PONTIANAK POST – Cuaca panas yang berkepanjangan mulai mengkhawatirkan petani padi di Kabupaten Sambas. Kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu pertumbuhan tanaman hingga memicu gagal panen, terutama pada sawah yang belum terjangkau jaringan irigasi.
Petani Desa Lonam, Kecamatan Pemangkat, Uray Medi, mengatakan sawah yang terhubung dengan saluran atau pompa irigasi masih dapat memenuhi kebutuhan air. Namun, petani yang lahannya belum terjangkau irigasi mulai waswas karena sangat bergantung pada hujan.
"Kalau sawah kami ada tercapai oleh saluran atau jaringan pompa air yang ada, sehingga akan aman untuk memenuhi kebutuhan air. Hanya saja beberapa petani yang sawahnya tidak terjangkau oleh pipa pompa air irigasi, mereka harap-harap cemas mengenai pertumbuhan padinya," katanya.
Baca Juga: Pemkab Kubu Raya Ajukan Revisi Luas Baku Sawah, Data Pusat Dinilai Tak Sesuai Kondisi di Lapangan
Menurut Uray Medi, sebagian petani baru memasuki musim tanam, sementara lainnya telah memasuki fase pembentukan bulir padi sehingga membutuhkan pasokan air yang cukup.
"Kalau kondisi cuaca panas ini masih terus terjadi, mereka khawatir nantinya bisa mengganggu pertumbuhan dan paling buruknya adalah gagal panen," ujarnya.
Kekhawatiran serupa sebelumnya disampaikan petani di Kecamatan Salatiga. Heri, petani di Desa Serunai, menilai cuaca panas dan minim hujan dapat menghambat pertumbuhan tanaman serta meningkatkan serangan hama.
"Yang jelas adalah pertumbuhan padi terhambat karena kekurangan air. Kemudian serangan hama akan meningkat jika kondisi cuaca seperti sekarang ini," katanya.
Baca Juga: PKS Kabupaten Sambas Tegaskan Kader Wajib Menangkan Fahrur Rofi–Sabib di Pilkada 2024
Ia menambahkan, jika kondisi tersebut terus berlanjut, potensi gagal panen akan semakin besar. Menurutnya, meski terdapat jaringan irigasi, masih banyak sawah yang belum terjangkau sehingga petani tetap bergantung pada air hujan.
"Kalau di tempat kami, untuk menaikkan air dari sungai sangat sulit, diperlukan robin agar air bisa naik dan dialirkan ke sawah-sawah," pungkasnya. (fah)
Editor : Miftakhair