PONTIANAK POST - Di balik perbukitan hijau Kabupaten Sambas, tersembunyi sebuah danau yang memantulkan riwayat sejarah dan keindahan alam dalam satu tarikan napas. Danau Sebedang, yang airnya tenang, sudah ada sejak masa Kerajaan Sambas. Konon, tempat ini menjadi lokasi "pandian" atau pemandian keluarga bangsawan serta sumber air bersih masyarakat zaman dahulu.
Kini, Danau Sebedang menjelma menjadi salah satu ikon wisata unggulan di Kabupaten Sambas. Perubahan zaman tidak menghapus fungsinya sebagai sumber air, namun justru memperkaya makna keberadaannya. Air dari danau ini kini juga dimanfaatkan sebagai sumber air baku PDAM Sambas. Sebuah bukti bahwa warisan alam ini masih menjadi nadi kehidupan masyarakat.
Yang menarik, pengelolaan kawasan wisata Danau Sebedang berlangsung secara parsial oleh warga. Mereka menata lahan masing-masing untuk membuka warung makan, tempat bersantai, hingga penginapan sederhana, tentunya dengan izin dan pengawasan pemerintah daerah.
Salah satu titik destinasi yang kini menjadi sorotan adalah Kampong Laok. Terletak tepat di bibir danau, Kampong Laok hadir sebagai wajah baru destinasi yang tertata apik. Huruf besar berwarna kuning mencolok bertuliskan “KAMPONG LAOK” menjadi penanda kuat tempat ini. Di sekitarnya, lanskap alami dibiarkan berpadu dengan sentuhan kreativitas—pasir putih buatan, dermaga kecil, dan kursi-kursi beton modern menciptakan kesan estetis yang cocok untuk berfoto dan bersantai.
Tamu yang datang tak hanya disuguhi pemandangan danau dan perbukitan yang memesona, tapi juga ragam menu makanan dan minuman yang menggugah selera. Mulai dari olahan laut segar, masakan tradisional khas Melayu Sambas, hingga minuman dingin kekinian, semuanya tersedia. Beberapa pengelola bahkan menyediakan fasilitas karaoke dan panggung terbuka yang bisa digunakan untuk pentas seni, hiburan keluarga, hingga kegiatan komunitas.
Ketika akhir pekan tiba, kawasan ini ramai oleh pengunjung dari berbagai penjuru. Tak sedikit yang datang dari luar Kalimantan, bahkan wisatawan dari Kuching, Sarawak, Malaysia pun kerap mampir. Keberadaan jalan Trans Kalimantan melalui Border Aruk membuat jarak tempuh dari Kuching ke Sambas hanya sekitar tiga jam—menjadikan Danau Sebedang sebagai destinasi akhir pekan yang terjangkau dan menyenangkan.
Anak-anak berlarian di pasir putih, para orang tua duduk bersantai di bawah payung warna-warni, sementara di kejauhan, suara tawa dari wahana sepeda air berpadu dengan hembusan angin danau. Kampong Laok bukan hanya tempat wisata, tapi ruang kebersamaan yang dirajut oleh tangan-tangan masyarakat sendiri.
Dalam sunyi sore yang menyejukkan, Kampong Laok seolah berbisik: bahwa dari tempat yang sederhana, bisa tumbuh keindahan dan harapan yang luar biasa. Danau Sebedang, melalui wajah barunya ini, kembali membuktikan bahwa ia bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga anugerah yang terus hidup bersama masyarakat Sambas. (fah)
Editor : Miftahul Khair