PONTIANAK POST – Hari terakhir tradisi Sembahyang Kubur pertama di tahun ini pada Jumat (4/4) di Kabupaten Sambas terpantau ramai, namun tetap khidmat. Kegiatan tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada arwah leluhur dan anggota keluarga yang telah meninggal dunia.
Tradisi ini umumnya dilakukan pada pagi hari. Warga datang beramai-ramai bersama anggota keluarga, membawa perlengkapan sembahyang, membersihkan area makam, dan memanjatkan doa.
“Jumat (4/4) menjadi hari terakhir pelaksanaan sembahyang kubur pertama tahun 2025. Bagi warga Tionghoa yang belum sempat, inilah saatnya untuk melakukannya,” ujar Yakob Pujana, tokoh masyarakat yang juga Anggota DPRD Kabupaten Sambas, Jumat (4/4).
Yakob menyebutkan, banyak warga memilih melaksanakan sembahyang kubur di pagi hari di kawasan pemakaman yang ada di wilayah Sempalai, Kecamatan Sebawi, Kabupaten Sambas.
Selain itu, tak sedikit warga Sambas yang kini berdomisili di luar Kalimantan Barat menyempatkan diri untuk pulang kampung demi mengikuti tradisi ini.
“Ini sudah menjadi tradisi turun-temurun. Warga akan mengunjungi makam orang tua atau leluhurnya untuk memberikan penghormatan dan mendoakan mereka,” jelas Yakob.
Sembahyang kubur ini merupakan yang pertama setelah perayaan Imlek. Tradisi ini dilakukan dua kali dalam setahun, dan pelaksanaan berikutnya dijadwalkan pada bulan Juli.
“Biasanya, momen ini juga dimanfaatkan untuk bertemu teman atau keluarga lainnya, karena banyak yang pulang ke Sambas,” tambahnya.
Pelaksanaan sembahyang kubur berlangsung selama 15 hari, yakni mulai 11 Maret hingga 4 April 2025. Tradisi ini memperlihatkan kuatnya nilai kekeluargaan dan penghormatan terhadap leluhur dalam budaya Tionghoa.
Salah satu warga yang melaksanakan tradisi ini adalah Budianto, warga Sambas yang kini sukses merantau di Jakarta. Ia pulang kampung khusus untuk melakukan sembahyang kubur.
“Saya pulang ke Sambas untuk pelaksanaan sembahyang kubur,” ujarnya. (fah)
Editor : Miftahul Khair