PONTIANAK POST - Sejumlah warga di daerah perbatasan Indonesia- Malaysia keluhkan kurangnya sinyal provider. Bahkan, bukan saja menyulitkan warga berkomunikasi, kondisi ini juga dialami di beberapa bangunan publik, termasuk sekolah.
“Bukan saja rumah warga, tempat kami juga ada sekolah, termasuk kantor pemerintah, dan sampai sekarang susah sinyal kalau menggunakan kartu provider,” kata Erawati, warga Desa Senatab, Kecamatan Sajingan Besar.
Menurutnya, kondisi susah sinyal bukan terjadi di semua tempat. Namun beberapa titik, wilayah dusun, RT maupun kampung. Sehingga masyarakat banyak yang mengeluhkan.
“Zaman sekarang handphone di setiap rumah hampir mayoritas ada yang memiliki, namun barang itu menjadi tak bisa digunakan sebagaimana fungsinya, yakni untuk komunikasi karena sinyal provider tak ada,” katanya.
Padahal, komunikasi yang cepat sangat diperlukan masyarakat, untuk mempermudah urusan. Termasuk dalam mendukung kegiatan perekonomian.
“Kalau kami banyak warga memiliki kebun, yang biasanya dalam menjual hasil panen, harus berkomunikasi dengan calon pembeli, sehingga karena di rumah tak ada sinyal, terpaksa harus ke titik atau tempat tertentu yang ada sinyal agar bisa berkomunikasi,” katanya.
Dirinya sebagai masyarakat yang berada di daerah perbatasan negara, sangat mengharapkan sentuhan pemerintah, agar bisa segera mencarikan solusi atas permasalahan tersebut. “Kami sangat berharap, adanya pembangunan tower provider, sehingga daerah kami bisa berkomunikasi menggunakan HP dengan mudah,” katanya.
Hal sama juga dialami sejumlah warga di wilayah Sinjan Dusun Sungai Tengah Desa Sebubus Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas. Kampung ini merupakan dusun yang berbatasan dengan Asuansang Kecamatan Sajingan Besar. Mayoritas warga setempat bermata pencaharian petani maupun pekebun. Daerah ini berada di lintasan jalan penghubung bagi warga yang akan atau dari kawasan wisata pantai di daerah Temajuk via Sajingan Besar.
Listrik dari PLN di Sinjan sudah sepenuhnya dinikmati warga. Namun sarana komunikasi, seperti sinyal atau internet, agak susah dilakukan melalui HP. Sejumlah kartu provider tak dengan mudah mendapatkan sinyal. “Susah sinyal, ada tapi di beberapa titik atau lokasi. Salah satunya di wilayah bukit di Sinjan,” kata Nasrullah.
Di bukit tersebutlah, katanya, menjadi tempat favorit sejumlah warga terutama muda mudi berkumpul. Bukan karena ada cafe atau warung kopi, melainkan di lokasi itulah mereka bisa memperoleh sinyal untuk menggunakan HP nya untuk berselancar di media sosial atau berkomunikasi.
“Biasanya pada malam hari, ada saja warga berkumpul di tempat itu, di tepian jalan yang kondisinya gelap. Karena disitulah mereka bisa menikmati sinyal,” katanya.
Aktivitas ini, seakan menjadi tradisi atau kegiatan baru jika dirumah tak memasang wifi. “Kalau dirumah tak ada wifi, mereka yang mengandalkan paket data dari provider seluler, pasti akan ke bukit Sinjan,” katanya.
Anggota DPRD Kabupaten Sambas Yakob Pujana berharap kepada pihak provider, terutama provider layanan telekomunikasi dan internet milik pemerintah Indonesia. Bisa memberikan solusi atas apa yang menjadi keluhan masyarakat di daerah perbatasan.
“Bagaimanapun, kemajuan teknologi harus dirasakan seluruh bangsa Indonesia, jadi apa yang dikeluhkan warga harus menjadi perhatian pihak terkait, jangan sampai masyarakat yang berada di daerah perbatasan negara ini, tak bisa menikmati kemajuan informasi dan teknologi,” katanya.
Terlebih, banyak tempat wisata menarik di daerah perbatasan terutama di Kecamatan Paloh, yang bisa dikunjungi. Namun karena alasan kurangnya sinyal, membuat pengunjung urungkan niatnya datang ke tempat tersebut.
“Lancarnya komunikasi dengan handphone juga akan mendukung kemajuan kepariwisataan, karena warga yang berekreasi, juga harus tetap menjalin komunikasi dengan yang lain, atau masih harus menyelesaikan pekerjaan yang itu memerlukan sinyal,” katanya. (fah)
Editor : Hanif