PONTIANAK POST - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti Kabupaten Sambas, Senin (7/9). Berdasarkan pemantauan kualitas udara Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), ISPU di stasiun Kabupaten Sambas, Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, tercatat 174 atau masuk kategori tidak sehat, dengan parameter kritis PM2.5.
Data pemantauan pada 7 September 2026 pukul 01.00 WIB itu mencatat konsentrasi PM2.5 selama 24 jam dengan nilai maksimum 174, minimum 151, dan rata-rata 165.
Kondisi kabut juga tercermin dari pantauan BMKG di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pemangkat. Pada Senin (7/9) pukul 00.00 WIB, BMKG mencatat kondisi udara kabur dengan jarak pandang 2 kilometer. Pada pukul 01.00 WIB, jarak pandang masih 2 kilometer, sebelum pada pukul 02.00 WIB berubah menjadi berawan tebal dengan jarak pandang 10 kilometer.
Baca Juga: Kemarau Panjang di Sambas, Sumur Mengering dan Warga Mulai Beli Air Rp50 Ribu per 500 Liter
Pekatnya kabut asap mulai dirasakan masyarakat dan berdampak terhadap sejumlah sektor, mulai dari pertanian, kegiatan ekonomi, pendidikan, hingga kesehatan.
Di sektor pertanian, kabut asap tebal menghalangi sinar matahari yang dibutuhkan tanaman. Sukiman, petani Desa Semparuk, mengatakan kondisi tersebut membuat dirinya khawatir terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil panen.
“Adanya kabut asap, sinar matahari yang diperlukan untuk proses pertumbuhan maupun perkembangan tanaman jadi terhalang. Hal ini bisa mengganggu hasil panen mendatang,” kata Sukiman.
Dampak kabut asap juga dirasakan pelaku usaha kecil atau UKM. Sejumlah event yang biasanya menjadi ajang berjualan terpaksa ditunda. Salah satunya Car Free Day (CFD) di Sambas yang sudah dua minggu tidak dilaksanakan karena hasil pemantauan kualitas udara menunjukkan kondisi tidak sehat.
“Gara gara kabut asap, CFD sudah dua minggu ditunda, banyak kendala karena kabut asap, semoga selalu ada jalan rezekinya,” kata Ara, salah satu pedagang yang berjualan di ajang CFD Sambas.
Baca Juga: Kapuas Hulu Nihil Hotspot Karhutla, Satgas Diingatkan Jangan Lengah di Tengah Musim Kemarau
Di bidang pendidikan, kuatnya kabut asap juga membuat pembelajaran tatap muka di sekolah ditiadakan dan diganti dengan Belajar dari Rumah (BDR) atau daring. Menurut Ina, kebijakan tersebut sudah tiga kali diterapkan di sekolah anaknya.
“Sekolah diliburkan, jadi belajar dari rumah. Ini sudah kali ketiga diterapkan di sekolah anak kami,” kata Ina.
Dampak kabut asap juga dirasakan di bidang kesehatan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, hingga 12 Agustus 2026 tercatat 1.098 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada semua kelompok umur. (fah)
Editor : Hanif