maret 2025 | 14:02 WIB
Usman.
Usman.

Oleh: Usman

Dosen IAIN Pontianak

Pengasuh Ponpes Modern As Sajdah Makkiyah

 

PUASA adalah ibadah yang sangat tua, bahkan sudah ada sejak zaman sebelum Nabi Muhammad di antaranya puasa yang dilakukan oleh Nabi Adam yakni puasa Ayyamul Bidh yang dilakukan pada pertengahan bulan, puasa Daud dan puasa “Asyura. Selanjutnya, puasa adalah ibadah yang menjadi kewajiban umat Islam yang beriman, Kewajiban sesuai dengan perintah Allah yang terdapat pada surah Al Baqaroh (2):183. Kemudian diperjelas lagi oleh Hadis Nabi, “Telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat, juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa.”
 (HR. Imam Ahmad dan Imam An-Nasa’i).

Ramadan adalah karunia tak terhingga, sesuai dengan Ayat Alquran dan hadis nabi adalah bulan yang penuh keberkahan dan berkahnya hanya untuk manusia saja, khususnya umat Nabi Muhammad. Bagaimana tidak, hanya pada bulan ini saja semua pahala dilipatgandakan berkali-kali jika kita melakukan kebaikan atau amal saleh ditambah lagi khusus pahala puasa ganjarannya langsung dari Allah. Menariknya lagi, pada bulan Ramadan semua dosa dengan gampangnya dihapus oleh Allah. Tentu hal ini tidak berlaku dosa yang berhubungan dengan haqqul adami.

Pada sebuah kesempatan Rektor IAIN Pontianak yang juga menjabat sebagai Ketua PW NU Kalimantan Barat Prof. Dr. KH. Syarif, MA memberikan penjelasan bahwa “Selama hayat di kandung badan, tak ada manusia yang tidak (melakukan) salah. Malaikat tidak pernah salah karena tidak punya tubuh (dan hanya punya tugas khusus serta hanya itu yang dilakukannya); ungkapan ini sangat menarik bagi penulis. Betapa manusia menempati ruang yang sangat rentan dengan kesalahan ketika hidup di dunia, tapi di sisi lain Allah memberikan karunia dan keberkahan dalam menjalani kehidupan ini di bulan suci Ramadan yang dikenal dengan malam seribu bulan atau sering dikenal Lailatul Qadr (Al-Qur’an (97):1-8).

Selajutnya, karunia bulan Ramadan tidak hanya Lailatul Qadri saja. Terdapat juga tarbiyah atau pendidikan bagi umat Islam seperti solidaritas sosial berupa kepedulian kepada orang lain yang tidak mampu, miskin, dan serba kekurangan serta rasa lapar merupakan bagian dari kehidupan. Solidaritas atau kepedulian sosial terhadap golongan inilah yang akan membentuk karakter manusia muslim utuh sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad. Ramadan juga menjadi karunia karena mengajarkan menekan hawa nafsu yang merupakan jihad al-akbar.  Nabi Muhammad bersabda kepada para sahabatnya setelah kemenangan pada perang badar: Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran akbar. Lalu sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah? Rasul menjawab, jihad (memerangi) hawa nafsu (HR. Imam Baihaqi).

Perang yang maksudkan banyak dijelaskan oleh kalangan ulama atau intelektual muslim, di antaranya menahan hawa nafsu dari berhubungan badan atau seks, berbuat zalim, mencuri, merampok, ghibah, dan korupsi. Semoga dengan hadirnya Bulan Ramadan sebagai karunia Allah, semakin menambah kebaikan terhadap diri kita sendiri dan umat Islam. Aamiin.

Wallahu a’lam Bisshowab.*

Editor : Miftahul Khair
#ramadan #mutiara