SAMBAS – Angin kencang yang bersamaan dengan turunnya hujan pada Minggu (20/10) di sejumlah wilayah di Kabupaten Sambas, menyebabkan sejumlah baliho, gerobak jualan, lapak jual BBM bertumbangan. Atap bangunan milik sejumlah warga pun terbang tersapu angin kencang.
Khoirul misalnya, warga di Desa Saing Rambi menyampaikan jika sejumlah baliho di beberapa titik di sekitarnya, bertumbangan. Termasuk baliho milik pasangan calon bupati dan wakil bupati Sambas.
“Banyak baliho bertumbangan terkena angin kencang yang datang bersamaan dengan hujan yang turun pada Minggu (20/10) siang menjelang sore,” katanya.
Ada juga rumah warga yang atapnya terbang tersapu angin kencang. Hal sama juga disampaikan warga lainnya Amad, saat berkendara di sejumlah ruas jalan terdapat baliho yang tumbang akibat angin kencang.
“Tadi di sejumlah ruas jalan, baliho banyak yang bertumbangan,” katanya.
Risma, warga Sambas menyampaikan angin kencang yang terjadi, juga mengakibatkan atap rumah warga di Dusun Perigi Maram terbang. Sejumlah warga sekitar pun lantas membantu mengumpulkan puing puing atap yang bertaburan tak jauh dari rumah korban.
Anggota DPRD Kabupaten Sambas, Yakob Pujana mengharapkan kepada warga untuk meningkatkan kewaspadaan di saat seperti itu. Periksa kondisi bangunan rumah, terutama bagian atap. Jika alami kerusakan, bias segera dibetulkan agar tak sampai terjadi hal yang tak diinginkan.
“Akhir akhir ini, hujan yang turun terkadang disertai dengan angin kencang sehingga harus menjadi kewaspadaan bersama, untuk periksa bagian bagian rumah terutama atap,” katanya.
Tak hanya itu, memasuki waktu dengan curah hujan yang cukup tinggi, dia mengimbau untuk membersihkan saluran pembuangan air yang ada di sekitar rumahnya masing-masing. Diharapkan, selain menghindari genangan juga mencegah penyakit Demam Berdarah Dengue.
“Kalau banyak genangan air hujan, akan menjadi tempat berkembang biak nyamuk penyebab demam berdarah dengue. Jadi bersihkan saluran pembuatan air, parit di sekitar rumah masing-masing,” katanya.
Sementara itu, BMKG menyebutkan saat ini memasuki pancaroba. Dimana masa pancaroba merupakan peralihan musim, dimulai dari musim kemarau ke musim hujan maupun sebaliknya. Saat musim ini potensi cuaca ekstrim dapat terjadi.
Selama lima tahun terakhir, peningkatan frekuensi kejadian cuaca ekstrem diawali di September dan Oktober seiring peralihannya musim kemarau ke musim hujan, frekuensi kejadian cuaca ekstrem pun mengalami peningkatan. Diantaranya hujan dengan intensitas lebat, angin kencang dan angin puting beliung.(fah)
Editor : A'an