Oleh: Eka Hendry Ar
(Founder Ngopi Senandung dan Dosen IAIN Pontianak)
ADA beberapa hadits Nabi Muhammad SAW yang secara substansi menyatakan bahwa, “barangsiapa yang gembira (fariha) dengan masuknya bulan suci Ramadan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya dari api neraka”. Perhatian penulis pada kata f-r-h, yang bermakna gembira atau bahagia. Kira-kira apa maksud di balik pesan hadits ini. Terlepas dari kualitas hadits tersebut, yang menarik perhatian penulis mengapa kiranya Nabi menyatakan demikian.
Kemudian, di kesempatan lain juga ada hadits yang menyatakan bahwa “orang yang berbuka puasa akan mendapatkan dua kegembiraan, yaitu saat berbuka puasa dan saat berjumpa dengan Tuhannya”.
Di samping hadits yang secara eksplisit menyebutkan tentang kegembiraan dan kebahagiaan, pada bulan suci Ramadan ada kegembiraan lainnya seperti saat i’tikaf menanti malam yang sangat mulia (lailatul qadr) yang derajat keutamaan lebih dari seribu bulan dan pamungkasnya adalah kegembiraan ketika terlahir kembali secara fitri (idul fithri).
Apa kiranya rahasia kegembiraan di balik tirai puasa Ramadan? Bukankan puasa merupakan salah satu ibadah yang cukup berat untuk dilaksanakan. Selain menahan makan, minum dan hubungan biologis, juga harus mampu mengendalikan lisan, penglihatan, pendengaran, perbuatan dan bahkan pikiran dan hati. Pokoknya, semuanya harus dipuasakan, baik jasmani maupun rohani.
Saking beratnya puasa, yang diimbau untuk berpuasa bukan orang-orang Islam, tetapi kepada orang-orang yang beriman. Karena untuk mampu berpuasa dengan baik dan benar, tidak cukup hanya sekedar berislam, akan tetapi harus pada level beriman. Karena memang tidak sedikit orang yang mengaku Islam, tapi tidak menjalankan ibadah puasa.
Kegembiraan dan kebahagiaan pada hakikatnya bukan sekedar perasaan senang, perasaan berbunga-bunga, akan tetapi jauh dari itu. Kegembiraan dan kebahagiaan juga mengandung muatan cahaya, kelapangan, keleluasaan, dan harapan. Karena memang yang membuat orang bahagia, karena dia melihat ada harapan, ada keluasan dan bahkan cahaya yang terang benderang. Terlebih lagi bagi mereka yang berada dalam lorong yang gelap gulita, situasi yang serba sulit, harus meraba-raba, terasa sempit dan sesak, sering kali membuat terpuruk putus asa.
Namun, ketika ada secercah cahaya, meskipun mungkin sekadar siluet, maka harapan kembali muncul. Yang tadi terasa sempit dan sumpek, kemudian perlahan terasa terkembang dan meluas. Energi yang tadinya mungkin menurun, karena dilanda kepanikan dan putus asa, perlahan kembali lagi. Senyum akan terkembang, pikiran akan menjadi terbuka, langkah pun akan terasa ringan.
Tuhan sungguh maha tahu dan maha adil, ketika ia mensyariatkan ibadah yang “berat” kepada makhluk-Nya. Ia tidak ingin makhluknya frustrasi dengan beratnya ibadah yang Ia syariatkan. Lantas Ia mengimbangi dengan harapan agar makhluk menjalani syariat tersebut dengan rasa suka cita dan kegembiraan. Karena hanya dengan kegembiraan, semua hormon baik dalam tubuh manusia berkembang dan menstimulasi seseorang untuk melakukan tugas meskipun sebenarnya sukar (atau berat). Dengan demikian, kesulitan tidak lagi menjadi beban. Ia bertransformasi menjadi api spirit, yang membakar “lemak-lemak” apatisme, menjadi energi untuk menuntaskan tugas tersebut dengan penuh antusiasme.
Maka, meskipun puasa itu berat, tidak makan dan minum, menahan dan mengendalikan berbagai dorongan yang manusiawi, harus beribadah sebanyak-banyak di saat malam (qiyam lail, tadarus, i’tikaf), bangun dan makan sahur di seperempat malam, kemudian harus berbagi harta dengan infak, sedekah, dan zakat, namun seorang yang beriman dapat melewati semua tugas berat tersebut. Karena di balik semua kesulitan tersebut, ada kegembiraan, kebahagiaan, ada cahaya, ada harapan mereka kepada Tuhannya. Ada kompensasi yang tidak ternilai dibalik jerih payahnya, yang akan Tuhan anugerahkan kepada mereka.
Jika kita aktualisasikan nilai kegembiraan ini dalam konteks kehidupan sehari-hari di luar Ramadan, hemat penulis, nilai ini sangat relevan. Sesulit apapun tugas dan tanggung jawab profesi kita, sepanjang ada kegembiraan (f-r-h) maka siapapun insyallah akan siap menjalaninya. Namun sebaliknya, semudah apapun pula tugas dan tanggung jawab yang dipikul, sementara tidak ada rasa kegembiraan atau kebahagian memikulnya, maka kapas kering pun mungkin terasa memikul pasir basah. Maka tidak sedikit orang yang bekerja, frustrasi dengan pekerjaannya. Sudah dapat dipastikan, ketika tugas dan tanggung jawab dikerjakan secara apatis dan rasa tertekan, maka hasilnya pun tidak akan optimal.
Begitu juga dalam konteks hidup bernegara dan berbangsa. Rakyat akan sanggup memikul apapun kesulitan hidup, meskipun “segelap-gelapnya” kondisi, namun jika masih ada harapan, ada secercah cahaya, ada kegembiraan, maka rakyat akan kuat menjalaninya. Bahkan mungkin berjuang demi bangsa dan negara. Sebaliknya, jika kehidupan semakin suram, beban tuntutan hidup semakin berat, sementara cercah cahaya harapan tidak kunjung tampak, kemudian kegembiraan hidup juga sirna, maka cepat atau lambat rakyat akan mengalami frustrasi dan patah hati secara sosial. Orang-orang yang patah hati, sulit untuk percaya, sulit untuk setia, dan akan cepat kehilangan akal sehatnya. Mereka akan lebih mudah marah dan akan mudah pula bertindak di luar naluri manusiawinya.
Api spirit Ramadan akan menghidupkan cahaya harapan, kelapangan, dan kegembiraan. Satu api spirit yang memberkahi Indonesia yang makin ke sini, makin terasa gelap. Ini satu ibrah penting, Allah yang maha mengetahui dan maha adil, memberikan keseimbangan antara tugas berat dan guarantee kegembiraan (reward dan harapan). Sudah semestinya kita mengikuti jejak tersebut. Hendaknya di saat beban berat kita letakkan di pundak orang lain, hendaknya kita mesti sertakan secara seimbang reward dan harapan yang membuat mereka merasa terasa lapang, luas, dan gembira.
Demikian juga amanat kepada pemimpin negara, hendaknya membebani rakyat dengan beban kesulitan, hendaknya seimbang dengan cahaya harapan, yang membuat rakyat terasa lapang dadanya, luas pikirannya, dan merasa gembira. Tapi kalau hanya beban kesulitan yang terus ditimpakan, tanpa mampu menyemai kegembiraan, maka tinggal menunggu saja, frustrasi dan patah hati akan menemukan jalan amarahnya. *
Editor : A'an