Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Dinkes Sambas Ingatkan Risiko Dehidrasi dan Heatstroke Saat Cuaca Panas

Fahrozi PP • Senin, 13 Juli 2026 | 22:45 WIB
dr Ganjar Eko Prabowo
dr Ganjar Eko Prabowo

 

PONTIANAK POST - Cuaca panas yang melanda Kabupaten Sambas tidak hanya meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga memicu berbagai gangguan kesehatan. Dinas Kesehatan Sambas mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai risiko dehidrasi, heatstroke, iritasi kulit, migrain, hingga demam tinggi di tengah meningkatnya suhu udara.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, dr. Ganjar Eko Prabowo, mengatakan paparan cuaca panas dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan. Kondisi tersebut ditandai dengan kelelahan, kulit kering, serta warna urine yang lebih pekat sebagai gejala awal dehidrasi.

Baca Juga: BPBD Kayong Utara Waspadai Karhutla saat Musim Kemarau, Water Bombing Dikerahkan di Wilayah Rawan Titik Panas

Cuaca Panas Picu Berbagai Gangguan Kesehatan

Selain dehidrasi, dr. Ganjar menjelaskan paparan sinar matahari dan polusi berlebih juga dapat memicu sakit kepala sebelah atau migrain.

Cuaca panas juga berpotensi menyebabkan panas dalam, terutama apabila diperburuk oleh pola makan yang kurang tepat, seperti terlalu banyak mengonsumsi makanan berminyak dan pedas.

"Selain itu, demam tinggi juga bisa mengancam, ini akibat paparan sinar matahari, sehingga menyebabkan suhu tubuh meningkat," kata dr. Ganjar, Senin (13/7).

Ia mengimbau masyarakat tetap tenang dengan memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi aktivitas di luar ruangan saat cuaca sedang terik, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan akibat cuaca panas.

Baca Juga: BMKG: Kemarau Panjang Ancam Lebih dari 80 Persen Wilayah Indonesia, Petani Diminta Segera Beradaptasi

BMKG Prediksi Puncak Kemarau Terjadi Agustus–September

Sementara itu, Kalimantan Barat diperkirakan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus hingga September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan serta krisis air bersih di sejumlah wilayah.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan sebagian wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Barat, mulai memasuki musim kemarau sejak Juni. Kondisi itu menjadi fase awal menuju periode paling kritis yang diperkirakan berlangsung dalam dua hingga tiga bulan mendatang.

"Musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal," ujarnya dalam konferensi pers perkembangan musim kemarau 2026.

El Nino Diperkirakan Bertahan Hingga Awal 2027

Menurut BMKG, kondisi musim kemarau yang lebih panjang dipengaruhi oleh peluang bertahannya fenomena El Nino hingga awal 2027 dengan intensitas moderat hingga kuat.

Fenomena tersebut dapat mengurangi pembentukan awan hujan dan memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah Indonesia.

Baca Juga: Jadi Daerah dengan Titik Panas Tertinggi Kedua di Indonesia, BMKG Catat 478 Hotspot di Kalbar hingga Awal Juni 2026

Berdasarkan Prediksi Musim Kemarau 2026 yang diperbarui BMKG pada Juni 2026, sebanyak 482 Zona Musim (ZOM) atau 56,18 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami sifat musim bawah normal, yang berarti curah hujan lebih rendah dibandingkan kondisi klimatologisnya.

BMKG juga memprakirakan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia terjadi pada Agustus 2026, dengan durasi musim kemarau cenderung lebih panjang dari biasanya.

Kondisi tersebut turut mencakup sebagian wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Barat, yang diprediksi mengalami musim kemarau lebih kering sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan.(fah)

Editor : Uray Ronald
musim kemarau 2026 dinas kesehatan sambas Heatstroke cuaca panas dehidrasi